Menurut Pakar Psikologi, Kebiasaan Orang Tua Ini Bisa Bikin Anak Memendam Rasa Benci ke Saudaranya
Beauties, pernahkah kamu merasa hubungan dengan kakak atau adikmu canggung, atau bahkan memendam rasa kesal yang sulit hilang hingga dewasa? Ternyata perasaan ini bisa dipengaruhi dari cara orang tua memperlakukan kita sewaktu kecil.
Salah satunya adalah kebiasaan memberikan peran tertentu secara berulang, seperti menganggap anak sulung harus selalu mengalah atau anak bungsu belum perlu diberi tanggung jawab.
Dirangkum dari artikel di laman HuffPost, kebiasaan pembagian peran ini dapat memicu rasa cemburu, amarah, hingga rasa benci antarsaudara yang terbawa sampai dewasa. Yuk, simak ulasan lengkapnya menurut para ahli psikologi berikut!
Peran Anak dalam Keluarga Bisa Terbentuk Tanpa Disadari
Contoh pembagian peran anak yang terbentuk yakni anak yang jadi penanggung jawab menjaga adiknya/ Foto: Pexels/Olia Danilevich
Pembagian peran terjadi saat orang tua tanpa sadar memberi label tertentu pada anak, mulai dari si penanggung jawab, penengah, pembuat masalah, hingga anak yang selalu mengalah demi menghindari konflik.
Emily Waitt, direktur klinis di Kincove, menjelaskan bahwa peran ini muncul alami sebagai respons terhadap kepribadian, urutan kelahiran, dan dinamika keluarga. Pola yang paling sering terjadi adalah ketika satu anak dianggap sebagai sumber masalah, sementara anak lainnya dilabeli penurut. Sayangnya, anak yang dianggap penurut biasanya kurang mendapatkan perhatian emosional karena orang tua mengira mereka baik-baik saja.
Mengapa Kebiasaan Ini Bisa Memicu Rasa Benci Hingga Dewasa?
Pembagian peran pada anak bisa memicu rasa benci dan persaingan antarsaudara/ Foto: Magnific/pvproduction
Raffi Bilek, terapis keluarga dan direktur Baltimore Therapy Center, mengungkapkan bahwa pembagian peran bisa memicu persaingan antaranak untuk memperebutkan kasih sayang orang tua.
Kebiasaan ini juga membuat anak memikul beban yang tidak pernah mereka minta. Anak yang selalu diminta mengalah merasa kebutuhannya diabaikan, sedangkan anak yang terus dianggap pembuat masalah merasa tidak diberi kesempatan untuk berubah. Keduanya bisa sama-sama merasa bahwa saudaranya mendapat perlakuan yang lebih menguntungkan.
Rasa benci ini kerap kali bertahan hingga dewasa. Orang tua cenderung mempertahankan pola ini agar dinamika keluarga terasa teratur. Sementara itu, bagi sesama anak, luka masa lalu membuat mereka sulit melihat saudaranya sebagaimana adanya hari ini. Akibatnya, saat berkumpul di acara keluarga sewaktu dewasa, pola lama dan rasa sakit yang sama akan terpicu kembali.
Tanda Orang Tua Justru Memperkuat Peran pada Anak
Bahasa dan ekspektasi orang tua bisa mempertegas label peran pada anak/ Foto: Magnific/peoplecreations
Bahasa dan ekspektasi orang tua sering tanpa sadar memperkuat peran pada anak. Kalimat seperti "Kamu kan jauh lebih dewasa dari adikmu, jadi ibu minta kamu mengalah, ya," mungkin terdengar seperti pujian. Padahal menurut Waitt, dari sini anak bisa menganggap perasaan dan kebutuhannya kurang penting karena diharapkan selalu memaklumi.
Rod Mitchell, psikolog klinis di Emotions Therapy Calgary, menyampaikan bahwa ekspektasi untuk selalu menjadi contoh yang baik bisa membuat anak tertekan. Perilakunya tidak lagi menjadi miliknya, melainkan sesuatu yang terus dinilai. Masalah makin besar ketika peran ini mengorbankan kebutuhan pribadinya. Pada titik ini, anak tidak lagi sekadar membantu, melainkan telah masuk ke peran orang tua.
Ada beberapa tanda yang bisa disadari orang tua ketika hal ini terjadi. Pertama, timbulnya prasangka otomatis, yaitu saat orang tua langsung menentukan anak yang bersalah sebelum bertanya kronologi kejadian. Penggunaan frasa berulang seperti "seperti biasa" atau "kamu memang selalu begitu" juga memperkuat adanya peran tersebut. Tanda lainnya adalah ketika anak mulai mengadopsi peran itu, misalnya menyebut dirinya sebagai anak nakal atau menjuluki saudaranya anak pintar.
Cara Membantu Anak Keluar dari Peran yang Telanjur Melekat
Orang tua masih bisa membantu anak keluar dari peran yang terlanjur melekat/ Foto: Magnific/pikisuperstar
Orang tua bisa memulainya dengan mengakui pola tersebut secara terbuka di hadapan anak secara singkat di bawah dua menit, seperti: "Selama ini kami memperlakukanmu seperti anak yang harus selalu bertanggung jawab, dan adikmu seperti anak yang bebas tanpa aturan. Itu tidak adil, dan mulai sekarang akan kami ubah."
Selanjutnya, berikan anak kesempatan untuk libur dari peran tersebut. Katakan pada anak tertua, "Malam ini ibu yang mengurus adikmu, kamu bebas santai!" Lalu, berikan tugas yang lebih ringan kepada adiknya, seperti memilih film keluarga atau memberi makan hewan peliharaan. Langkah ini memberi sinyal bahwa peran dalam keluarga bisa bergeser.
Terakhir, perhatikan pilihan bahasa saat memberikan pujian dan teguran. Pujilah usahanya ("Kamu sudah berusaha keras menyelesaikan tugasmu"), bukan identitasnya ("Kamu memang anak paling bertanggung jawab").
Saat menegur, fokuslah pada perilaku dan aturan yang dilanggar tanpa membawa faktor urutan kelahiran. Misalnya, "Kamu tahu aturan soal merebut mainan, dan ibu minta kamu mematuhinya." Dengan demikian, setiap anak tetap belajar bertanggung jawab tanpa terikat pada label yang merugikan.
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!