Mengenal Megengan, Tradisi Menyambut Ramadan di Pulau Jawa

Natasha Riyandani | Beautynesia
Rabu, 18 Feb 2026 10:30 WIB
Makna Tradisi Megengan
Makna tradisi megengan/ Foto: Freepik.com/freepik

Menyambut datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat Muslim di Jawa memiliki tradisi unik yang dikenal dengan Megengan. Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun sebagai bentuk penyambutan dan persiapan spiritual sebelum menjalani ibadah puasa.

Megangan identik dengan kenduri atau kumpul bersama yang dihadiri keluarga, kerabat, dan tetangga. Berbagai kegiatan yang dilakukan, mulai dari pembacaan doa, tahlilan, hingga menyajikan makanan khas menjadi bagian penting dari tradisi ini.

Bukan sekedar ajang berkumpul, tradisi ini juga memperkuat nilai-nilai keagamaan dan kebersamaan dalam masyarakat Jawa. Lantas, seperti apa keseruan perayaan Megengan untuk menyambut bulan Ramadan? Melansir laman detikJatim, berikut rangkuman lengkapnya.

Apa Itu Tradisi Megengan?

Ilustrasi tradisi megengan/ Foto: Freepik.com/freepik

Megengan berasal dari kata “megeng” yang berarti menahan, yang mencerminkan esensi utama dari bulan Ramadan, yaitu menahan hawa nafsu dan perbuatan yang dilarang selama menjalankan ibadah puasa.

Megengan merupakan sarana introspeksi diri. Tradisi ini sekaligus pengingat bagi umat Islam untuk bersiap secara spiritual dan mental dalam menjalani ibadah puasa. Selain itu, Megengan juga menjadi momen mempererat silaturahmi dan berbagi berkah kepada sesama.

Asal-Usul Tradisi Megengan

Asal-usul tradisi megangan/ Foto: Freepik.com/freepik

Tradisi Megengan merupakan hasil akulturasi budaya Jawa dan ajaran Islam, yang berkembang sejak masa Kerajaan Demak sekitar tahun 1500 Masehi. Tradisi ini menjadi salah satu bentuk penyebaran nilai-nilai Islam yang dilakukan Wali Songo kepada masyarakat Jawa.

Meski zaman terus berganti, Megengan masih terus dilestarikan dan rutin digelar masyarakat Jawa setiap menjelang bulan suci Ramadan. Tradisi ini juga tidak hanya diikuti oleh umat Islam, tetapi terbuka untuk masyarakat non-Muslim sebagai bentuk toleransi dan kebersamaan.

Makna Tradisi Megengan

Makna tradisi megengan/ Foto: Freepik.com/freepik

Lebih dari sekadar perayaan menyambut bulan Ramadan, Megengan juga memiliki makna filosofis yang mencerminkan nilai-nilai keagamaan dan budaya Jawa. Beberapa makna simbolis yang terkandung di dalamnya, seperti:

  1. Permohonan maaf dan kesucian hati sebelum memasuki bulan
  2. Ramadan yang penuh dengan ampunan. Rasa syukur dan saling berbagi kepada sesama, terutama umat Muslim.
  3. Media dakwah dan silaturahmi antar masyarakat melalui kegiatan bersama.
  4. Persiapan spiritual sebelum memasuki bulan Ramadan, dengan merenungi diri dan memperbaiki hubungan dengan sesama.

Kapan Tradisi Megengan Dilakukan?

Pelaksanaan tradisi megengan/ Foto: Freepik.com/freepik

Tradisi Megengan umumnya digelar menjelang datangnya bulan Ramadan, tepatnya hari terakhir bulan Syaban. Selain itu, Megengan juga dilaksanakan pada awal bulan Ramadan sebelum melaksanakan puasa wajib.

Tradisi ini diisi dengan berbagai kegiatan, termasuk rangkaian doa dan tahlil yang digelar di masjid. Kegiatan ini biasanya dilakukan setelah salat Isya, lalu dilanjutkan pembagian makanan yang sebelumnya dibawa warga untuk dinikmati bersama-sama.

Rangkaian Tradisi Megengan

Ilustrasi nyekar ke makam/ Foto: detikCom/Grandyos Zafna

Berlangsung di berbagai daerah di Jawa, Megengan memiliki beberapa perbedaan di setiap daerah. Namun, secara umum memiliki rangkaian acara utama sebagai berikut:

  1. Nyekar ke makam leluhur.
  2. Pembacaan doa dan tahlil di masjid, musala, atau rumah warga.
  3. Pembagian nasi berkat dan kue apem.
  4. Arak-arakan, seperti kirab budaya, pawai obor, atau kegiatan lainnya yang melibatkan masyarakat.

Makanan Khas Megengan

Kue apem/ Foto: detikJatim/Fima Purwanti

Dalam tradisi megengan, terdapat sejumlah hidangan khas yang hampir selalu hadir di tengah masyarakat. Bukan sekedar makanan, sajian-sajian ini memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan nasib baik, permohonan maaf, dan harapan menjelang bulan penuh berkah.

Beberapa makanan yang wajib ada dalam tradisi megengan, antara lain:

1. Kue Apem

Salah satu makanan yang wajib ada saat megengan adalah kue apem. Kue tradisional ini melambangkan permohonan maaf dan penyucian diri, yang berasal dari bahasa Arab “afwun” berarti memafkan atau ampunan.

2. Pisang

Penyajian buah pisang, biasanya jenis pisang raja, dimaknai sebagai pengingat untuk senantiasa berbuat kebaikan kepada sesama.

Dalam tradisi Jawa, buah ini punya simbol sosial yang mendalam. Dalam bahasa Jawa, pisang sering dikaitkan dengan istilah digeget (digigit) atau digadang (diharapkan), sehingga dimaknai sebagai simbol kehangatan dan eratnya persaudaraan.

3. Nasi Berkat

Sama seperti kue apem, nasi berkat juga termasuk komponen wajib dalam tradisi megangan. Nama “berkat” mencerminkan harapan agar setiap orang yang menyantapnya mendaptkan keberkatan, serta sebagai wujud rasa syukur dan berbagi kebahagiaan sebelum puasa.

Nasi berkat biasanya berisi nasi putih, aneka lauk pauk, dan buah-buahan, kemudian dibagikan kepada tetangga setelah doa bersama atau tahlilan sebagai sarana silaturahmi.

4. Sate Keong

Sate keong dikenal sebagai kuliner khas dalam tradisi megengan di Demak, Jawa Tengah. Dahulu, makanan ini menjadi lauk sehari-hari masyarakat karena kaya akan protein dan gizi, serta mudah ditemukan di sawah.

Sate keong punya menjadi kuliner ikonik dan rasanya kurang afdol jika dilewatkan. Biasanya disajikan dengan bumbu kacang, lontong lodeh, atau opor, menjadi simbol kuliner turun-temurun yang melambangkan kekayaan kuliner lokal.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE