Offline is the New Cool, Ini Alasan Anak Muda Mulai Menarik Diri dari Ruang Digital

Amanda Nabila Noor Azahra | Beautynesia
Rabu, 07 Oct 2026 11:30 WIB
Offline is the New Cool, Ini Alasan Anak Muda Mulai Menarik Diri dari Ruang Digital
Anak Muda yang Mulai Menarik Diri dari Ruang Digital/Foto: pexels.com/https://kaboompics.com/

Ada masa ketika berada ke dunia maya dinilai sebagai cara untuk sejenak melupakan kehidupan nyata. Namun, kini sepertinya keadaan mulai berbalik. Sebagian anak muda justru cukup aware dengan aktivitas mereka di sosial media sehingga mencari jeda dari layar dan kembali menikmati aktivitas yang tidak membutuhkan koneksi internet.

Dilansir dari CNBC Make It, fenomena ini dikebal dengan istilah “quiet revolution”, yaitu Gen Z dan milenial mulai mengurangi penggunaan media sosial dan mencari kembali pengalaman yang lebih nyata. Misalnya bertemu teman secara langsung hingga menikmati hobi analog seperti mendengarkan vinyl atau menggunakan ponsel dengan fungsi yang lebih sederhana.

Tren ini bukan diartikan sebagai anak muda yang benar-benar lepas dari teknologi sepenuhnya, tetapi adalah keinginan untuk menentukan kembali kapan harus online dan kapan bisa benar-benar offline. Apakah kalian penasaran juga seperti apa tren ini bekerja? Yuk, cari tahu, Beauties! 

Media Sosial yang Digunakan Sebagai Penghubung Malah Bisa Terasa Melelahkan

Anak muda mulai merasakan kelelahan akibat terus terhubung dengan dunia digital/Foto: pexels.com/Andrea Piacquadio

Media sosial membuat kita bisa mengetahui apa yang sedang dilakukan orang lain hanya dalam hitungan detik. Kita dapat mengikuti kehidupan teman, melihat tren terbaru, sampai menemukan berbagai informasi tanpa perlu berpindah tempat. Tetapi, terus-terusan terhubung juga bisa membuat seseorang merasa kewalahan, Beauties.

Dalam survei Deloitte Digital Consumer Trends 2025 di Inggris, satu dari lima konsumen mengatakan mereka telah menghapus aplikasi media sosial dalam 12 bulan terakhir. Angka tersebut meningkat menjadi 29 persen pada Gen Z. Selain itu, 50 persen responden mengaku mematikan seluruh notifikasi dari setidaknya satu aplikasi, sedangkan 18 persen menggunakan pengaturan batas waktu layar untuk mengurangi penggunaan perangkat. 

Fenomena ini juga dapat dilihat dari sisi psikologis. Penelitian yang dilakukan terhadap 369 emerging adults di Indonesia melalui jurnal yang diterbitkan oleh Universitas Surabaya dengan judul "Social media fatigue in emerging adulthood: exploring the role of fear of missing out and upward appearance comparison" juga menemukan bahwa fear of missing out (FOMO) memiliki peran dalam meningkatnya social media fatigue.

Penelitian ini juga melihat upward appearance comparison, yaitu kecenderungan membandingkan penampilan diri dengan orang lain yang dianggap lebih unggul, sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan kelelahan terhadap sosial media tersebut.

Artinya, rasa lelah terhadap media sosial tidak selalu muncul karena seseorang bosan melihat layar. Justru yang membuat berat adalah algoritma yang muncul melalui sosial media.

Tidak bisa dipungkiri tren dan isu yang ditarik ke sosial media bergerak dengan cepat. Kehidupan orang lain yang terus berjalan, informasi yang tidak ada habisnya, hingga permasalahan public figure, menimbulkan perasaan yang tidak nyaman bahwa kita harus selalu mengikuti semua yang ada di dalamnya.

Bukan Berarti Ingin Menghilang dari Media Sosial

Bukan Berarti Anak Muda Ingin Menghilang dari Media Sosial/Foto: pexels.com/https://kaboompics.com/

Mengurangi penggunaan media sosial bukan berarti seseorang ingin meninggalkan dunia digital sepenuhnya. Data Deloitte justru menunjukkan adanya perilaku yang lebih kompleks. Dalam laporan Digital Consumer Trends 2026 di Irlandia, hampir sepertiga Gen Z mengatakan mereka telah menghapus aplikasi media sosial dari perangkatnya, tetapi di saat yang sama 46 persen mengaku bergabung dengan aplikasi media sosial yang baru. 

Hal tersebut menunjukkan bahwa masalahnya bukan terletak pada media sosial yang ingin ditinggalkan, melainkan mempertanyakan cara penggunaannya. Menghapus satu aplikasi bisa menjadi cara untuk mengurangi distraksi, sementara menggunakan platform lain tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Dengan begitu, offline tidak berarti harus menutup semua akun atau menghilang dari internet. Bisa saja bentuknya jauh lebih sederhana: mematikan notifikasi, berhenti scrolling ketika tidak benar-benar membutuhkan informasi, atau sengaja menyisihkan waktu untuk melakukan sesuatu tanpa membuka ponsel.

Ada Keinginan untuk Kembali Menikmati Dunia Nyata

Anak Muda Mulai Menikmati Lagi Aktivitas Offline/Foto: pexels.com/Vika Glitter

Kecenderungan anak muda untuk bisa lepas dari sosial media justru berfokus pada sesuatu yang lebih sederhana dan bersifat analog. Sebagian anak muda mulai memilih bertemu langsung dengan teman, menikmati musik melalui vinyl, menggunakan brick phone, atau melakukan hobi yang tidak selalu melibatkan media sosial.

Hal positif yang bisa didapat dari aktivitas tersebut adalah kehadiran penuh tanpa adanya distraksi. Misalnya, ketika bertemu teman kita tidak sibuk memeriksa notifikasi, sehingga perhatian tidak terus-menerus terbagi antara percakapan dan layar. Begitu pula ketika mendengarkan musik atau melakukan hobi tanpa merasa perlu mengabadikannya untuk diunggah.

Setelah bertahun-tahun terbiasa mendapatkan hiburan, informasi, komunikasi, bahkan pekerjaan dari satu layar yang sama, melakukan sesuatu tanpa ponsel bisa terasa seperti mengambil kembali ruang yang sebelumnya terlalu banyak diberikan kepada dunia digital.

Jadi Beauties, maksud dari offline is the new cool di sini adalah bagaimana kita tetap menjadikan teknologi sebagai bagian dari kehidupan, tanpa harus mengalihkan sepenuhnya kehadiran kita di dunia nyata. Bagaimana menurutmu?

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE