Mengenal The Trimates, Tiga Perempuan Peneliti Primata yang Mengubah Dunia
Beauties, tahukah kamu bahwa dunia penelitian satwa liar khusunya primata, memiliki sejumlah perempuan yang kontribusinya masih dikenang hingga sekarang? Tiga di antaranya adalah Jane Goodall, Dian Fossey, dan Biruté Galdikas yang dikenal dengan sebutan The Trimates.
Ketiganya merupakan peneliti yang didukung oleh antropolog Louis Leakey untuk mempelajari kehidupan kera besar di habitat aslinya. Meski meneliti spesies berbeda, hasil pengamatan mereka memberikan pengaruh besar terhadap ilmu pengetahuan dan upaya konservasi satwa liar.
Lantas, siapa saja sosok di balik The Trimates dan apa kontribusi mereka?
1. Jane Goodall, Peneliti yang Mengungkap Perilaku Simpanse
Jane Goodall, Peneliti yang Mengungkap Perilaku Simpanse/Foto: Vogue.com
Jane Goodall yang bernama lengkap Dame Valerie Jane Morris-Goodall merupakan primatolog dan antropolog, asal Inggris yang telah diakui oleh dunia sebagai pakar simpanse. Dilansir dari situs Jane Goodall Institute, penelitian Jane Goodall terhadap simpanse liar dimulai pada 1960 di Gombe, Tanzania. Saat itu, ia berusia 26 tahun dan menjalankan penelitian dengan dukungan antropolog Louis Leakey.
Salah satu temuannya yang paling dikenal adalah pengamatan bahwa simpanse dapat membuat dan menggunakan alat. Penemuan ini mengubah pemahaman ilmuwan mengenai perilaku hewan karena sebelumnya kemampuan menggunakan alat kerap dipandang sebagai perilaku khas manusia.
Perempuan kelahiran 3 April 1934 ini juga memperkenalkan pendekatan pengamatan yang lebih dekat dengan kehidupan individu simpanse. Ia memberikan nama kepada hewan-hewan yang ditelitinya dan mempelajari kepribadian, emosi, serta hubungan sosial mereka.
Jane turut aktif dalam upaya perlindungan satwa dan lingkungan setelah bertahun-tahun melakukan penelitian. Ia mendirikan Jane Goodall Institute pada 1977 dan program Roots & Shoots pada 1991 untuk mendorong keterlibatan generasi muda dalam kegiatan konservasi.
2. Dian Fossey, Perempuan yang Mendedikasikan Hidup untuk Gorila Gunung
Dian Fossey, Perempuan yang Mendedikasikan Hidup untuk Gorila Gunung/Foto: National Geographic
Dilansir The Gorilla Organization, Dian Fossey yang lahir pada 16 Januari 1932 ini mulai meneliti gorila gunung di kawasan Pegunungan Virunga, Rwanda, pada 1967. Ia kemudian mendirikan Karisoke Research Center sebagai tempat penelitian dan pengamatan kehidupan gorila di habitat alaminya.
Selama bertahun-tahun, Dian mempelajari perilaku, hubungan sosial, dan kehidupan kelompok gorila gunung. Ia juga berupaya mengubah pandangan masyarakat yang selama ini kerap menganggap gorila sebagai hewan buas dan menakutkan.
Tetapi, perhatiannya terhadap gorila gunung tidak berhenti pada penelitian. Dian turut memperjuangkan perlindungan gorila dari perburuan liar dan kerusakan habitat. Bahkan Dian mendirikan Digit Fund pada untuk mendukung patroli anti-perburuan setelah gorila kesayangannya, Digit, dibunuh oleh pemburu liar.
Dian meninggal dunia pada 1985 di pusat penelitiannya di Rwanda. Meski demikian, upaya perlindungan gorila yang ia rintis terus dilanjutkan melalui organisasi konservasi yang berkembang dari warisannya.
3. Biruté Galdikas, Peneliti yang Mempelajari Orangutan di Kalimantan
Biruté Galdikas, Peneliti yang Mempelajari Orangutan di Kalimantan /Foto: Orangutan Conservancy
Berbeda dari Jane dan Dian, Biruté Galdikas memilih orangutan sebagai objek penelitiannya. Dilansir dari National Geographic, perempuan yang bernama lengkap BirutÄ— Marija Filomena Galdikas ini tiba di kawasan Tanjung Puting, Kalimantan, pada 1971 untuk memulai penelitian jangka panjang terhadap orangutan liar.
Ia mendirikan Camp Leakey, sebuah kamp penelitian yang dinamai untuk menghormati Louis Leakey. Dari sana, Biruté mengamati kehidupan orangutan, mulai dari kebiasaan mencari makan, berpindah tempat, hingga perilaku membangun sarang di pepohonan.
Selain penelitian, Biruté juga aktif dalam upaya penyelamatan dan rehabilitasi orangutan. Pada 1986, ia mendirikan Orangutan Foundation International (OFI) untuk mendukung perlindungan orangutan dan habitat hutan mereka.
Biruté meninggal dunia pada 24 Maret 2026. Melalui penelitian dan kegiatan konservasinya selama lebih dari lima dekade, ia meninggalkan kontribusi penting bagi pemahaman dan perlindungan orangutan, khususnya di Kalimantan.
Kisah Jane Goodall, Dian Fossey, dan Biruté Galdikas menunjukkan bahwa penelitian ilmiah tidak hanya menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga dapat mendorong perubahan dalam cara manusia memperlakukan alam. Melalui dedikasi mereka, dunia memperoleh pemahaman yang lebih luas tentang kehidupan primata sekaligus sebagai pengingat bagi kita tentang pentingnya menjaga habitat tempat mereka tinggal.
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!