Menurut Para Ahli, 3 Alasan Orang Tetap Bertahan dalam Pernikahan Meski Tidak Bahagia

Pratitis Nur Kanariyati | Beautynesia
Sabtu, 27 Jun 2026 20:00 WIB
Menurut Para Ahli, 3 Alasan Orang Tetap Bertahan dalam Pernikahan Meski Tidak Bahagia
Alasan orang-orang masih bertahan dalam pernikahan toksik/Foto: Magnific.com/Freepik

Pandangan tentang pasangan harus tetap bersama, tidak peduli seberapa tidak bahagianya mereka masih menggema jelas di masyarakat, terutama wilayah pedesaan. Perceraian dianggap sebagai aib, sampai akhirnya sebagian orang tetap bertahan meski rumah tangga tidak bahagia.

Menjalani hidup di pernikahan toksik bukanlah hal yang mudah. Namun, karena alasan tertentu mereka harus tetap bertahan di dalamnya. Alasan apakah yang membuat orang-orang, terutama kaum perempuan tetap berdiri tegak dalam pernikahan toksiknya?

Berikut tiga alasan orang tetap bertahan dalam pernikahan toksik hingga bertahun-tahun. Simak!

1. Ketiadaan Kemandirian Finansial

Alasan orang tetap bertahan di hubungan toksik/Foto: Magnific.com/Stockking

Kekhawatiran akan ketidakmampuan menanggung beban keuangan sering menjadi alasan utama perempuan tetap bertahan dalam hubungan toksik. Amanda McAlister, kepala bidang hukum di Slater & Gordon menyayangkan hal tersebut.

“Mendengar ratusan pasangan yang tetap bertahan meski merasa menderita (hanya karena khawatir akan kesulitan finansial) sungguh menyedihkan,” ujarnya, pada Huffpost.

Perceraian memang seharusnya menjadi langkah terakhir yang diambil dalam hubungan, tetapi perceraian bisa memberikan rasa aman yang nyata untuk pasangan itu sendiri dan anak-anak. Beberapa penelitian menyebut bahwa anak-anak merasa lebih bahagia ketika orang tuanya bahagia.

2. Tidak Ingin Anak menjadi Korban Broken Home

Alasan orang tetap bertahan di hubungan toksik/Foto: Magnific.com/Freepik

“Aku sudah punya anak-anak, nggak mungkin aku bercerai. Bagaimana psikologis mereka nanti. Aku nggak mau anak-anak kecewa.” Kalimat itu sering dilontarkan oleh orang tua ketika dihadapi perceraian.

Menurut mereka, kebahagiaan anak adalah ketika kedua orang tua tetap bersama. Itu benar, tetapi dengan catatan bahwa kebersamaan itu nyata, bukan kepalsuan.

Anak memiliki kepekaan tinggi dan dapat merasakan ketegangan serta konflik di antara orang tuanya. Bahkan, jika hal tersebut tidak diungkapkan secara terang-terangan. Menyaksikan pertengkaran terus-menerus dan sikap bermusuhan dapat memicu rasa cemas, depresi, dan rendahnya harga diri pada anak.

Bertahan dalam hubungan toksik dapat menciptakan contoh hubungan tidak sehat bagi anak. Anak bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa dinamika hubungan yang disfungsional adalah hal yang wajar. Pada gilirannya dapat berdampak negatif terhadap hubungan anak di masa depan.

Dr. Donna Matthews mengatakan, dalam jangka panjang, perceraian dapat memberikan dampak lebih bahagia pada anak.

“Ketika orang tua terus-menerus bertengkar dan memiliki ketidakcocokan yang berkepanjangan, perceraian bisa menjadi kelegaan bagi anak. Jika perubahan struktur keluarga ditangani dengan baik, anak dapat menerimanya perlahan dan bangkit lebih kuat serta tangguh,” jelas Dr. Matthews, seperti dikutip dari Psychology Today.

3. Kejamnya Stigma Janda di Mata Masyarakat

Alasan orang tetap bertahan di hubungan toksik/Foto: Magnific.com/Tirachardz

Stigma masyarakat tentang status janda juga turut menjadi pemicu seseorang untuk tidak bercerai. Penelitian di Indonesia bertajuk A Critical Study of the Discrimination of Widow menunjukkan perempuan yang berstatus janda cenderung menerima stigma lebih besar dibanding duda, meski keduanya sama-sama mengalami perceraian.

Status janda tidak hanya dipandang sebagai kondisi kehilangan pasangan, tetapi juga dikaitkan dengan penilaian moral dan seksualitas perempuan. Mereka kerap dilabeli negatif, dianggap ancaman dalam rumah tangga orang lain, dan diawasi secara berlebihan.

Ingat ya, Beauties. Tidak semua pernikahan layak untuk dipertahankan. Perceraian tidak bisa selalu dibaca sebagai kegagalan. Kompromikan hubungan secara tenang dan empatik, jika perlu konsultasi pada konselor profesional untuk mematangkan keputusan.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE