Mengenal 9 Tradisi Unik Perayaan Isra Mikraj di Indonesia
Umat Islam di seluruh dunia memperingati Isra Mikraj setiap tanggal 27 Rajab dalam kalender Hijriah. Tahun ini, Isra Mikraj jatuh pada Jumat, 16 Januari 2026.Â
Isra Mikraj merupakan peristiwa saat Nabi Muhammad saw. melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kemudian naik ke langit ketujuh untuk mendapat perintah salat.
Di Indonesia, yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam, terdapat sejumlah perayaan untuk memperingati hari besar agama, termasuk Isra Mikraj. Berbagai kegiatan budaya dan tradisi penuh makna dilakukan rutin oleh masyarakat di setiap daerah di Indonesia.
Lantas, apa saja tradisi unik perayaan Isra Mikraj di Indonesia? Dilansir dari detikNews, berikut rangkuman informasinya. Simak!
1. Tradisi Rejeban Peksi Buraq – Yogyakarta
Tradisi Rejeban Peksi Buraq/ Foto: Instagram.com/humajogja
Perayaan Isra Mikraj di Yogyakarta identik dengan tradisi Rejeban Peksi Buraq, sebuah upacara yang digelar Keraton Yogyakarta setiap tanggal 27 Rajab. Peksi burak merupakan burung yang digunakan Nabi Muhammad saw. sebagai kendaraan.
Di Keraton, para putri dalem dan abdi dalem membuat miniatur burung (Peksi Burak) dari kulit jeruk bali, diletakkan di atas pohon buah yang dihias bunga, melambangkan wahana Isra Miraj.
Setelah selesai dihias, Peksi Burak diarak dari Keraton ke Masjid Gedhe Kauman untuk pengajian pembacaan risalah Isra Mikraj. Acara ini ditutup dengan membagikan buah-buahan dari rangkaian Peksi Burak kepada jemaah dan abdi dalem.
Tradisi ini sudah berlangsung selama ratusan tahun sejak masa Sri Sulta Hamengkubuwono I, dengan menggabungkan unsur Islam dan Jawa sebagai cara menyebarkan syiar Islam.
2. Khatam Kitab Arjo – Temanggung
Ilustrasi kitab arjo/ Foto: Unsplash.com/Masjid MABA
Masyarakat Desa Wonoboyo, Temanggung, Jawa Tengah, memiliki tradisi “Khatam Kitab Arjo” untuk memperingati Isra Mikraj. Tradisi ini dilakukan dengan pembacaan kitab klasik berbahasa Jawa Pegon yang menceritakan peristiwa Isra Mikraj secara detail. Dimulai dengan tahlil singkat setelah salat Isya, dan diikuti pembacaan oleh dua orang kiai secara bergantian hingga selesai.
Tradisi turun-temurun ini merupakan cara masyarakat setempat untuk memperingati Isra Mikraj sekaligus memperoleh keberkahan dan memahami kisah Nabi Muhammad saw. secara mendalam.
3. Rajaban – Cirebon
Ilustrasi Rajaban/ Foto: Unsplash.com/Masjid Pogung Raya
Rajaban, tradisi turun-temurun yang biasanya dilakukan masyarakat Cirebon dalam rangka menyambut Isra Mikraj. Tradisi ini diisi berbagai kegiatan, seperti ziarah ke makam ulama, pengajian, dan cerita Isra Mikraj yang biasanya terdapat dalam Babad Isra Mikraj.
Tradisi Rajaban diakhiri dengan makan bersama sebagai wujud syukur dan mempererat silaturahmi, dengan nasi bogana sebagai hidangan spesialnya. Tradisi ini biasanya diadakan di tempat tertentu, seperti masjid-masjid, keraton (Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan), dan tempat-tempat keramat lainnya saat bulan Rajab, terutama mendekati tanggal 27 Rajab.
4. Nganggung – Bangka Belitung
Tradisi Nganggung/ Foto: Instagram.com/jauharmu_
Masyarakat Muslim di Bangka Belitung selalu menyambut antusias dan meriah momen perayaan hari besar keagamaan, termasuk Isra Mikraj. Salah satu kegiatan yang digelar adalah Nganggung.
Nganggung merupakan tradisi membawa makanan dalam dulang berisi makanan khas Bangka Belitung, seperti Mie Belitung, Lakso, atau ikan panggang yang ditutup tudung saji, lalu dibawa ke masjid atau balai desa untuk disantap bersama.
Tradisi ini menjadi wujud syiar Islam karena diisi dengan doa-doa dan ceramah agama. Selain itu, juga menjadi ajang silaturahmi antar warga sekaligus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.
5. Ngurisan – Lombok
Tradisi Ngurisan/ Foto: Instagram.com/ahyarabduh
Tradisi Ngurisan menjadi bagian penting dalam perayaan Isra Mikraj di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tradisi ini berupa ritual cukur rambut bayi baru lahir, yang dilakukan secara simbolis di masjid atau musala.
Bayi di bawah 6 bulan dibawa ke masjid, sementara para tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat secara bergantian memotong sedikit rambut bayi sambil melantunkan salawat dan doa. Bermakna sebagai ungkapan syukur, harapan bayi tumbuh sehat, berakhlak baik, sekaligus mempererat tali silaturahmi dan kerukunan antar sesama umat Islam.
Dalam pelaksanaannya juga kerap diiringi pembacaan kayat, dulang pesaji, pembacaan doa, dan acara keagamaan lainnya untuk memeriahkan peringatan Isra Mikraj.
6. Nyadran – Semarang
Tradisi Nyadran/ Foto: Instagram.com/ktph_watugandu
Nyadran, salah satu tradisi unik memperingati Isra Mikraj yang dilakukan di Siwarak, Semarang. Tradisi ini terdiri dari beberapa kegiatan, seperti membersihkan makam, doa bersama, dan kirab budaya dengan arak-arakan hasil bumi.
Masyarakat akan mengarak replika burung Siwarak yang terbuat dari buah-buahan dan sayuran. Kirab tersebut juga dimeriahkan dengan musik tradisional, seperti lesung dan thek-thek. Selain itu, masyarakat juga harus mengenakan pakaian adat Jawa dan caping.
Tradisi ini bermakna mengenang peristiwa Isra Mikraj sekaligus menyambut bulan Ramadan, yang seringkali disebut juga sebagai “Sasi Ruwah”. Dalam praktiknya, tradisi Nyadran menunjukkan akulturasi Islam-Jawa yang kental.
7. Ambengan – Magelang
Ilustrasi Ambengan/ Foto: Unsplash.com/Masjid Pogung Raya
Masyarakat Magelang memiliki tradisi unik yang tiap tahunnya dilakukan untuk memperingati Isra Mikraj, yakni tradisi ambengan. Ambengan dalam bahasa Magelang berarti makan bersama, melibatkan pembuatan “ambeng” atau tumpeng sederhana oleh setiap keluarga.
Tradisi ini dilakukan dengan kegiatan berkumpul di masjid atau musala untuk makan bersama setelah pengajian, di mana makanan disajikan memanjang di atas daun pisang sebagai wujud rasa syukur dan mempererat silaturahmi, serta mencerminkan kesetaraan derajat manusia di hadapan Tuhan, di mana semua orang menyantap hidangan yang sama.
8. Pawai Obor – Bandung
Pawai Obor/ Foto: Instagram.com/alistiqomah02
Peringatan Isra Mikraj di Bandung, dimeriahkan dengan pawai obor yang telah menjadi tradisi turun-temurun. Pada malam Isra Mikraj, ribuan warga dari berbagai usia akan berkumpul untuk melakukan pawai obor sambil bersalawat.
Fakta menariknya, pawai ini memiliki makna spiritual dan nilai budaya. Obor melambangkan cahaya kebenaran ajaran Nabi Muhammad saw., yang menjadi penerang bagi umat Islam. Sedangkan menurut falsafah Sunda, berbunyi “Ulah Pareumeun Obor” atau jangan sampai padam obornya, yang berarti jangan sampai kehilangan arah atau pegangan dalam hidup.
9. Kenduri – Kebumen
Tradisi Kenduri/ Foto: Instagram.com/sazaayudy11
Di Desa Watulawang, Pejagoan, Kabupaten Kebumen, warganya melakukan tradisi kenduri untuk memperingati Isra Mikraj. Tradisi ini dilakukan dengan setiap keluarga membawa makanan masing-masing dari rumah, berupa nasi dan beragam lauk, untuk dibawa ke rumah sesepuh desa.
Di sanalah semuanya berkumpul. Setelah pengajian dan ceramah Isra Mikraj, semua hidangan akan dinikmati bersama-sama atau dibagikan kembali kepada warga, menciptakan momen hangat dan kebersamaan yang erat.
Sarat akan makna budaya dan religi, itulah sembilan peringatan Isra Mikraj di berbagai daerah di Indonesia. Pastinya masih ada banyak lagi tradisi unik dalam rangka memperingati Isra Mikraj yang dilakukan masyarakat Indonesia. Kalau di daerahmu perayaannya seperti apa, Beauties?
***
Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke komunitas pembaca Beautynesia B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!