Istilah girl’s girl belakangan ini kerap muncul dalam percakapan media sosial. Istilah ini merujuk pada pilihan perempuan untuk mendukung perempuan lain, alih-alih menyatakan persaingan.
Misalnya, seorang perempuan akan memberitahu perempuan lain ketika riasannya luntur hingga memberikan pembalut kepada perempuan manapun yang membutuhkannya. Menjadi girl’s girl berarti membela perempuan lain dan menolongnya dari perlakuan merendahkan yang diterimanya.
Popularitas istilah ini mencerminkan bagaimana perempuan semakin sadar akan solidaritas antar perempuan, untuk saling mendukung tanpa harus mengorbankan satu sama lain. Namun, bagaimana perjalanan menuju solidaritas? Apakah label girl’s girl benar-benar mampu meruntuhkan persaingan, atau justru menciptakan perpecahan baru di balik ilusi solidaritas?