Obsesi Menjadi Versi Terbaik Diri Sendiri, Apakah Selalu Sehat?

Amanda Nabila Noor Azahra | Beautynesia
Kamis, 30 Jul 2026 16:30 WIB
Obsesi Menjadi Versi Terbaik Diri Sendiri, Apakah Selalu Sehat?
Belajar Sebagai Salah Satu Self-Improvement/Foto: pexels.com/Tima Miroshnichenko

Beauties, dalam beberapa tahun terakhir, istilah self-improvement semakin akrab di media sosial. Mulai dari membangun rutinitas pagi, membaca buku, olahraga, hingga mengikuti berbagai kelas demi meningkatkan berbagai skills.

Tentu saja  itu hal yang positif karena kita memiliki keinginan untuk terus berkembang. Namun, pernahkah kamu merasa lelah karena terus berpikir harus menjadi versi yang lebih baik setiap hari? Jika iya, bisa jadi semangat untuk berkembang perlahan berubah menjadi tekanan. Yuk, cari tahu lebih dalam, Beauties! 

Apa Sebenarnya Tujuan dari Self-improvement?

Peduli Terhadap Kesehatan Sebagai Bentuk Self-Improvement/Foto: pexels.com/Cliff Booth

Pada dasarnya, self-improvement hadir dengan tujuan membantu kita mengembangkan dan menemukan potensi diri, baik dalam karier, pendidikan, maupun kehidupan pribadi. Namun, menurut BBC News dan Truity, budaya yang tercipta untuk terus mengoptimalkan diri membuat sebagian orang merasa tidak pernah cukup.

Mereka terdorong untuk terus produktif, membandingkan pencapaian pribadi dengan orang lain, hingga munculnya perasaan bersalah saat bersantai atau beristirahat. Akibatnya, proses tersebut tidak membawa semangat tetapi justru memicu stres, kelelahan, bahkan membuat seseorang sulit menghargai pencapaiannya sendiri.

Berikan Diri Kita Ruang untuk Beristirahat

Pentingnya Untuk Beristirahat Sejenak/Foto: pexels.com/Jana Brenner

Kita semua pasti berkeinginan untuk menjadi lebih baik, namun, itu bukan berarti kita harus mengejar kesempurnaan. Menjadi versi terbaik diri sendiri seharusnya tetap diiringi dengan kemampuan menerima keterbatasan yang dimiliki.

Hal ini juga didukung oleh penelitian berjudul “Exploring the Longitudinal Dynamics of Self-Criticism, Self-Compassion, Psychological Flexibility, and Mental Health in a Three-Wave Study” yang ditulis oleh Ming Yu Claudia Wong, Hong Wang Fung, dan Stanley Kam Ki Lam, yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports pada 2025.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa self-compassion atau sikap berwelas asih kepada diri sendiri berperan penting dalam menjaga kesehatan mental dan membantu mengurangi dampak negatif dari kebiasaan mengkritik diri sendiri. Dalam kata lain, pengembangan diri tidak selalu berarti kita harus menjadi sosok yang sempurna, berikan ruang untuk kita beristirahat, belajar dari kesalahan, dan menerima bahwa setiap orang memiliki jalan yang berbeda.

Beauties, sebagai pengingat bagi kita semua, menjadi versi terbaik diri sendiri tentu merupakan tujuan yang baik, yang menandakan kita peduli pada diri sendiri. Namun, jangan sampai proses tersebut membuatmu merasa harus terus-menerus mengisi ruang yang dirasa kurang.

Bertumbuh merupakan proses yang panjang, yang membuat kita belajar menjadi pribadi yang lebih baik sambil tetap menghargai diri sendiri di setiap prosesnya.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE