Nama Depok Ternyata Singkatan dari Bahasa Belanda, Sudah Tahu Belum?
Depok adalah salah satu kota di Jawa Barat yang menjadi bagian dari kawasan metropolitan Jabodetabek. Di balik pesatnya pembangunan, tahukah kamu kalau sebenarnya nama Depok adalah sebuah singkatan yang berasal dari bahasa Belanda?
Dilansir dariCNBCÂ Indonesia, nama "Depok" diyakini memiliki akar dari masa kolonial Belanda, Beauties. Jejak sejarah ini dapat ditelusuri ketika ketika wilayah Depok masih menjadi bagian dari Residensi Ommelanden van Batavia, yaitu sebuah wilayah administratif kolonial yang mencakup kawasan di sekitar Batavia, atau Jakarta saat ini.Â
Menariknya, nama "Depok" ternyata diberikan oleh seorang pejabat Belanda. Lantas, apa kepanjangan dari nama Depok? Yuk, simak ulasannya di sini!
Nama Depok Ternyata Singkatan dari Bahasa Belanda, Ini Kepanjangannya
Nama Depok Ternyata Singkatan dari Bahasa Belanda, Ini Kepanjangannya/Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom
Depok merupakan singkatan dari De Eerste Protestantse Organisatie van Kristenen, dalam bahasa Indonesia memiliki arti "Organisasi Kristen Protestan Pertama". Istilah ini merujuk pada komunitas yang dibentuk oleh para mantan budak milik Cornelis Chastelein, seorang tuan tanah Belanda yang membebaskan mereka dan mewariskan lahan di wilayah tersebut. Komunitas ini kemudian berkembang menjadi cikal bakal masyarakat Depok modern.
Lantas, siapa sosok Chastelein? Chastelein adalah pegawai VOC selama 20 tahun. Dia memulai karir di kongsi dagang itu sejak usia 20-an. Dari semula hanya pengawas gudang, tapi perlahan terus naik jabatan hingga menjadi saudagar utama dan anggota Dewan Kota Batavia.
Dengan penghasilan yang cukup besar untuk ukuran masa itu, sekitar 200-350 gulden per bulan, ia membeli berbagai lahan di sekitar Batavia, termasuk kawasan yang kini dikenal sebagai Depok. Dilansir CNBC Indonesia dari Depok Tempo Doeloe (2011), tanah pertama yang dibelinya pada 1693 itu berada di kawasan Weltevreden yang kini disebut Gambir. Tanah tersebut difungsikan untuk menanam tebu. Setelah pensiun dari VOC, Chastelein menetap di wilayah Serengseng (kini Lenteng Agung) dan membangun rumah besar.
Ketika Chastelein pindah ke Seringsing, ia tidak hanya membawa keluarganya, tapi juga budak-budaknya. Ia membawa serta keluarganya dan sekitar 150 budak yang berasal dari luar Jawa. Chasletein memperlakukan budak-budaknya secara manusiawi, bahkan membebaskan mereka sebelum meninggal pada 28 Juni 1714.
Para bekas budak yang kemudian jadi anak buahnya, ditugaskan Chastelein mengelola rumah besar di Serengseng. Selain itu mereka juga ditugaskan mengurus perkebunan yang baru saja dibelinya di kawasan Mampang dan Depok. Seluruh lahan itu menghasilkan tanaman penghasil uang, seperti tebu, lada, pala dan kopi.
Chastelein pun makin kaya raya dari hasil itu. Ia jadi salah satu orang terkaya di Batavia (kini Jakarta) sebelum akhirnya tutup usia pada 28 Juni 1714. Setelah wafat, orang-orang tak ribut kemana perginya harta dan tanah miliknya.
Sebab, tiga bulan sebelum wafat, tepat pada 13 Maret 1714, ia sudah menuliskan surat wasiat. Isinya, bahwa ia ingin seluruh hartanya tak hanya dibagikan kepada keluarga, tapi juga dibagikan gratis kepada para bekas budak-budaknya yang dimerdekakan. Tujuannya supaya mereka bisa mandiri dan sejahtera.
Ia juga ingin tanah tersebut berfungsi sebagai tempat penyebaran agama Kristen di Batavia. Amanah ini kemudian membuat para bekas budak Chastelein mendirikan komunitas bernama De Eerste Protestantse Organisatie van Kristenen atau Organisasi Kristen Protestan Pertama. Perlahan, tanah tempat komunitas itu berada berubah nama menjadi Depok, singkatan dari nama komunitas tersebut. Para anggota komunitas atau keturunannya kelak disebut sebagai 'Belanda Depok'.
Di sisi lain, seiring waktu beredar pula versi lain soal arti nama Depok. Salah satu yang populer belakangan ini adalah singkatan baru yakni "Daerah Permukiman Orang Kota", meski jelas tidak punya dasar historis sekuat versi aslinya.
Bagaimana menurutmu, Beauties?
***