Mengapa Krisis Iklim Juga Menjadi Isu Kesetaraan Gender? Ini Penjelasannya

Candra Anisa | Beautynesia
Rabu, 04 Nov 2026 18:00 WIB
Apa yang harus dilakukan?
Apa yang harus dilakukan?/Foto: Pexels/Markus Spiske

Beauties, tak dapat dipungkiri bahwa krisis iklim menyebabkan dampak besar terhadap keberlangsungan hidup manusia. Krisis iklim dapat memicu cuaca ekstrem yang menjadi salah satu faktor terjadinya bencana alam hingga kerusakan ekosistem. Tidak hanya merasakan dampak secara langsung berupa ancaman terhadap keselamatan, masyarakat juga menghadapi dampak sosial dan ekonomi akibat krisis iklim.

Namun, dampak yang dirasakan akan berbeda, tergantung pada tingkat kerentanan tiap lapisan masyarakat. Kalangan masyarakat menengah ke bawah, misalnya, akan merasakan dampak yang lebih parah akibat naiknya biaya hidup, kerugian ekonomi, serta keterpaksaan untuk mengungsi.

Sementara itu, perempuan juga menghadapi situasi yang lebih sulit akibat beban domestik yang dibebankan kepada mereka. Perempuan juga memiliki risiko lebih tinggi terhadap gangguan kesehatan, ancaman keselamatan, dan masalah kesehatan reproduksi di tengah terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan dan sumber daya ekonomi akibat krisis iklim.

Dengan begitu, persoalannya bukan sekadar bagaimana krisis iklim berdampak pada kehidupan manusia, tetapi juga bagaimana ketimpangan gender membuat perempuan menghadapi risiko dan tantangan yang berbeda. Lalu, mengapa krisis iklim juga perlu dipandang sebagai isu kesetaraan gender?

Kerentanan Bahan Pangan Hingga Kemiskinan

Ketergantungan Perempuan Pada Sumber Daya Alam/Foto: Magnific.com

Menurut catatan UN Women, pada 2050 krisis iklim diproyeksikan mengakibatkan 158 juta perempuan jatuh ke dalam kemiskinan, atau 16 juta lebih banyak daripada jumlah pria yang diproyeksikan mengalami kondisi serupa. Proyeksi ini menunjukkan bagaimana krisis iklim dapat memperburuk kondisi ekonomi perempuan, terutama mereka yang menggantungkan keberlangsungan hidupnya pada hasil alam.

Mayoritas perempuan, terutama yang tinggal di daerah pedesaan, menyambung hidup dari hasil panen sawah dan perkebunan, baik sebagai mata pencaharian maupun sumber bahan pangan. Di Indonesia, berdasarkan temuan Komnas Perempuan pada 2019, alih fungsi lahan di Papua mengakibatkan perempuan kehilangan pekerjaan layak dan memaksa mereka beralih pekerjaan tanpa pengetahuan yang memadai tentang risiko pekerjaan yang dihadapi. Sementara itu, dalam bencana banjir rob di Demak pada 2017, perempuan menghadapi situasi ekonomi yang memburuk akibat hasil panen dan tambak yang hanyut.

Selain itu karena beban domestik juga utamanya ditekankan pada perempuan, mereka menjadi sangat bergantung pada sumber daya alam. Saat krisis iklim mengakibatkan kelangkaan sumber daya alam, perempuan terpaksa menempuh jarak lebih jauh dengan resiko lebih tinggi untuk mengumpulkan bahan pangan, air, dan kebutuhan dasar lainnya. Akibatnya, krisis iklim tidak hanya mengancam sumber penghidupan perempuan, tetapi juga menambah beban yang harus mereka tanggung.

Resiko Kekerasan, Ancaman Keselamatan, dan Kesehatan Perempuan

Resiko Kekerasan, Ancaman Keselamatan, dan Kesehatan Perempuan/Foto: UN MINUSTAH/Logan Abassi

Ketegangan sosial dan ekonomi akibat krisis iklim juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kekerasan, Beauties. Berdasarkan data dari UN Women, peningkatan suhu global dapat mendorong naiknya tingkat stres individu yang turut berkontribusi terhadap meningkatnya kasus kekerasan, termasuk kekerasan dalam rumah tangga. Bahkan, angka femisida dilaporkan meningkat sebesar 28% selama gelombang panas.

Komnas Perempuan berdasarkan data UNESCO pada tahun 2016 juga menyoroti bagaimana migrasi akibat krisis iklim dapat meningkatkan risiko perdagangan seksual, serta risiko pemerkosaan ketika perempuan harus mencari air dan kayu bakar.

Selain ancaman kekerasan, perempuan juga rentan mengalami gangguan kesehatan selama krisis iklim. Beban domestik dan peran reproduksi sosial, seperti merawat anggota keluarga, turut memperbesar risiko kesehatan perempuan, baik secara fisik maupun psikis.

Ketika pendapatan berkurang, perempuan juga harus mengupayakan penghematan sekaligus mencari sumber nafkah lain, yang dapat menambah beban pikiran dan tekanan psikologis. Situasi ini semakin diperparah oleh sulitnya akses terhadap air bersih dan fasilitas kesehatan. Perempuan harus memikirkan keberlangsungan hidup keluarganya di tengah keterbatasan tersebut, terutama ketika mereka sedang hamil dan membutuhkan perawatan kesehatan yang memadai.

Kerentanan Perempuan dan Ketidaksetaraan Gender

Kerentanan Perempuan dalam Krisis Iklim/Foto: UN Women/Mohammad Rakibul Hasan

Beban berlapis beserta berbagai risiko yang dihadapi perempuan menempatkan mereka dalam posisi yang lebih rentan jika dilihat dari perspektif gender. Ketidaksetaraan gender yang mengakar di masyarakat membuat perempuan diharapkan untuk memenuhi ekspektasi sosial berdasarkan peran gender tradisional, yaitu memikul beban domestik dan reproduksi sosial.

Sementara itu, krisis iklim yang mengakibatkan sulitnya akses terhadap sumber daya alam, bahan pangan, dan kebutuhan dasar, hingga terpuruknya perekonomian, membuat perempuan harus mencari sumber penghidupan lain di luar pekerjaan domestik yang tetap menjadi tanggung jawab mereka.

Risiko kekerasan terhadap perempuan juga berakar pada ketidaksetaraan relasi kuasa antara perempuan dan pria. Posisi perempuan yang cenderung memiliki kuasa lebih rendah daripada pria turut mendorong pembenaran dan normalisasi tindak kekerasan berbasis gender.

Situasi ini semakin diperparah oleh kurangnya representasi perempuan dalam pengambilan keputusan terkait penanganan krisis iklim. Persepsi patriarkal yang menempatkan pria sebagai pemegang otoritas dan pembuat kebijakan dapat membatasi keterlibatan perempuan dalam menentukan kebijakan yang turut memengaruhi keselamatan dan keberlangsungan hidup mereka.

Dengan demikian, kerentanan perempuan dalam situasi krisis iklim bukan hanya berkaitan dengan faktor biologis yang membedakan kondisi mereka dari kelompok gender lainnya. Ketidaksetaraan turut menempatkan perempuan dalam beban berlapis yang semakin merugikan mereka ketika krisis iklim terjadi. Krisis iklim pun tidak dapat dipandang sebagai fenomena yang netral gender. Oleh karena itu, pembahasan mengenai krisis iklim juga perlu melibatkan perspektif perempuan dan kesetaraan gender.

Apa yang harus dilakukan?

Mengenal Ekofeminisme, Gerakan yang Menyatukan Perjuangan Isu Perempuan dan Lingkungan/Foto: Pexels/Markus Spiske

Apa yang harus dilakukan?/Foto: Pexels/Markus Spiske

Meta description: Komnas Perempuan merekomendasikan kebijakan responsif gender, perlindungan korban kekerasan, dan pelibatan perempuan dalam penanganan krisis iklim.

Lantas, upaya apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi kerentanan perempuan dalam menghadapi krisis iklim?

Komnas Perempuan merekomendasikan sejumlah langkah, mulai dari penyusunan kebijakan dan alokasi anggaran yang responsif gender, penguatan akses terhadap layanan perlindungan korban kekerasan, hingga peningkatan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan terkait penanganan krisis iklim. Selain itu, dukungan terhadap akses sumber daya, teknologi, pelatihan, dan pengembangan mata pencaharian juga diperlukan untuk membantu perempuan beradaptasi dengan perubahan iklim.

Berbagai upaya tersebut perlu melibatkan kerja sama antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat agar kebutuhan perempuan serta kelompok rentan dapat terakomodasi. Dengan demikian, penanganan krisis iklim tidak cukup hanya berfokus pada upaya mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga harus mempertimbangkan ketimpangan gender yang membuat perempuan menghadapi risiko dan beban yang berbeda.

Bagaimana menurutmu, Beauties?

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE