Mengenal Pacu Kude, Tradisi Unik Merayakan Hari Kemerdekaan Khas Masyarakat Aceh Tengah

Natasha Riyandani | Beautynesia
Senin, 17 Aug 2026 15:30 WIB
Bagian Perayaan Hari Kemerdekaan RI
Ilustrasi tradisi pacu kude saat Hari Kemerdekaan/ Foto: Unsplash.com/Mathias Reding

Dalam menyambut perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, setiap daerah memiliki tradisi uniknya masing-masing. Salah satunya adalah Pacu Kude, yang diselenggarakan oleh masyarakat Gayo di Aceh Tengah.

Pacu kude atau pacu kuda menampilkan lomba pacuan kuda tradisional dengan joki tanpa menggunakan pelana. Tradisi turun-temurun ini masih terus dilestarikan hingga sekarang, bahkan mampu menarik perhatian masyarakat sekitar untuk menonton.

So, seperti apa keseruan tradisi ‘Pacu Kude’ khas masyarakat Gayo di Aceh Tengah dan bagaimanaa asal-mulanya? Dilansir dari berbagai sumber, berikut rangkuman informasinya.

Apa Itu Tradisi Pacu Kude?

Tradisi Pacu Kude/ Foto: Laodeiqbal

Pacu Kude adalah tradisi balapan kuda tradisional masyarakat Suku Gayo yang diselenggarakan di Dataran Tinggi Gayo, Aceh Tengah. Tradisi unik ini memadukan unsur olahraga, ketangkasan, hiburan, dan nilai adat yang kental.

Keunikannya ada pada joki cilik yang menunggangi kuda, di mana mereka menunggangi kuda tanpa menggunakan pelana maupun alas kaki. Tak hanya itu, para joki yang ikut serta umumnya adalah anak-anak atau remaja berusia 12-16 tahun.

Sejarah Tradisi Pacu Kude

Ilustrasi sejarah tradisi pacu kude/ Foto: Unsplash.com/Mathew Schwartz

Pacu Kude merupakan perpaduan antara ajang olahraga dan budaya yang sudah digelar sejak puluhan tahun di tanah Gayo, Aceh Tengah, untuk merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Awalnya, pacuan kuda tersebut adalah pesta rakyat Gayo yang mayoritas bekerja sebagai petani. Digelar sesudah musim panen padi (luah berume) di area persawahan sekaligus menjadi hiburan dan pelepas penat para petani. Tradisi ini biasa diadakan pada bulan Agustus setiap tahunnya, bertepatan dengan masa panen usai.

Berdasarkan sejarah yang ada, pacuan kuda tradisional Gayo pertama kali diadakan pada tahun 1850 di sisi timur Danau Laut Tawar, Kecamatan Bintang. Pacuan kuda tersebut digelar di atas lintasan sepanjang 1,5 kilometer.

Pada 1912, pemerintah kolonial Belanda mulai mengatur tradisi pacuan kuda dengan memusatkann di Takengon. Barulah, pacuan kuda tradisional Gayo dijadikan ajang perlombaan tahunan mulai 1930-an.

Makna Tradisi Pacu Kude

Ilustrasi makna tradisi pacu kude/ Foto: Unsplash.com/Noah Silliman

Bagi masyarakat Dataran Tinggi Gayo, ajang ini bukan sekedar kompetisi olahraga biasa, melainkan simbol identitas budaya, sarana silaturahmi, dan perwujudan rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah. Itu karena awalnya, tradisi ini digelar setelah masa panen padi.

Namun kini menjadi bagian dari perayaan Hari Kemerdekaan yang tak terlepaskan sehingga menjadi ruang berkumpulnya masyarakat dari berbagai daerah dan kalangan usia. Mereka pun saling bersilaturahmi antar warga kampung (belangi neger).

Selain itu, tradisi pacu kude juga menjadi simbol perjuangan dan nasionalisme. Ketangkasan joki mencerminkan keberanian, sportivitas, dan semangat juang yang tinggi seperti perjuangan para pahlawan untuk kemerdekaan Indonesia.

Pelaksanaan Tradisi Pacu Kude

Ilustrasi pelaksanaan tradisi pacu kude/ Foto: Unsplash.com/Joshua Adams

Tradisi Pacu Kude dulunya digelar secara spontan oleh para pemuda sebagai perayaan setelah panen padi. Umumnya digelar saat pagi atau sore hari, tepatnya setelah salat ashar.

Namun kini telah menjadi agenda tahunan resmi yang diselenggarakan untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun Kota Takengon pada bulan Februari, serta Hari Kemerdekaan RI pada bulan Agustus.

Acaranya berlangsung selama sepekan penuh di lapangan terbuka, salah satunya di Lapangan Muan Alun, Takengon. Lintasan pacunya cukup sederhana berbentuk melingkar dan dibatasi dengan pagar rotan.

Kuda-kuda yang digunakan pun tidak sembarangan. Kuda yang digunakan awalnya adalah jenis kuda asli Gayo yang bertubuh relatif kecil namun terkenal lincah dan memiliki stamina kuat. Namun kini, banyak kuda lokal yang disilangkan dengan kuda Australia atau keturunan lainnya untuk meningkatkan kecepatan dan kekuatannya.

Meski terkenal sebagai tradisi warga Gayo, perlombaan pacu kude juga bisa diikuti oleh masyarakat dari kabupaten lain di sekitarnya seperti Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara.

Bagian Perayaan Hari Kemerdekaan RI

Ilustrasi tradisi pacu kude saat Hari Kemerdekaan/ Foto: Unsplash.com/Mathias Reding

Seiring berjalannya waktu, tradisi pacu kude menjadi bagian dari perayaan 17 Agustusan. Namun bukan hanya untuk merayakan HUT RI, tradisi ini biasanya juga digelar untuk memperingati Hari Jadi Kota Takengon setiap bulan Februari.

Tradisi turun-temurun ini pun menjadi salah satu daya tarik wisata di Gayo, Aceh Tengah. Perayaannya tak hanya dipadati oleh warga setempat, tetapi juga wisatawan lokal hingga mancanegara yang berkunjung untuk menyaksikan keseruan tradisi pacu kude khas masyarakat Gayo tersebut.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE