Marak Narasi "I Am Jane Doe" di Medsos di Tengah Kasus Dugaan Kekerasan Seksual Cornell University, Apa Itu?

Nadya Quamila | Beautynesia
Selasa, 06 Oct 2026 10:00 WIB
Gerakan I Am Jane Doe di Media Sosial
Gerakan I Am Jane Doe di Media Sosial/Foto: Pexels.com

Beauties, jika kamu membuka media sosial, belakangan ini kasus dugaan kekerasan seksual di Cornell University sedang hangat diperbincangkan. Aksi kekerasan seksual ini diduga dilakukan oleh sejumlah anggota persaudaraan mahasiswa (fraternity) di Cornell University, yang akrab disebut Chi Phi.

Hal ini terungkap setelah seorang mantan mahasiswa mengajukan gugatan terhadap kampus dan sejumlah pihak terkait. Menurut The Cornell Daily Sun, peristiwa tersebut terjadi pada Oktober 2024. Dua tahun kemudian, kasus ini kembali mencuat setelah penggugat yang menggunakan nama Jane Doe (nama fiktif atau samaran yang digunakan untuk perempuan yang identitasnya tidak diketahui atau sengaja dirahasiakan) membawa perkara tersebut ke pengadilan sipil.

Bersamaan dengan ramainya perbincangan soal kasus ini, muncul sebuah gerakan bernama "I Am Jane Doe" di media sosial. Gerakan ini rupanya bertujuan melindungi identitas mantan mahasiswi Universitas Cornell yang mengaku telah menjadi korban kekerasan seksual oleh tujuh anggota organisasi mahasiswa Chi Phi, Beauties.

Dilansir dari Mashable, gerakan ini menjadi viral setelah komentator politik Michael Tracey secara terbuka meminta informasi untuk mengungkap identitas perempuan yang mengajukan gugatan perdata menggunakan nama samaran (Jane Doe).

"Mari kita lihat apakah ada yang punya 'nyali' untuk mengungkap identitas Jane Doe ini agar kita semua bisa menilai kredibilitasnya-serta kredibilitas para pengacaranya-mengingat gugatannya tidak segan-segan menyebut nama dan mempermalukan tujuh rekannya dengan tuduhan pemerkosaan berkelompok," tulis Tracey di media sosialnya pada Senin (28/9). 

Gerakan I Am Jane Doe di Media Sosial

Instagram bukan satu-satunya media sosial yang digunakan Gen Z untuk berinteraksi dan mencari hiburan. Ada beberapa aplikasi yang kini menjadi favorit Gen Z, mulai dari Lemon8, Pinterest, hingga Snapchat.

Gerakan I Am Jane Doe di Media Sosial/Foto: Pexels.com

Tulisan Tracey tersebut langsung menuai kritik tajam dari netizen di media sosial, Beauties. Banyak pihak menginginkan agar identitas korban tetap dirahasiakan. Mereka menolak anggapan bahwa pengungkapan tuduhan ke hadapan publik harus dibarengi dengan pembukaan kehidupan pribadi perempuan tersebut untuk disorot.

Sebagai bentuk solidaritas dan upaya untuk melindungi identitas Jane Doe dalam kasus Cornell University, banyak netizen akhirnya menggunakan kalimat atau tagar "I Am Jane Doe".

"Kalau kamu melihat seorang perempuan muncul di sini dan mengaku sebagai Jane Doe, dialah Jane Doe. Mereka berusaha melakukan doxxing terhadap Jane Doe. Akulah Jane Doe," bunyi cuitan seorang netizen.

Di media sosial Threads, netizen yang menggunakan kalimat "I Am Jane Doe" ikut menyertakan nama asli mereka sendiri daan mengajak netizen lain untuk melakukan hal serupa sebagai bentuk solidaritas kepada korban. Sementara itu di TikTok, para perempuan menampilkan tulisan "I Am Jane Doe" sembari membagikan pengalaman pribadi mereka terkait kekerasan seksual.

Dalam sebuah utas Reddit, para pengguna berpartisipasi dalam gerakan "I Am Jane Doe" dengan cara lain: mereka sengaja memberikan nama-nama palsu. Harapannya adalah agar mesin pencari dan AI menangkap unggahan-unggahan itu, sehingga menampilkan beragam identitas yang saling bertentangan bagi siapa pun yang mencari sosok korban.

Menurut Katy Jacobson, seorang warga San Diego yang pernah mengalami kekerasan seksual semasa kuliah, mengatakan bahwa gerakan ini dapat membantu para penyintas kekerasan seksual merasa tidak sendirian.

"Karena sering kali Anda merasa seolah-olah terisolasi," ujar Jacobson kepada Reuters. 

Sejak korban mengajukan gugatannya terhadap ujuh anggota organisasi mahasiswa Chi Phi, banyak orang berupaya mencari tahu dan menyebarluaskan identitasnya secara daring. Menurut pengacara korban, Thomas Giuffra, hal tersebut dilakukan untuk memperlakukan korban.

"Kondisinya [korban] sedang tidak baik," ujar Giuffra kepada CNN. "Dia terus-menerus diserang di media sosial."

Untuk mengetahui kronologi dan perkembangan kasus soal dugaan kekerasan seksual di Cornell University, bisa baca DI SINI.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.