Mengintip Profesi Baru Jacinda Ardern Usai Mundur Sebagai Perdana Menteri: Melawan Ekstrimisme Online Tanpa Dibayar!

Riswinanti Pawestri Permatasari | Beautynesia
Selasa, 09 May 2023 17:00 WIB
Jacinda Ardern/Foto: Instagram.com/@jacindaardern

Sempat mengukir nama sebagai Perdana Menteri termuda dalam 150 tahun terbentuknya Selandia Baru, Jacinda Ardern resmi mundur dari jabatan tersebut pada 7 Februari 2023. Posisi yang dipegangnya selama kurang lebih 6 tahun itu kini telah digantikan oleh Chris Hipkins.

Tidak butuh waktu lama, Jacinda Ardern langsung diserahi posisi penting untuk memerangi ekstrimisme. Bagaimana dia menjalani profesi barunya? Berikut ulasannya, sebagaimana dilansir dari berbagai sumber!

Utusan Khusus untuk Memerangi Terorisme dan Ekstrimisme


Jacinda Ardern/Foto: Instagram.com/@jacindaardern

Dilansir dari Guardian, Perdana Menteri Chris Hipkins mengumumkan bahwa dirinya telah menunjuk Jacinda Ardern sebagai utusan khusus untuk Christchurch Call. Dalam organisasi ini dia akan bertugas paruh paruh waktu untuk menangani aksi ekstrimisme online yang belakangan semakin marak. Selama menjalankan tugasnya, Ardern akan langsung melapor pada Perdana Menteri Chris Hipkins.

Menariknya, Christchurch Call adalah organisasi yang dibentuk sendiri oleh Ardern bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron pada tahun 2019, tepatnya dua bulan pasca insiden pembantaian 51 orang di dua masjid yang ada di Kota Christchurh, Selandia Baru. Insiden itu terjadi pada 15 Maret 2019, di mana para pelaku sempat menyiarkan tindakannya secara daring lewat media sosial.

Bekerja Tanpa Dibayar


Jacinda Ardern/Foto: Instagram.com/@jacindaardern

Menurut keterangan dari Chris Hipkins, dilansir dari AJ+, Jacinda Ardern memulai tugasnya sejak 17 April 2023. Menariknya, Ardern justru menolak untuk dibayar oleh pemerintah. Tujuannya bersedia bergabung murni karena dia ingin melakukan tindakan nyata untuk memerangi tindakan terorisme dan ekstrimisme, dalam hal ini yang terjadi di dunia maya.

Apa Saja yang Dilakukannya?


Jacinda Ardern/Foto: Instagram.com/@jacindaardern

Christchurch Call adalah organisasi yang dibentuk sebagai respon dari insiden 15 Maret 2019 di Selandia baru. Tujuan pembentukannya adalah untuk mencegah munculnya konten berbau terorisme dan ekstrimisme yang bisa menimbulkan keresahan di masyarakat.

Inisiasi ini muncul untuk mencegah kejadian sama terulang, di mana pada tragedi Christchurch tahun 2019 lalu pelaku sempat mempertontonkan aksinya secara online sehingga menimbulkan keresahan dan kengerian yang lebih parah.

Dalam hal ini, dia akan bekerja sama dengan setidaknya 120 negara di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman untuk memberantas konten yang berpotensi menyebarkan keresahan terkait aksi para ekstrimis dan teroris. Untuk menyukseskannya, Ardern dan Christchurch Call juga akan menggandeng perusahaan terknologi ternama, termasuk Meta, Twitter, Google, dan banyak lagi untuk mempermudah pelaporan jika muncul konten sensitif yang berbau terorisme dan ekstrimisme.

(naq/naq)