Membedah Pesan dari Visual Ladang Tebu Bad Bunny di Panggung Super Bowl
Lebih dari dua pekan berlalu, aksi panggung Bad Bunny di Super Bowl LX Halftime Show pada 8 Februari 2026 di Levi's Stadium, California masih menyisakan kesan yang luar biasa. Chicago Sun Times bahkan melaporkan bahwa halftime show ini menjadi salah satu yang paling banyak ditonton dalam sejarah Super Bowl.
Bukan sekadar konser biasa. Dari awal kemunculannya di depan kamera, ribuan penonton disuguhi atraksi visual yang benar-benar out of the box. Salah satu yang masih banyak dibahas adalah pemandangan perkebunan tebu khas Puerto Rico di awal pertunjukan, yang disebut sebagai refleksi asal budaya dan realitas Puerto Rico. Memang apa yang menarik dari bagian ini? Berikut penjelasannya!
Apa yang Terjadi dengan Ladang Tebu Puerto Rico?
Ilustrasi Ladang Tebu/Foto: Freepik.com/wirestock
Visual ladang tebu di pembukaan show memang “lain daripada yang lain”. Namun The Conversation menyebutkan bahwa latar panggung ini bukan sekedar dekorasi, melainkan gambaran kehidupan jíbaros atau petani tradisional Puerto Rico, di mana tanaman tebu yang dulunya merupakan komoditas utama.
Dari abad ke-16, perkebunan tebu di Karibia termasuk Puerto Rico adalah komoditas utama dari ekonomi kolonial karena permintaan gula yang tinggi di Eropa dan Amerika. Namun ketika bangsa Eropa mulai menanam tebu di wilayah Hindia Barat, melansir Democracy at Work, masalah mulai muncul.
Di Puerto Rico, tanah yang subur di dataran rendah pesisir diubah menjadi lahan perkebunan besar untuk tebu yang diekspor ke pasar global. Sebelum abad ke-19, ketika produksi gula sudah menjadi komoditas eksport utama, eksploitasi mulai tumbuh subur.
Pemilik tanah besar (hacendados) menempatkan budak dan pekerja wajib di ladang, sementara penduduk lokal yang kecil pun kehilangan hak atas tanah mereka dan berubah menjadi buruh harian yang tergantung pada sistem perkebunan. Kebanyakan pekerja ini berasal dari kalangan masyarakat adat dan orang-orang Afrika yang diperbudak.
Pendekatan kolonial dan hukum tenaga kerja seperti “Reglamento de Jornaleros” (1849) memperparah ketidakadilan tersebut. Undang-undang ini memaksa petani kecil (jíbaros) yang tidak memiliki sertifikat kepemilikan tanah untuk menjadi buruh perkebunan, karena tanpa pembuktian lahan mereka tidak memiliki status yang diakui secara hukum dan bisa ditahan jika tidak menunjukkan pekerjaan pada tuan tanah tertentu.
Selama era kolonial Spanyol sampai setelah perbudakan berakhir pada 1873, struktur ini menciptakan kesenjangan sosial dan ekonomi yang tajam. Buruh dipaksa bekerja dengan kondisi hidup dan kerja yang buruk. Bahkan setelah perbudakan resmi dihapuskan, bentuk-bentuk lain dari kontrol kerja tetap ada dan sering masih melingkupi kekuatan ekonomi para pemilik perkebunan.
Cerminan Realitas dalam Set Panggung
Penampilan Bad Bunny di Halftime Show Super Bowl/Foto: Tangkap Layar YouTube NFL
Bad Bunny tampak benar-benar total menampilkan realitas yang terjadi pada masa itu. Bukan sekedar menampilkan hamparan tanaman tebu, dia juga menempatkan berbagai elemen keseharian. Dalam penampilannya yang saat ini masih bisa dilihat di channel YouTube NFL, penonton bisa melihat kios piragua, gerobak kelapa, hingga representasi kehidupan warga Puerto Rico, di mana semuanya ditempatkan dalam lanskap perkebunan tebu.
Melansir Stagg Online, konsep ini menciptakan kesan bahwa pertunjukan bukan hanya musik, tetapi juga cerita tentang komunitas, tradisi, dan kehidupan agraris yang sering kali terpinggirkan dalam media hiburan mainstream. Melansir Forbes, dia bahkan menghadirkan Toñita Cay, yaitu pemilik salah satu klub sosial Puerto Rico terakhir yang masih beroperasi di Brooklyn’s Caribbean Social Club di New York.
Eksploitasi Ladang Tebu Kini Juga Mengancam Indonesia
Ilustrasi Ladang Tebu/Foto: Freepik.com/wirestock
Konsep ladang tebu Bad Bunny ternyata bukan hanya sekedar gambaran sejarah, tapi juga menjadi isu yang sangat relevan dengan kondisi global, bahkan hingga saat ini. Secara historis, perkebunan tebu besar di berbagai belahan dunia hari ini punya dampak sosial dan ekologis yang signifikan.
Di Indonesia misalnya, pengembangan perkebunan tebu dalam skala raksasa telah menuai kekhawatiran dari kelompok lingkungan seperti Greenpeace karena berpotensi menyebabkan deforestasi besar-besaran, ancaman terhadap keanekaragaman hayati, dan konflik atas wilayah adat yang telah diwariskan turun-temurun kepada komunitas lokal.
Proyek perkebunan tebu besar bernama Proyek Strategis Nasional (PSN) di wilayah seperti Merauke, Papua, menyasar ratusan ribu hektare lahan yang meliputi hutan alam, sabana, dan lahan basah, yang berisiko hilang demi produksi bioetanol dan pemasokan gula industri. Berdasarkan laporan Greenpeace Indonesia, saat ini ada konsesi 10 perusahaan seluas Pulau Bali (sekitar 560.000 ha) di kawasan Merauke yang ditetapkan sebagai lokasi proyek tebu raksasa.
Padahal, pada Oktober 2025 saja, konsesi dua perusahaan telah memicu deforestasi hingga 13.000 hektar. Pembukaan lahan ini, jika diteruskan, dapat menimbulkan deforestasi luas, konflik atas tanah adat, dan kerusakan ekosistem unik, sementara masyarakat adat setempat menghadapi ancaman terhadap mata pencaharian dan budaya mereka.
Respon Masyarakat Adat
Masyarakat Adat Papua Lakukan Protes/Foto: Detikcom
Walau perkebunan tebu sering diklaim sebagai sumber energi terbarukan atau ketahanan pangan, bukti di lapangan menunjukkan bahwa konversi dari hutan alami ke lahan monokultur tebu bisa berdampak buruk pada iklim, keanekaragaman hayati, dan kehidupan komunitas lokal. Ini menunjukkan adanya kontradiksi antara narasi industrial besar dan realitas sosial-ekologis di wilayah agraris.
Menyadari hal ini, masyarakat adat berusaha menempuh berbagai upaya untuk menolak proyek tersebut. Sebagaimana dilaporkan Greenpeace, mereka sudah berusaha melalukan aksi damai, bahkan telah mengajukan judicial reviews ke Mahkamah Agung agar aktivitas PSN ini bisa dikaji ulang demi menghindari kerusakan lingkungan yang lebih parah.
Jangan Sampai Sejarah Kelam Berulang
Saatnya Menyelamatkan Lingkungan/Foto: Freepik.com/rawpixel.com
Dengan membawa visual perkebunan tebu ke panggung terbesar live entertainment dunia, Bad Bunny tak hanya menampilkan seni pertunjukan, namun juga menempatkan simbol budaya historis ke spotlight global. Ini membuka ruang diskusi tentang apa arti lahirnya industri tebu dalam konteks sejarah, budaya, lingkungan, dan sosial masa kini.
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!