Mengenal Sisu, Cara Hidup Bahagia ala Orang Finlandia

Hanny A | Beautynesia
Kamis, 27 Aug 2026 07:15 WIB
Sisi Lemah Menerapkan Sisu secara Berlebihan
Ilustrasi burnout / Foto: pexels.com/kaboompics.com

Jika masyarakat Indonesia mengenal "Semangat '45" atau etos pantang menyerah sebagai simbol daya juang bangsa, masyarakat Finlandia memiliki konsep serupa yang bernama sisu. Arti dari istilah asal Finlandia ini menggambarkan kombinasi antara ketabahan, keberanian batin, dan kegigihan luar biasa dalam menghadapi situasi sulit.

Karakter ini melekat kuat pada setiap individu maupun seluruh masyarakat di Finlandia untuk terus melampaui batas kemampuan hingga hal yang tampak mustahil tetap bisa terwujud. Etos ini sudah terbukti dari dikenalnya Finlandia sebagai salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia, jaminan sosial yang sangat tinggi, hingga tingkat korupsi yang rendah. 

Meski negara ini memiliki musim dingin ekstrem yang panjang, gelap, dan rentan memicu rasa depresi, Finlandia mampu bertahan bahkan melampaui tantangan tersebut. Terbukti dengan dinobatkan Finlandia sebagai negara paling bahagia di dunia selama 9 tahun berturut-turut berkat kerja keras kolektif dan daya lenting mental masyarakatnya, alias sisu.

Lalu, apa sebenarnya makna sisu dan bagaimana menerapkan filosofi ini dalam kehidupan sehari-hari agar hidup lebih bermakna dan bahagia?

Makna di Balik Istilah Sisu

Ilustrasi bertekad melalui rintangan sulit / Foto: pexels.com/Arnab Biswas

Istilah sisu sebenarnya tidak memiliki padanan kata tunggal yang persis dalam bahasa lain. Kata sisu berasal dari istilah bahasa Finlandia “sisus” yang berarti ‘isi perut’ atau ‘bagian dalam’ di bahasa Indonesia, atau ‘guts’ dalam bahasa Inggris yang bisa dimaknai juga sebagai ‘nyali’.

Secara garis besar, sisu menggambarkan kombinasi dari tekad baja, ketangguhan, keberanian, kegigihan, serta resiliensi. Sisu juga merupakan sebuah pola pikir yang berorientasi pada tindakan, yang dengan kata lain, orang berjiwa sisu lebih memilih untuk membuktikannya langsung lewat tindakan daripada hanya ucapan.

Menurut Emilia Elisabet Lahti, seorang peneliti sisu dari Aalto University di Helsinki, sisu adalah energi dan tekad kuat saat menghadapi kesulitan yang jauh lebih berat dari biasanya. Ibaratnya, sisu baru dimulai tepat ketika rasa ingin menyerah muncul.

Karakteristik Seseorang yang Berjiwa Sisu

Ilustrasi fokus menyelesaikan persoalan / Foto: pexels.com/Tima Miroshnichenko

Meskipun istilah sisu sulit diterjemahkan secara harfiah ke dalam bahasa lain, Lahti melalui laman Psychology Today merumuskan karakteristik sisu ke dalam tiga komponen utama: 

  • Tekad untuk terus melangkah demi mencapai hal-hal yang dianggap mustahil oleh orang lain,
  • Kecenderungan untuk bertindak, dan
  • Potensi kekuatan cadangan di dalam diri yang baru bisa digunakan saat situasi menjadi sangat sulit.

Dalam kehidupan sehari-hari, kamu adalah pribadi berjiwa sisu jika memiliki kebiasaan berikut: 

  • Terbiasa mendorong diri selangkah lebih maju. Meski pada awalnya terasa berat dan tidak nyaman, tubuh dan pikiran akan beradaptasi seiring waktu.
  • Sangat fokus pada target awal dan berusaha keras mencapainya, tentu dalam koridor yang positif dan tidak merugikan. 
  • Mengambil inspirasi dari pengalaman masa lalu atau generasi terdahulu yang berhasil bertahan dan melewati tantangan serupa. 
  • Memandang ketidaknyamanan sebagai pengalaman berharga untuk bertumbuh, bukan sebagai hambatan. 

Sisi Lemah Menerapkan Sisu secara Berlebihan

Ilustrasi burnout / Foto: pexels.com/kaboompics.com

Agar tidak berdampak buruk bagi diri sendiri maupun orang lain, perlu tahu juga beberapa sisi negatif dari sikap sisu yang berlebihan:

  • Sangat keras kepala, menolak mendengarkan masukan atau saran konstruktif dari orang lain. 
  • Sulit mengakui kelemahan yang bisa membuat seseorang enggan mengakui keterbatasan diri dan sangat sulit untuk meminta bantuan orang lain.
  • Risiko burnout dan stres berkepanjangan karena memaksakan diri terus bekerja melewati batas fisik dan mental.
  • Memaksakan standar kegigihan diri kepada orang lain yang terkadang dapat menekan orang-orang di sekitar sehingga berdampak negatif bagi relasi sosial.
  • Sulit merelakan.

Agar filosofi sisu ini membawa dampak positif, cara menerapkannya adalah menyeimbangkannya dengan rasa welas asih, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Sisu yang seimbang adalah dengan tidak memaksakan hal yang mustahil serta tahu kapan harus berjuang dan kapan saatnya berhenti atau beralih ke strategi baru. 

Meski konsepnya lahir dari budaya Finlandia, nilai sisu ini pada dasarnya bersifat universal. Siapa pun dapat menumbuhkan sisu baik untuk bertahan dan bangkit melewati masa-masa penuh tantangan. Namun, terapkan sisu secara seimbang antara ambisi dengan batasan kemampuan diri.

____

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.