Ngeri, Iran Kembali Eksekusi Mati Pendemo Mahsa Amini di Depan Umum

Nadya Quamila | Beautynesia
Selasa, 13 Dec 2022 12:00 WIB
Majidreza Rahnavard, Pendemo di Iran yang Dijatuhi Eksekusi Mati di Depan Publik/Foto: Getty Images/Sean Gallup

Kematian Mahsa Amini, perempuan berusia 22 tahun yang ditangkap lalu tewas karena diduga melanggar aturan hijab setempat, telah memicu gerakan protes anti-pemerintah terbesar di Iran dalam lebih dari satu dekade. Pihak berwenang Iran diketahui melakukan tindakan keras dan brutal terhadap pengunjuk rasa, termasuk eksekusi mati para pendemo.

Iran dilaporkan kembali melakukan eksekusi mati seorang tahanan yang dihukum karena terlibat dalam protes kematian Mahsa Amini. Tahanan yang diketahui bernama Majidreza Rahnavard (23), dieksekusi mati dengan digantung di depan umum di Kota Mashhad pada Senin (12/12) pagi.

Rahnavard dieksekusi mati kurang dari sebulan setelah ia menjadi tahanan. Ia dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan di kota Mashhad yang menjadi pusat protes. Ia dihukum atas tuduhan 'moharebeh' yang memiliki arti berperang melawan Tuhan. Ia juga diduga membunuh dua anggota pasukan paramiliter Basij dan melukai empat lainnya, sebagaimana dilaporkan The Guardian.

Protes kematian Mahsa Amini/ Foto: dia images via Getty Images/dia images

Kantor berita pro-pemerintah Mizan menerbitkan kolase gambar Rahnavard digantung di derek logam, tangan dan kakinya diikat, tas hitam menutupi kepalanya. Anggota pasukan keamanan bertopeng berjaga di depan penghalang beton dan logam yang menahan massa pada Senin pagi.

Rahnavard tidak diizinkan memilih pengacaranya sendiri, menggugat bukti yang memberatkannya, atau meminta agar persidangan diadakan di depan umum.

Jaringan aktivis Iran 1500tasvir mengatakan ibu Rahnavard diizinkan mengunjunginya pada malam sebelum dia dihukum gantung. Namun kala itu, baik Rahvanard dan ibunya belum mengetahui bahwa pria berusia 23 tahun tersebut akan dihukum mati. Usai Rahnavard dieksekusi, keluarganya kemudian diberi nama pemakaman dan nomor plot. Ketika mereka muncul, agen keamanan sedang mengubur tubuh Rahnavard.

Sebuah stasiun TV di Iran menayangkan video di mana Rahnavard mengatakan di pengadilan bahwa dia membenci pasukan Basij setelah melihat mereka memukuli dan membunuh pengunjuk rasa dalam video yang diunggah di media sosial. Aktivis mengatakan dia dipaksa untuk mengaku di bawah siksaan.

Direktur kelompok Hak Asasi Manusia Iran yang berbasis di Oslo, Mahmood Amiry-Moghaddam, memperingatkan bahwa eksekusi mati yang dilakukan di publik terhadap seorang pemuda, segera setelah penangkapannya, menunjukkan "peningkatan tingkat kekerasan yang signifikan terhadap pengunjuk rasa".

"Rahnavard dijatuhi hukuman mati berdasarkan pengakuan yang dipaksakan, setelah proses yang sangat tidak adil dan persidangan pertunjukan," kata Amiry-Moghaddam, dilansir dari The Guardian. "Kejahatan ini harus ditanggapi dengan konsekuensi serius bagi republik Islam."

(naq/naq)