Mengenal Kodokushi, Fenomena Meninggal Sendirian di Jepang dan Penyebabnya
Jepang dikenal sebagai negara yang maju dengan teknologi canggih dan masyarakat yang disiplin. Namun, di balik kemajuan tersebut, ada fenomena sosial yang cukup mengkhawatirkan, Beauties, yaitu kodokushi atau lonely death.Â
Fenomena ini bukan sekadar tentang seseorang yang meninggal tanpa ditemani, tapi juga menggambarkan kesepian dan minimnya hubungan sosial yang dialami sebagian masyarakat Jepang. Bahkan, pada Januari hingga Juni 2025, lebih dari 40.000 orang dilaporkan meninggal sendirian di rumah mereka seperti yang dilansir dari Asia News.
Lantas, apa sebenarnya kodokushi dan faktor apa saja yang menyebabkan munculnya fenomena ini di Jepang? Yuk, simak selengkapnya di bawah ini!Â
Meninggal Sendirian Tanpa Segera Diketahui
Kodokushi merupakan istilah dalam bahasa Jepang yang berarti meninggal dunia sendirian. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika seseorang meninggal tanpa kehadiran orang lain dan jasadnya baru ditemukan setelah beberapa waktu, bahkan hingga berhari-hari atau berminggu-minggu.
Fenomena ini menjadi salah satu gambaran nyata dari masalah kesepian di Jepang. Seseorang bisa saja tinggal sendirian, jarang berinteraksi dengan tetangga, atau nggak memiliki keluarga dan teman yang rutin menghubunginya. Akibatnya, ketika orang tersebut meninggal, nggak ada yang segera menyadari kepergiannya.
Populasi Lansia yang Terus Meningkat
Salah satu faktor yang berkaitan dengan kodokushi adalah populasi Jepang yang semakin menua/Foto: pexels.com/Iban Lopez Luna
Salah satu faktor yang berkaitan dengan kodokushi adalah populasi Jepang yang semakin menua. Sekitar satu dari empat penduduk Jepang berusia 65 tahun ke atas sehingga kebutuhan akan dukungan sosial bagi kelompok lansia menjadi semakin penting.
Sebagian lansia tinggal sendiri, terutama ketika pasangan mereka meninggal atau anak-anak mereka tinggal di kota lain. Kalau mereka nggak punya teman, keluarga, atau tetangga yang rutin memeriksa keadaan mereka, risiko meninggal tanpa segera diketahui bisa meningkat.
Meskipun begitu, kodokushi nggak hanya terjadi pada lansia. Orang yang lebih muda juga bisa mengalaminya, terutama kalau mereka hidup dalam isolasi sosial dan nggak memiliki hubungan dekat dengan orang lain.
Enggan Meminta Bantuan Orang Lain
Enggan meminta bantuan orang lain juga bisa menjadi salah satu faktor yang memperparah kesepian/Foto: pexels.com/Ron Lach
Pernah merasa nggak enak meminta bantuan karena takut merepotkan orang lain? Perasaan seperti ini juga bisa menjadi salah satu faktor yang memperparah kesepian.
Sebagian orang Jepang cenderung enggan meminta bantuan karena khawatir akan membebani orang lain atau membuat mereka ikut merasa khawatir. Mereka memilih menyelesaikan masalah sendiri meskipun sebenarnya sedang membutuhkan dukungan. Kalau kebiasaan ini terus berlanjut, hubungan dengan keluarga, teman, maupun tetangga bisa semakin renggang.
Merantau untuk Bekerja
Banyak orang Jepang pindah ke kota lain untuk mencari pekerjaan/Foto: pexels.com/Kenneth Surillo
Banyak orang Jepang pindah ke kota lain untuk mencari pekerjaan. Namun, tinggal jauh dari keluarga dan teman lama bisa membuat mereka merasa kesepian karena harus memulai kehidupan sosial dari awal.
Apalagi, nggak semua orang mudah menjalin pertemanan di lingkungan baru. Setelah lelah bekerja, sebagian orang merasa nggak punya cukup energi untuk membangun hubungan dengan orang lain.
Alhasil, mereka bisa semakin jarang berinteraksi dengan orang di sekitarnya. Kalau terus berlanjut, kondisi ini membuat mereka nggak memiliki banyak orang yang bisa diandalkan saat membutuhkan bantuan.
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!