Mengenal Aki Matsuri, Festival Musim Gugur di Jepang

Natasha Riyandani | Beautynesia
Rabu, 14 Oct 2026 20:00 WIB
Tradisi Yagai Gaku
Ilustrasi tradisi Yagai Gaku/ Foto: Unsplash.com/Stephanie Hau

Setelah melewati musim panas, Jepang kini memasuki musim gugur yang berlangsung dari bulan September hingga November. Musim ini menawarkan cuaca yang sejuk serta pemandangan daun yang berubah warna menjadi merah, oranye, dan kuning keemasan, yang disebut Momiji.

Berbagai festival musim gugur, atau disebut dengan nama “Aki Matsuri” juga kerap diselenggarakan untuk memeriahkan sekaligus menunjukkan kekayaan sejarah dan budaya Jepang.

Setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri dalam merayakannya, di mana menjadi pengalaman seru dan nggak boleh terlewat oleh wisatawan saat berkunjung ke Jepang.

Lantas, seperti apa keseruan “Aki Matsuri” di Jepang dan apa saja festival yang menarik untuk dikunjungi?

Apa Itu Aki Matsuri?

Aki Matsuri/ Foto: Unsplash.com/ David Emrich

Di Jepang, festival musim gugur tradisional disebut dengan Aki Matsuri. Kata “Aki” berarti musim gugur dan “Matsuri” berarti festival atau perayaan.

Festival ini diadakan di seluruh wilayah Jepang antara bulan September hingga November saat musim gugur berlangsung, sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada para dewa atas hasil panen yang melimpah.

Selain itu, diadakan juga doa bersama untuk keselamatan, kesejahteraan keluarga, dan mengharapkan kualitas bibit untuk tahun berikutnya, serta pertunjukan tradisional dan makanan musiman.

Tradisi Imonikai

Ilustrasi tradisi Imonikai/ Foto: Unsplash.com/You Le

Musim gugur di Jepang menggambarkan semangat, keceriaan, kebersamaan, dan mempererat kebersamaan antarwarga maupun komunitas.

Di beberapa wilayah, masyarakat kerap merayakan Imonikai, sebuah tradisi berkumpul bersama di luar ruangan untuk memasak dan menikmati imoni, sup atau hot pot talas khas wilayah Tohoku, bersama keluarga, teman, atau rekan kerja.

Orang-orang biasanya berkumpul di tepi sungai atau taman sambil memasak imoni menggunakan panci besar (nabe). Hidangan ini berbahan dasar talas yang dimasak bersama daging, konjak, wortel, dan daun bawang, dengan cita rasa kuah gurih yang menghangatkan tubuh.

Saking populernya tradisi ini, beberapa daerah bahkan mengadakan festival imonikai berskala besar. Misalnya, Festival Imoni Yamagata, yang menggunakan panci raksasa berukuran lebih dari 6 meter untuk memasak puluhan ribu porsi imoni dan disantap bersama-sama.

Tradisi Yagai Gaku

Ilustrasi tradisi Yagai Gaku/ Foto: Unsplash.com/Stephanie Hau

Sekolah-sekolah di Jepang biasanya akan mengadakan tradisi yakai gaku, yakni kegiatan pembelajaran luar ruangan saat musim gugur. Kegiatannya biasa diadakan sekitar bulan November.

Para siswa diajak keluar kelas menuju ruangan terbuka, seperti taman, pegunungan, atau pekarangan sekolah. Mereka akan mengamati perubahan warna daun, misalnya, momiji yang memerah atau daun ginkgo yang menguning.

Kegiatan ini juga kerap dipadukan dengan observasi lingkungan, pengenalan flora, atau kegiatan menanam untuk mengenalkan dan mendekatkan siswa pada alam, serta bagaimana siklus alam bekerja.

Festival Tsukimi

Ilustrasi tradisi tsukimi/ Foto: Unsplash.com/Aron Visuals

Tsukimi, yang memiliki arti “melihat bulan”, merupakan festival tradisional Jepang untuk menikmati keindahan bulan purnama di musim gugur.

Perayaan ini diadakan setiap tanggal 15 bulan kedelapan pada kalender lunar tradisional, atau dikenal sebagai Jugoya, yang biasanya jatuh pada bulan September atau Oktober di kalender modern.

Menjelang perayaannya, masyarakat akan mendekorasi rumah mereka dengan rumput pampas keperakan (susuki) untuk mengusir roh jahat dan menyambut dewa panen. Ada pula sajian kue beras putih, tsukimi dango, yang ditumpuk menyerupai piramida. Bentuknya yang bulat melambangkan bulan purnama.

Tradisi Momijigari

Ilustrasi tradisi momijigari/ Foto: Unsplash.com/Luke Ow

Dalam budaya Jepang, Momiji melambangkan keindahan, pembaharuan, dan ketidakabadian alam, yang dimaknai sebagai pengingat siklus alam yang terus berjalan.

Momen ini dirayakan dengan Momijigari, sebuah tradisi Jepang kuno untuk menikmati keindahan daun yang berubah warna menjadi merah, oranye, dan kuning saat musim gugur.

Kata “Momiji” dalam bahasa Jepang berarti “daun merah” atau “daun maple, sementara “gari” berarti “berburu” sehingga diartikan sebagai tradisi berburu daun maple.

Tradisi ini mengajak orang-orang meluangkan waktu sejenak dari kesibukan untuk menikmati ketenangan dan keindahan alam.

Beragam Festival Musim Gugur di Jepang

Kishiwada Danjiri Matsuri/ Foto: Unsplash.com/note thanum

Festival musim gugur di Jepang diselenggarakan dengan sangat meriah, menampilkan budaya tradisional, makanan musiman, hingga pawai kereta hias yang megah. Diadakan selama tiga bulan, dari bulan September hingga November.

Berikut ini beberapa festival musim gugur di Jepang yang populer dan wajib kamu kunjungi, di antaranya:

1. Sapporo Autumn Festival

Pertama kali diadakan tahun 2008, Sapporo Autumn Festival menampilkan beragam kuliner terbaik dan produk khas dari Hokkaido. Mulai dari kepiting segar, daging panggang, sup kari, mi ramen, hingga Hokkaido Marugoto Jiyu-don yang paling populer.

Lokasi: Odori Park, Chuo-ward, Sapporo, Hokkaido, Jepang.

Tanggal: 11 September – 3 Oktober

2. Kishiwada Danjiri Matsuri

Berlokasi di Osaka, Jepang, Kishiwada Danjiri Matsuri menampilkan parade kereta hias (danjiri) berukuran sekitar 4 meter dengan berat lebih dari 4 ton, yang ditarik oleh kelompok pria dari berbagai lingkungan di Kota Kishiwada.

Para pria tersebut akan melakukan atraksi yarimawashi, di mana kereta-kereta hias ditarik dengan kecepatan tinggi dan berbelok tajam tanpa mengurangi kecepatannya. Perayaannya sambil diiringi musik tradisional hayashi, seperti seruling dan tabuhan drum.

Lokasi: Kishiwada, Prefektur Osaka, Jepang

Tanggal: 18-20 September (Festival Utama) dan 10-11 Oktober (Festival Tambahan).

3. Takayama Autumn Festival

Salah satu festival musim gugur terbesar di Jepang adalah Takayama Autumn Festival. Festival ini menampilkan parade kereta hias (yatai) megah yang dihiasi ukiran kayu rumit, serta pertunjukan boneka mekanik (karakuri ningyo) di atas kereta.

Tak hanya itu, ada pula yoimatsuri, pawai malam hari pada tanggal 9 Oktober, di mana sekitar 100 yatai dihiasi dengan lampion kertas (chochin) berwarna-warni yang menyala dan diarak melintasi jalan-jalan kayu kuno.

Lokasi: Takayama, Prefktur Gifu, Jepang

Tanggal: 9-10 Oktober

4. Jidai Matsuri

Jidai Matsuri, dikenal juga sebagai Festival Zaman, karena menampilkan parade sejarah berskala besar yang memperagakan evolusi budaya, busana, dan tokoh-tokoh penting dari berbagai era di Jepang.

Parade kostum bersejarah menampilkan ribuan peserta mengenakan kostum dan perlengkapan upacara tradisional yang mewakili berbagai periode sejarah Jepang.

Lokasi: Kyoto, Jepang

Tanggal: 22 Oktober

5. Kurama Fire Festival

Kurama No Hi Matsuri, atau dikenal juga sebagai Kurama Fire Festival (Festival Api Kurama) terkenal dengan parade obor raksasa yang spektakuler. Ratusan penduduk lokal mengenakan pakaian tradisional (matsuri) sambil membawa obor menyala.

Sementara, beberapa pria mengarak mikoshi (kuil Shinto portabel) menanjak menuju Kuil Yuki. Prosesi arak-arakan obor pun berakhir di kuil ini, di mana obor-obor dikumpulkan dan ditumpuk menjadi api unggun besar.

Lokasi: Desa Kurama, Distrik Sakyo, Kyoto, Jepang

Tanggal: 22 Oktober

Beauties, itu dia tentang Aki Matsuri, festival musim gugur tradisional di Jepang untuk merayakan hasil panen yang melimpah. Tertarik menyaksikannya?

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE