Mengenal Suffragette, Perjuangan Perempuan untuk Mendapatkan Hak Pilih

ALMIRA WIJI RAHAYU | Beautynesia
Selasa, 06 Feb 2024 06:15 WIB
Hasil Suffragette dalam Pemenuhan Hak Pilih Perempuan
Pemimpin WSPU, Annie Kenney (kiri) and Christabel Pankhurst (kanan) /Foto: Wikipedia

Partisipasi perempuan dalam pemilu memiliki sejarah yang panjang. Pada awalnya hak pilih perempuan dalam pemilu ditiadakan hingga di abad ke-19. 

Ada beberapa alasan tak masuk akal yang menyebabkan ini terjadi. Seperti yang dikutip dari Canada's History, dulunya perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah, nggak punya pendirian, dan nggak stabil. 

Pemilu pun dianggap mengganggu tugas domestik perempuan. Namun, pemikiran itu digoyahkan melalui gerakan yang memperjuangkan hak perempuan untuk dapat berpartisipasi dalam pemilihan calon wakil rakyat.

Setiap negara memiliki waktu yang berbeda dalam memperjuangkan hak perempuan. Seperti Selandia Baru adalah negara pertama yang memperbolehkan perempuan untuk memilih dalam pemilu di tahun 1893. 

Salah satu gerakan yang paling berpengaruh dan terkenal dilakukan oleh Suffragette di Inggris. Melansir Museum of London, istilah suffragette ditujukan kepada anggota organisasi perempuan yang mengkampanyekan hak pilih untuk perempuan di Britania Raya.

Terkenal Tegas dan Berani dalam Memperjuangkan Hak Perempuan

Emmeline Pankhurst /Foto: Wikipedia

Gerakan Suffragette ini diinisiasi oleh organisasi feminis bernama Women's Social and Political Union (WSPU) di tahun 1903.  

WSPU didirikan oleh Emmeline Pankhurst, anak-anaknya, serta aktivis perempuan lainnya di Manchester. Lalu mereka berpindah ke London, pusat pemerintahan, di tahun 1906.

Dengan keberadaan markas di London, membuat mereka lebih dekat dengan pemerintah. Mereka secara konsisten mengadakan protes, mengirim petisi, hingga merantai diri mereka di depan gedung pemerintah. 

Mengutip situs Museum of London, WSPU melalukan kampanye dengan berbagai cara, seperti pembuatan koran mingguan untuk menyebarkan isu hak pilih perempuan. Koran mereka yang bernama "Votes for Women" memiliki oplah sebanyak 22 ribu di tahun 1909. 

Yang menjadi pembeda dari organisasi perempuan lainnya di Inggris, WSPU dikenal sebagai organisasi militan. Mereka menggunakan metode kekerasan seperti merusak properti umum, memecahkan jendela hingga perusakan karya seni untuk menyuarakan hak mereka. 

Pertemuan pertama para Suffragetes se-Britania Raya terjadi di tahun 1908. Mereka berjalan dari Central London ke Hyde Park dengan membawa 700 banner. Agenda mereka ini menangkap perhatian lebih dari 300 ribu orang. 

Dengan taktik militan, keberadaan WSPU menjadi momok untuk pemerintah. Beberapa anggotanya, termasuk Emmeline, diberi hukuman penjara. 

Saat di penjara pun, tak melunturkan semangat mereka dalam meraih hak pilih. Mereka melakukan aksi mogok makan di dalam penjara hingga pemerintah memberi aturan 'makan paksa', tetapi aturan itu tidak berpengaruh terhadap mereka. 

Akhirnya mereka bebas dengan syarat tidak melakukan keonaran di publik. Aturan pembebasan mereka diatur dalam Cat and Mouse Act di tahun 1913. 

Hasil Suffragette dalam Pemenuhan Hak Pilih Perempuan

Pemimpin WSPU, Annie Kenney (kiri) and Christabel Pankhurst (kanan) /Foto: Wikipedia

Perang Dunia I menghentikan gerakan Suffragette. Mereka fokus untuk terjun langsung dalam mendukung upaya perang.  

Meskipun Suffragette tidak langsung mencapai tujuan mereka, gaya berkampanye WSPU menginspirasi banyak perempuan lainnya. Para perempuan aktif berpartisipasi di publik selama perang berlangsung.

Karena peran itulah negara mengakui bahwa perempuan memiliki peran yang penting dalam masyarakat. Perempuan bukanlah makhluk yang hanya bisa mengerjakan tugas domestik saja.

Dilansir dari Britannica, hak pilih perempuan secara resmi diakui oleh negara dengan dikeluarkannya Representation of the People Act oleh pemerintah Inggris di tahun 1918. Undang-undang ini memberikan hak pilih kepada perempuan yang berusia minimal 30 tahun atau lebih dalam pemilu.

Sepuluh tahun kemudian, di tahun 1928, batas usia minimum untuk mengikuti pemilu diturunkan menjadi 21 tahun, sama dengan yang berlaku bagi pria. Hal ini menandakan kesetaraan hak sosial dan politik antara perempuan dan pria di Inggris. 

Kini, batas umur minimal adalah 18 tahun untuk perempuan maupun pria.  

Perjuangan hak pilih untuk perempuan di Inggris bukanlah yang pertama di dunia. Namun, keberanian dan tekad mereka telah menginspirasi banyak gerakan serupa di negara lain dan membuka jalan bagi kemajuan hak-hak perempuan di masa depan.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.