Mengapa Sering Merasa Bersalah saat Istirahat? Ini Penjelasannya

Adira P | Beautynesia
Jumat, 29 May 2026 18:00 WIB
Budaya Hustle yang Sudah Meresap Tanpa Disadari
Mengapa Sering Merasa Bersalah saat Istirahat? Ini Penjelasannya/Foto: pexels.com/cottonbro

Akhir pekan akhirnya tiba setelah seminggu penuh berkutat dengan tugas kuliah atau tumpukan pekerjaan kantor. Kamu memutuskan untuk meluruskan kaki di sofa sambil menonton serial favorit yang sudah lama masuk daftar putar.

Skenarionya terdengar sempurna, bukan? Sayangnya, baru sepuluh menit berjalan, tiba-tiba muncul suara-suara kecil di dalam kepala yang mulai berbisik, "Harusnya aku mencicil tugas minggu depan sekarang," atau "Kenapa aku malas sekali, ya?" Padahal, kondisi fisik dan mentalmu memang sedang sangat lelah, dan kamu hanya sedang mengambil hakmu untuk beristirahat.

Dilansir dari Verywell Mind, perasaan bersalah yang muncul saat kita sedang tidak melakukan aktivitas produktif adalah fenomena psikologis yang sangat umum terjadi. Kondisi ini bahkan memiliki istilah medisnya sendiri, yaitu productivity guilt.

Sophie Elkins, ACSW, seorang psikoterapis yang berbasis di Los Angeles, memberikan sebuah perumpamaan yang sangat menampar realitas kita. Dia menjelaskan bahwa sama seperti kita yang tidak pernah berharap sebuah ponsel bisa digunakan untuk menelepon saat baterainya benar-benar habis, kita pun tidak bisa menuntut diri kita sendiri untuk selalu tampil maksimal ketika sedang berjalan dengan sisa cadangan energi yang sangat minim.

Yuk, mari kita selami lebih dalam bersama-sama kenapa perasaan mengganjal ini bisa muncul dan bagaimana cara mengatasinya.

Identitas Dirimu Terlalu Terikat dengan Produktivitas

Akar paling mendasar mengapa rebahan santai terasa seperti sebuah kesalahan besar adalah karena kita sering kali mengukur harga diri berdasarkan seberapa banyak daftar tugas yang berhasil kita coret dalam sehari.

Dikutip dari Verywell Mind, Emily Sotiriadis, LMFT, seorang terapis berlisensi di Washington D.C., menyebut kondisi ini sebagai conditional self-worth. Ini adalah sebuah keadaan psikologis di mana kamu baru merasa berharga, diakui, dan aman jika berhasil mencapai suatu prestasi atau menyelesaikan suatu pekerjaan.

Dilansir dari Psych Central, bagi banyak orang, kesibukan harian memang menjadi sumber utama untuk mendapatkan rasa pencapaian (sense of achievement). Dampaknya, ketika roda aktivitas itu berhenti berputar sejenak untuk istirahat, otak kita secara keliru langsung menerjemahkannya sebagai bentuk "kemalasan", padahal realitasnya tidak seperti itu.

Padahal, nilai dirimu sebagai manusia tidak bersifat kondisional. Kita semua berharga dan layak untuk ada di sini semata-mata karena kita adalah manusia, bukan karena deretan pencarian kerja yang kita hasilkan. Memisahkan harga diri dari hasil kerja memang butuh proses belajar yang panjang. Tapi menyadari bahwa keduanya adalah hal yang terpisah merupakan langkah awal yang sangat membebaskan.

Budaya Hustle yang Sudah Meresap Tanpa Disadari

Meninggalkan Budaya Hustle Culture / foto : pexels.com/cottonbro

Mengapa Sering Merasa Bersalah saat Istirahat? Ini Penjelasannya/Foto: pexels.com/cottonbro

Sejak kecil, sebagian besar dari kita dibesarkan dalam lingkungan yang sangat mendewakan kerja keras. Kita secara tidak sadar diajarkan bahwa istirahat adalah sebuah hadiah yang baru boleh didapatkan setelah kita menyelesaikan semua tugas tanpa sisa.

Konsep ini bisa tertanam sangat kuat di alam bawah sadar akibat pola asuh orang tua, iklim kompetisi di sekolah, atau nilai budaya masyarakat yang terus menyudutkan orang-orang yang diam sebagai sosok yang tidak berkontribusi bagi lingkungan.

Rasa bersalah yang menghantuimu saat bersantai sering kali bukan murni berasal dari nilai-nilai prinsip hidupmu sendiri. Perasaan itu adalah produk dari sistem eksternal yang bahkan tidak pernah kamu pilih untuk ikuti, salah satunya adalah hustle culture yang terus-menerus memaksa kita untuk bergerak, menghasilkan sesuatu, dan melarang kita untuk berhenti.

Pikiranmu yang Terbiasa Berputar Terlalu Kencang

Pernah tidak kamu merasa bahwa saat mengosongkan jadwal, kecemasanmu justru makin menjadi-jadi? Bagi sebagian orang, menjaga diri agar tetap sibuk setiap detik sebenarnya adalah mekanisme pertahanan diri tersembunyi untuk menghindari pikiran atau emosi tidak nyaman yang belum selesai.

Ketika kamu akhirnya benar-benar duduk diam tanpa distraksi pekerjaan, seluruh memori negatif atau kecemasan masa depan yang selama ini kamu tekan justru akan menyeruak naik ke permukaan sekaligus. Hal inilah yang membuat momen ketenangan justru terasa jauh lebih menegangkan daripada momen sibuk.

Kondisi ini sering kali diperparah oleh kebiasaan kita yang pelarian stresnya adalah dengan memandangi layar ponsel secara berlebihan. Menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling media sosial justru meninggalkan penyesalan mendalam karena waktu terasa terbuang sia-sia.

Akibatnya, saat kamu benar-benar ingin mengambil waktu istirahat yang berkualitas, rasa bersalahnya akan berlipat ganda. Mengurangi durasi bermain ponsel dan menggantinya dengan istirahat yang lebih disengaja (intentional rest), seperti membaca buku fisik atau berjalan-jalan santai di sore hari, bisa membantu melatih otakmu memahami bahwa kondisi diam itu aman dan nyaman.

Memahami Bahwa Istirahat adalah Investasi Tubuh

Istirahat membantu tubuh memproduksi ASI secara optimal. Kelelahan dapat menghambat keseimbangan hormon menyusui.

Mengapa Sering Merasa Bersalah saat Istirahat? Ini Penjelasannya/Foto: Freepik.com/freepik

Salah satu cara paling ampuh untuk meruntuhkan tembok rasa bersalah ini adalah dengan mengubah sudut pandangmu mengenai makna dari kata istirahat itu sendiri. Memaksakan diri hingga mengalami burnout secara nyata akan menurunkan performa kerja dan merusak seluruh aspek kehidupan, mulai dari kualitas hubungan asmara, kesehatan fisik, hingga stabilitas mental.

Dikutip dari Verywell Mind, Aliza Shapiro, LCSW, seorang terapis di New York City, menyarankan agar kita mendefinisikan ulang arti dari produktivitas. Mulai sekarang, masukkan aktivitas yang bisa mengisi ulang energimu, seperti berolahraga, mengobrol dengan orang tersayang, atau sekadar tidur siang, ke dalam kategori kegiatan yang produktif untuk jiwamu.

Penelitian bahkan menunjukkan bahwa mengambil jeda singkat secara berkala terbukti efektif membantu otak memperkuat fungsi memori dan mengembalikan fokus setelah periode belajar yang intens.

Jadi, menghentikan aktivitas sejenak bukan berarti kamu tertinggal atau berhenti melangkah maju, melainkan kamu sedang mengisi bahan bakar agar perjalananmu bisa menempuh jarak yang jauh lebih hebat lagi.

Akui Perasaanmu dan Buat Batasan yang Realistis

Akui saja rasa bersalah itu saat dia datang. Ketika kamu mulai terjebak dalam pusaran dialog batin yang negatif karena tidak melakukan apa-apa, mencoba melarikan diri atau memendamnya justru akan membuat kecemasan itu makin membesar.

Sebaliknya, terimalah fakta bahwa kamu memang sedang merasa tidak nyaman, lalu komunikasikan hal tersebut kepada sahabat atau orang yang kamu percaya untuk mendapatkan perspektif baru yang lebih objektif.

Di sisi lain, penting juga bagi kita untuk mulai menyusun daftar tugas harian yang lebih membumi dan realistis. Berikan dirimu izin untuk tidak menyelesaikan semua pekerjaan dalam satu kedipan mata. Mengetahui dan menerima kenyataan bahwa tugas-tugas dalam hidup ini tidak akan pernah benar-benar selesai seumur hidup bukanlah alasan untuk membuatmu putus asa.

Ini adalah alarm pengingat yang manis agar kita bisa berdamai dengan ketidaksempurnaan dan tetap menyisihkan waktu untuk bernapas dengan tenang. Tidak ada satu pun sisi lemah saat kamu mengakui bahwa tubuhmu butuh istirahat, karena hal itu adalah bentuk kejujuran dan kepedulian tertinggi pada dirimu sendiri.

Merasakan productivity guilt di tengah tuntutan dunia yang bergerak begitu cepat adalah hal yang sangat manusiawi. Kuncinya bukan tentang bagaimana cara membuang perasaan itu sepenuhnya, melainkan bagaimana kita bisa bersikap lebih lembut kepada diri sendiri saat tubuh dan pikiran sudah mengirimkan sinyal lelah.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE