Mengenal Yasa Peksi Burak, Tradisi Memperingati Isra Mikraj di Keraton Yogyakarta

Natasha Riyandani | Beautynesia
Jumat, 16 Jan 2026 16:00 WIB
Arak-arakan Peksi Burak
Arak-arakan Peksi Burak/ Foto: Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat

Isra Mikraj merupakan peristiwa agung dalam sejarah Islam, yang menggambarkan dua perjalanan luar biasa Nabi Muhammad saw. dalam satu malam. Momen ini diperingati oleh umat Muslim di seluruh dunia, dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan keagamaan.

Di Indonesia, peringatan Isra Mikraj dirayakan dengan berbagai tradisi unik yang sarat makna dan pesan spiritual. Salah satunya, Keraton Yogyakarta memperingati momen Isra Miraj Nabi Muhammad saw. dengan menggelar upacara yang dikenal sebagai Hajad Dalem Yasa Peksi Burak. Upacara ini diselenggarakan setiap tanggal 27 Reeab dalam kalender Jawa, yang bertepatan pada Jumat 16 Januari 2026.

Lantas, seperti apa Yasa Peksi Burak dan bagaimana tradisi ini berlangsung? Dilansir dari detikJogja, berikut rangkuman informasinya.

Apa Itu Tradisi Yasa Peksi Burak?

Yasa Peksi Burak/ Foto: Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat

Yasa Peksi Burak, atau dikenal juga dengan Rejeban Peksi Buraq merupakan sebuah tradisi perayaan Isra Mikraj yang dilakukan di lingkungan Keraton Yogyakarta. Penamaannya diambil dari istilah ‘Yasa’ berarti burung, dan ‘Burak’ yaitu makhluk yang diyakini menjadi kendaraan Nabi Muhammad saw. saat melakukan Isra dan Mikraj.

Tradisi ini digelar setiap 27 Rajab dalam kalender Jawa dan tetap dilestarikan sampai saat ini. Sebagai salah satu Hajad Dalem Keraton Yogyakarta, tradisi Yasa Peksi Burak turut melibatkan seluruh kerabat dan para abdi dalem.

Dalam tradisi ini, permaisuri ataupun putri sulung Sulta Hamengkubuwono akan memimpin jalannya Yasa Peksi Burak.

Pembuatan Peksi Burak

Pembuatan Peksi Burak/ Foto: Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat

Seperti tradisi-tradisi lainnya, terdapat beberapa perlengkapan yang harus disiapkan dalam Yasa Peksi Burak. Perlengkapan tersebut di antaranya Peksi Burak, pohon buah, dan empat pohon bunga yang dirangkai sebelum acara dilakukan.

Dikutip dari laman Keraton Jogja, Peksi Burak merupakan sebuah simbolisasi Buraq yang ditunggangi Nabi Muhammad SAW untuk menerima perintah salat dari Allat Swt.. Peksi sendiri dalam bahasa Jawa, berarti burung.

Peksi Burak dirangkai dari potongan kulit jeruk bali dan buah-buahan yang dibentuk dan diukir menyerupai kepala, leher, badan, dan sayap burung. Bentuk burung jantan akan diberi jengger (pial) agar bisa dibedakan dari burung betina.

Adapun bentuk Peksi Burak ini bermakna sepasang burung jantan dan betina yang sedang bertengger pada pohon buah-buahan di taman surga.

Peksi Burak kemudian disusun di atas sebuah susuh (sarang), yang terbuat dari rangka bambu setinggi 1 meter serta rangkaian daun kemuning dan bunga patra menggala berwarna merah, kuning, dan oranye, yang diletakkan di bagian paling atas dari pohon buah sebagai tempat bertengger burung.

Pohon buah yang digunakan terdiri dari tujuh macam buah lokal, seperti pisang raja, rambutan, manggis, jeruk, apel, sawo, jeruk bali, dan salak. Setiap buah memiliki filosofinya masing-masing. Salah satunya, pisang raja menjadi lambang bahwa Raja Kesultanan Ngayogyakarta adalah pengayom bagi rakyatnya.

Penggunaan angka tujuh dalam bahasa Jawa disebut “pitu”, yang memiliki makna agar manusia dapat memperoleh pitulungan atau pertolongan, keselamatan, dan kesejahteraan dalam hidup.

Pembuatan Peksi Burak dan pohon buah dimulai sejak pagi hari hingga menjelang waktu salat dhuhur, bertempat di Bangsal Sekar Kedhaton. Nggak boleh sembarangan, seluruh proses pembuatannya hanya dilakukan oleh para kerabat dekat sultan (isteri pangeran, Wayah Dalem/cucu, dan Sentana Dalem/kerabat).

Sementara pembuatan pohon bunga atau taman bunga dilakukan oleh para Abdi Dalem Keparak (abdi dalem perempuan).

Arak-arakan Peksi Burak

Arak-arakan Peksi Burak/ Foto: Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat

Setelah salat Ashar, seluruh perlengkapan yang telah selesai dibuat akan diarak oleh abdi dalem, dimulai dari Bangsal Sekar Kedhaton menuju Masjid Gedhe.

Prosesi arak-arakan diawali dengan doa bersama yang dipimpin Abdi Dalem Punokawan Kaju dan diikuti oleh semua orang yang ada di Kedhaton. Arak-arakan ini diiringi oleh Abdi Dalem Kanca Kaji, Abdi Dalem Suranata, dan Kanca Abrit yang membawa rangkaian Peksi Burak serta empat pohon bunga.

Peksi Burak kemudian diarak melewati pelataran Keraton Yogyakarta, Regol Kamandungan Lor, Jalan Rotowijayan, hingga Alun-Alun Utara. Abdi Dalem Suranata yang bertugas membawa Peksi Burak akan menyerahkannya kepada Abdi Dalem Pengulon Masjid Gedhe dan kembali akan didoakan.

Pembacaan Kisah Isra Mikraj

Pembacaan kisah Isra Mikraj/ Foto: Instagram.com/kratonjogja

Puncak perayaan Isra Mikraj berlangsung pada malam hari selepas salat Isya, sekitar pukul 20.00 WIB di Serambi Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta. Dimulai dengan pengajian, lalu pembacaan risalah Isra Mikraj yang dibuka oleh Abdi Dalem Pengulon.

Setelah rangkaian acara selesai, Peksi Burak akan dibagikan hanya kepada seluruh abdi dalem. Berbeda dengan prosesi Grebeg Idulfitru, Idul Adha, atau Maulid Nabi, yang mana selesai acara gunungan bisa dirayah masyarakat.

Makna Tradisi Yasa Peksi Burak

Makna Tradisi Yasa Peksi Burak/ Foto: Foto: Instagram.com/kratonjogja

Yasa Peksi Burak telah menjadi tradisi turun-temurun yang digunakan sebagai sarana dakwah yang dilakukan oleh Keraton Yogyakarta. Pembuatan simbol Peksi Burak dinilai penting untuk mendukung syiar Islam agar lebih mudah diterima oleh masyarakat pada zaman dahulu.

Melalui simbol ini, masyarakat diharapkan dapat mengambil hikmah dari perjalanan agung Isra Mikraj Nabi Muhammad saw. dan menjalankan perintah salat lima waktu bagi umat Muslim.

Selain itu, simbol ini juga memiliki nilai keislaman berpadu dengan kearifan budaya Jawa, yang mengajarkan makna spiritual perjalanan suci dan ketulusan pengabdian.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke komunitas pembaca Beautynesia B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE