Mengenal Imposter Syndrom yang Lagi Ramai Diperbincangkan

Vira Nabilla | Beautynesia
Minggu, 21 Jun 2026 14:30 WIB
1. Tentang Imposter Syndrom
Ilustrasi seseorang dengan Imposter Syndrom/ Foto: Freepik.com

Pernah nggak sih kamu merasa pencapaian yang sudah diraih sebenarnya cuma karena keberuntungan? Atau mungkin kamu sering khawatir suatu hari orang lain akan sadar bahwa kamu sebenarnya tidak 'sepintar' yang orang pikirkan? Perasaan tersebut dikenal dengan istilah Imposter Syndrom. 

Tentunya, istilah-istilah di internet memang tidak pernah ada habisnya. Namun, biasanya istilah baru tersebut juga membentuk pemikiran dan personality yang membuat kamu semakin mengenal diri kamu sendiri. Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Imposter Syndrom?

Cari tahu lebih lanjut tentang istilah tersebut dengan cara scroll down, ya! 

1. Tentang Imposter Syndrom

Ilustrasi seseorang dengan Imposter Syndrom/ Foto: Freepik.com

Kamu pasti pernah mendengar imposter syndrome di internet, kan? Yup! Imposter syndrome adalah kondisi ketika seseorang merasa dirinya tidak pantas mendapatkan pencapaian yang sudah diraih, seolah-olah keberhasilan tersebut hanya karena keberuntungan, bantuan orang lain, atau kebetulan. 

Biasanya, orang yang mengalami hal ini sering merasa takut ‘ketahuan’ bahwa dirinya sebenarnya tidak sehebat yang orang lain pikirkan tentangnya, meskipun ada bukti nyata berupa kemampuan, kerja keras, atau prestasi. 

Istilah ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1978 oleh psikolog Pauline Clance dan Suzanne Imes, yang menemukan pola perasaan tersebut pada banyak perempuan berprestasi. Imposter syndrome bisa muncul dalam berbagai situasi, seperti pekerjaan, pendidikan, hubungan sosial, atau saat memulai sesuatu yang baru. 

2. Ciri-ciri Orang yang Mengalami Imposter Syndrom

Ilustrasi seseorang dengan Imposter Syndrom/ Foto: Freepik.com

Adapun ciri-ciri seseorang yang mengalami imposter syndrome biasanya terlihat dari cara mereka menilai diri sendiri dan pencapaian mereka. Mereka biasanya sulit mengakui keberhasilan diri sendiri, orang dengan imposter syndrome sering merasa pencapaiannya bukan karena kemampuan mereka. 

Mereka sering merasa takut dianggap tidak kompeten dan merasa khawatir bahwa suatu hari orang lain akan menyadari bahwa mereka sebenarnya tidak sehebat yang terlihat. Rasa takut ini bisa muncul meskipun orang di sekitar justru melihat mereka sebagai seseorang yang mampu. 

Namun, di sisi lain mereka terbilang sangat perfeksionis dan selalu menetapkan standar yang sangat tinggi. Sehingga, mereka merasa harus terus memberikan hasil yang sempurna. Bahkan mereka sering overthinking apabila melakukan kesalahan kecil sekalipun. 

Orang-orang dengan imposter syndrom juga sering membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain. Selain itu, karena kerap meragukan kemampuan diri, mereka sering merasa tidak nyaman apabila dipuji. Mereka juga takut mencoba hal baru karena merasa takut gagal. 

Meski memiliki rasa insecure yang tinggi, namun mereka biasanya sangat bertanggung jawab, pekerja keras, dan punya standar tinggi. Hanya saja mereka cenderung kesulitan melihat nilai dan usahanya sendiri.

Namun, perlu diingat ya, Beauties, ini bukan diagnosis resmi dari gangguan mental, melainkan dari pola pikiran atau perasaan yang bisa dialami banyak orang. 

3. Pandangan Psikologi

Ilustrasi seseorang dengan Imposter Syndrom/ Foto: Freepik.com/pressfoto

Menurut penelitian Clance dan Imes (1978), pola utama imposter phenomenon meliputi perasaan tidak pantas atas keberhasilan, mengaitkan kesuksesan dengan faktor eksternal, serta ketakutan bahwa orang lain akan menemukan bahwa dirinya tidak seperti yang terlihat. 

Walaupun bukan gangguan mental resmi, pola pikir ini bisa membuat seseorang mudah cemas (anxiety) dan akan menghambat perkembangan diri. Dalam psikologi, hal ini bukan berarti seseorang benar-benar ‘penipu’ atau tidak punya kemampuan, melainkan pola pikir yang membuat seseorang sulit menginternalisasi kesuksesan. 

Penelitian selanjutnya menunjukkan fenomena ini dapat dialami berbagai gender dan situasi, terutama ketika seseorang menghadapi tuntutan pencapaian atau lingkungan yang penuh dengan tekanan. 

4. Cara Mengatasinya

Ilustrasi seseorang dengan Imposter Syndrom/ Foto: Freepik.com

Dalam psikologi, pola pikir seperti ini dianggap bukan sifat kepribadian permanen, melainkan sebuah pola keyakinan dan cara seseorang menafsirkan dirinya sendiri.

Mengatasinya dapat dilakukan dengan mengenali pencapaian diri, mengubah cara berbicara pada diri sendiri, serta memahami bahwa merasa ragu bukan berarti seseorang tidak mampu. 

Banyak orang yang mengalaminya dapat mengurangi intensitas perasaan tersebut melalui kesadaran diri, perubahan pola pikir, dan berani mencoba pengalaman baru yang membantu membangun kepercayaan terhadap kemampuan diri. 

Intinya, jika kamu sedang ada di situasi ini, kamu hanya perlu benar-benar mengenali diri kamu dan kemampuanmu sendiri.

Jangan membandingkan dirimu dan orang lain, cobalah untuk berpikir positif, mencoba untuk selalu  bersyukur  bahkan dalam hal kecil, simpanlah bukti pencapaianmu, dan sering berbagi cerita dan pengalaman dengan orang lain. 

---

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(sim/sim)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE