Mengenal Desa Sade, Kampung Adat Suku Sasak di Lombok Tengah yang Dilanda Kebakaran

Natasha Riyandani | Beautynesia
Selasa, 01 Sep 2026 15:15 WIB
Tradisi Merariq
Tradisi Merariq/ Foto: detikTravel/Afif

Desa Adat Sade di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), kembali menjadi sorotan setelah kawasan pemukiman masyarakat Suku Sasak tersebut dilanda kebakaran hebat pada Sabtu malam (22/8).

Akibatnya, puluhan rumah tradisional, fasilitas umum, dan toko cinderamata hangus terbakar, memaksa ratusan warganya mengungsi.

Terlepas dari peristiwa tersebut, Desa Sade dikenal memiliki sejarah dan tradisi turun-temurun yang masih dipertahankan oleh masyarakat Suku Sasak sampai saat ini, menjadikannya salah satu desa wisata budaya yang menarik untuk dikunjungi.

Berikut sederet fakta menarik Desa Sade yang ikonis di Lombok Tengah, seperti dilansir dari detikTravel.

Sejarah Desa Sade

Sejarah Desa Sade/ Foto: aainayyahm

Desa Adat Sade di Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan salah satu desa tertua di Pulau Lombok yang masih menjaga ketat adat dan budayanya.

Desa ini diperkirakan telah berdiri sejak ratusan tahun lalu, sekitar abad ke-16 atau kurang lebih 500 tahun yang lalu. Masyarakat Sasak, yang merupakan penduduk asli Pulau Lombok, adalah penghuni perkampungan tradisional ini.

Kata “Sade” berasal dari kata “Saded” yang berarti obat atau penawar. Itu karena, dulunya, tempat ini menjadi pusat berkumpulnya warga Suku Sasak untuk mencari pengobatan atau solusi dari berbagai masalah kehidupan.

Seiring waktu, perkampungan tradisional ini mulai dikembangkan sebagai desa wisata oleh Pemerintah Nusa Tenggara Barat pada tahun 1989. Dengan mempertahankan rumah tradisional, kesenian tenun, adat istiadat, dan sejumlah tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Rumah Tradisional Suku Sade

Ilustrasi Bale Tani/ Foto: dok. Wonderful Indonesia

Keunikan Desa Adat Sade ada pada bangunan rumah tradisionalnya, yang dikenal dengan sebutan Bale Tani. Rumah-rumah di desa ini dibangun menggunakan bahan alami seperti bambu, kayu, dan alang-alang sebagai atapnya.

Desain pintu masuk rumahnya sengaja dibuat lebih rendah. Tujuannya agar setiap tamu yang datang harus menunduk, yang menjadi simbol penghormatan kepada pemilik rumah. Sementara, lantai rumah terbuat dari campuran tanah liat dan sekam padi sehingga dapat menghantarkan dingin sekaligus mencegah serangga.

Pembangunan Bale Tani pun nggak sembarangan, setiap ruangnya memiliki tujuan dan makna simbolis tersendiri. Misalnya, Bale Dalem, yang merupakan bagian dalam atau ruangan privat khusus bagi anggota keluarga perempuan. Letaknya berada di sisi kiri pintu masuk, terdiri dari beberapa bagian ruangan seperti dapur, kamar tidur, ruang sakral, dan ruang bersalin.

Ada pula, Bale Duah, yang merupakan bagian luar atau ruangan, yang melambangkan unsur laki-laki. Ruangan ini menjadi area utama dalam rumah, yang berfungsi untuk menerima tamu, tempat kumpul keluarga, dan tempat tidur bagi laki-laki. Letaknya berada di sisi kanan rumah adat.

Kotoran Hewan untuk Membersihkan Lantai Rumah

Kotoran hewan untuk mengepel lantai rumah di Desa Sade/ Foto: detikTravel/Afif

Mengepel lantai rumah dengan air dan cairan pembersih tentu sudah biasa. Berbeda halnya dengan yang dilakukan masyarakat Suku Sasak, di mana mereka menggunakan kotoran kerbau atau sapi untuk membersihkan lantai rumah.

Melumuri lantai rumah dengan campuran kotoran hewan dan air dinilai dapat membuat permukaan tanah jadi lebih padat, kokoh, tidak mudah retak, dan menghilangkan debu agar rumah tetap bersih dan nyaman.

Selain itu, aroma tanah basah dipercaya ampuh mengusir serangga, terutama nyamuk. Tradisi turun-temurun ini dikenal dengan Belulut, yang masih terus dilestarikan guna menjaga kesucian dan nilai budayanya.

Kain Tenun Tradisional

Kain tenun tradisional di Desa Sade/ Foto: Flickr.com/nisa nur iman

Selain rumah adat, Desa Sade juga terkenal akan hasil kerajinan tangannya. Salah satunya adalah kain tenun tradisional yang ditenun secara turun-temurun oleh para perempuan Suku Sasak.

Anak perempuan di desa ini wajib belajar menenun sejak usia 9 tahun. Bahkan, harus bisa menghasilkan kain tenun sendiri sebelum sebagai syarat menikah.

Pembuatan kain tenun masih menggunakan alat manual berbahan kayu dan bambu. Begitu pula dengan warna-warni benangnya, yang masih memakai ekstrak bahan-bahan alami dari tumbuhan di sekitar.

Motif yang dibuat pun nggak sembarangan. Kain tenun Desa Sade memiliki tujuh motif, dari Selotot hingga Krodat, di mana setiap motifnya punya keunikan, fungsi, dan makna filosofisnya yang berbeda.

Tradisi Merariq

Tradisi Merariq/ Foto: detikTravel/Afif

Masyarakat Suku Sasak memiliki tradisi kawin lari yang dikenal dengan merariq. Dalam praktiknya, seorang pria akan membawa lari atau menculik gadis yang dicintainya, yang melambangkan nilai adat, tanggung jawab, keberanian, dan kesiapan menikah.

Meski terkesan kriminal, tindakan ini sudah dilandasi kesepakatan atau rasa suka sama suka antar calon mempelai, biasanya diawali janjian terlebih dahulu.

Ada tiga tahapan adat yang harus dilewati, di antaranya:

  1. Pihak pria melarikan perempuan ke rumah kerabatnya.
  2. Melakukan selabar, yaitu melaporkan penculikan kepada kepala dusun atau keluarga pihak perempuan.
  3. Membayar adat atau mahar (sorong serah), lalu dilanjutkan dengan akad nikah secara Islam.

Tradisi Peresean

Tradisi Peresean/ Foto: dok. CNBC Indonesia/ Andrean Kristanto

Bukan sekedar pertarungan, peresean merupakan warisan keberanian dan kehormatan yang membentuk jati diri masyarakat Sasak. Peresean adalah tradisi adu ketangkasan antara dua lelaki dengan menggunakan tongkat rotan dan perisai kulit kerbau.

Tradisi paresean diketahui berawal dari ajang uji ketangkasan dan seleksi prajurit kerajaan sejak abad ke-13, serta sarana memohon hujan. Seiring waktu, kegiatan ini tetap dipertahankan dan dilestarikan masyarakat Sasak sebagai tradisi turun-temurun.

Tradisi ini memiliki makna filosofis yang melambangkan jiwa ksatria, ketangguhan, dan rasa persaudaraan tinggi tanpa ada rasa dendam setelah pertandingan atau di luar arena.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE