Terlalu Sering Mengonsumsi Konten Flexing di Media Sosial, Apa Dampaknya?

Nadya Quamila | Beautynesia
Rabu, 23 Sep 2026 13:15 WIB
Terlalu Sering Mengonsumsi Konten Flexing di Media Sosial, Apa Dampaknya?
Terlalu Sering Mengonsumsi Konten Flexing di Media Sosial, Apa Dampaknya?/Foto: Magnific/Magnific

Ada banyak hal yang bisa kita temukan di media sosial. Mulai dari menjalin koneksi, mencari informasi, mendapatkan ilmu baru, hingga membagikan kehidupan dan pengalaman. Ada pula satu fenomena yang tak bisa dilepaskan dari media sosial, yaitu flexing alias memamerkan kekayaan dan status sosial.

Siapa saja bisa flexing di media sosial. Tapi tentu ada beberapa figur dengan jumlah pengikut yang sangat banyak dengan konten-konten bernuansa flexing mereka yang begitu digemari oleh sejumlah orang. Tak jarang, kita akan menemukan berbagai macam komentar pujian saat sosok tersebut menampilkan barang-barang mewah yang ia miliki.

Namun, pertanyaannya, apa yang terjadi jika seseorang gemar menonton konten flexing di media sosial? Apakah secara tidak langsung konten-konten tersebut dapat memotivasinya untuk meraih kesuksesan atau justru membuatnya berpusar dalam perbandingan yang tiada ujungnya?

Mengenal Social Comparison Theory di Tengah Gempuran Konten Flexing di Medsos

4 Orang Ini Paksakan Flexing Dengan Kekayaan Palsu/Foto : pexels.com/Eugene

Mengenal Social Comparison Theory di Tengah Gempuran Konten Flexing di Medsos/Foto : pexels.com/Eugene

Setiap orang memiliki reaksi yang berbeda-beda terhadap konten flexing di media sosial. Ada yang mungkin tidak peduli, tapi ada pula yang menginvestasikan waktu mereka untuk setia menontonnya.

Untuk tipe kedua, melihat konten yang menunjukkan barang-barang mewah atau liburan ke luar negeri setiap bulan, misalnya, tak terelakkan bisa membuat seseorang membandingkan dirinya dengan sosok yang ia lihat di media sosial.

"Kapan aku bisa kaya raya seperti itu?" atau "Enak sekali dia bisa liburan terus ke luar negeri" menjadi kalimat-kalimat yang mungkin berenang di kepala orang yang menonton tipe konten seperti itu.

Konten flexing, secara tidak langsung, bisa memicu seseorang untuk membandingkan dirinya dengan sosok yang terlihat lebih sukses atau kaya raya. Di dalam psikologi, ada sebuah teori bernama "social comparison", yaitu gagasan bahwa individu menentukan nilai sosial dan pribadi mereka dengan membandingkan diri mereka dengan orang lain, dilansir dari Psychology Today.

Teori ini dikembangkan pada 1954 oleh psikolog Leon Festinger, yang meyakini bahwa seseorang melakukan proses perbandingan ini sebagai cara untuk menetapkan tolok ukur yang memungkinkan kita melakukan evaluasi diri secara akurat. Namun, jika perbandingan tersebut tidak efektif, hal ini dapat mengarah pada penilaian diri yang tidak akurat, Beauties.

Terdapat dua jenis social comparison, yaitu perbandingan sosial ke atas (upward social comparison) dan perbandingan sosial ke bawah (downward social comparison).

Dilansir dari Very Well Mind, upward social comparison terjadi ketika kita membandingkan diri sendiri dengan orang-orang yang kita anggap lebih baik atau lebih unggul daripada kita. Perbandingan semacam ini sering kali berfokus pada keinginan untuk memperbaiki diri, status saat ini, atau tingkat kemampuan kita.

Kita mungkin membandingkan diri dengan seseorang yang memiliki kondisi lebih baik dan mencari cara untuk mencapai hasil serupa. Tipe ini bisa terjadi ketika kita sering menonton konten flexing di media sosial dan berujung pada membandingkan diri.

Sementara itu, downward social comparison terjadi ketika kita membandingkan diri sendiri dengan orang-orang yang kondisinya lebih buruk daripada kita. Perbandingan semacam ini sering kali bertujuan membuat kita merasa lebih baik mengenai kemampuan atau sifat-sifat kita. Meskipun kita mungkin tidak unggul dalam suatu hal, menyadari bahwa kita lebih baik daripada orang lain dapat meningkatkan harga diri kita.

Dampak Social Comparison

cara mencegah brain rot akibat penggunaan media sosial

Dampak Social Comparison/Foto: Magnific.com

Membandingkan diri dengan orang lain, rasa-rasanya, adalah perilaku yang pasti pernah dilakukan oleh semua manusia, dan ini adalah hal yang wajar. Sikap membandingkan diri ini bisa membuat kita saling belajar satu sama lain dan mencegah kita tertinggal terlalu jauh dari potensi maksimal kita.

Namun, kebiasaan ini juga bisa menimbulkan stres, membuat kita menjadi lebih kompetitif, hingga terpuruk dan merasa buruk akan diri sendiri, Beauties.

Dalam konteks konten flexing di media sosial, kita memerhatikan orang-orang yang kita anggap lebih beruntung atau lebih sukses daripada kita. Awalnya, kita berharap bisa mendapatkan inspirasi dan menumbuhkan motivasi atau optimisme. Di satu sisi, kita mungkin akan terpicu untuk meraih kesuksesan versi kita, tapi di sisi lain, kita mungkin merasa iri atas pencapaian orang lain dan berujung membandingkan situasi kita dengan orang tersebut.

Ada beberapa faktor yang menentukan apakah social comparison bisa berdampak positif atau negatif pada seseorang, misalnya harga diri, tingkat stres yang dihadapi, serta apakah kita melakukan perbandingan sosial ke arah atas atau ke arah bawah.

Orang dengan harga diri lebih tinggi dan tingkat stres lebih rendah cenderung lebih mampu menyikapi perbandingan sosial dengan baik. Mereka juga mungkin cenderung tidak terlalu sering membandingkan diri mereka dengan orang lain.

Sebaliknya, mereka yang memiliki harga diri lebih rendah atau menghadapi tekanan maupun stres yang lebih berat, akan mengalami stres dan penurunan suasana hati saat melakukan perbandingan ke atas, atau dalam konteks ini, kepada sosok yang sering flexing di media sosial. Akibatnya, mereka merasa diri mereka tidak cukup baik, tidak layak, bahkan menjadi tidak bersyukur dengan apa yang ia miliki.

Konten yang dikemas sedemikian rupa di media sosial membawa perbandingan sosial ini ke tingkat yang jauh berbeda. Kita melihat orang lain melakukan hal-hal yang tidak kita lakukan, lalu kita mungkin merasa stres sembari bertanya-tanya apakah kita sudah melakukan, menghasilkan, dan menikmati hidup dengan cukup. Kita membandingkan kehidupan kita dengan momen-momen terbaik orang lain yang telah dikurasi secara cermat.

Dampak Lain dari Konten Flexing di Media Sosial

Selain membandingkan diri sendiri, ada beberapa dampak lainnya yang terjadi jika seseorang terlalu sering menonton konten flexing di media sosial:

  • Standar yang tidak realistis: seseorang jadi memiliki standar yang tidak realistis soal kehidupan. Tanpa sadar, ada tekanan terselubung untuk menyamai atau mencapai standar yang tidak realistis tersebut, dan memicu tekanan psikologis yang mendalam, kecemasan, hingga perasaan depresi.
  • Pembelian kompulsif: melihat barang-barang yang dipamerkan di konten flexing bisa mendorong seseorang untuk melakukan pembelian kompulsif, yaitu berbelanja di luar kendali terlepas dari apakah barang tersebut dibutuhkan atau tidak. Bahkan, mereka juga terdorong membeli barang di luar kemampuan finansial hanya untuk mendapatkan validasi.
  • Menciptakan FOMO (fear of missing out): merasa tertinggal jika tidak mengikuti tren yang tercipta dari konten flexing, membuat mereka terus-menerus teralihkan perhatiannya dan merasa tidak puas dengan kehidupan sehari-hari mereka.

China Sempat Luncurkan Kampanye untuk Larang Konten Flexing

Flexing hasil belanjaan hanya demi terlihat keren di media sosial, apalagi untuk barang yang tidak menambah nilai jangka panjang justru bisa menimbulkan stres finansial./ Foto: Freepik.com/stockking

China Sempat Luncurkan Kampanye untuk Larang Konten Flexing/Foto: Freepik.com/stockking

China sempat mengeluarkan kampanye yang melarang konten flexing di media sosial, Beauties. 

China's Cyberspace Administration membuat sebuah kampanye bertajuk "Bright and Clear" pada 2024 yang melarang influencer untuk flexing atau pamer harta kekayaan di media sosial. Tujuannya adalah untuk mencegah kejahatan di platform online, seperti bullying hingga diskriminasi.

Ribuan konten flexing dari para influencer dihapus karena dianggap mempromosikan 'nilai-nilai buruk'. Beberapa platform yang menghapus jenis konten ini adalah Weibo (Twitter versi China), Xiaohongshu (Instagram versi China), dan Douyin (TikTok versi China).

Dilansir dari Business Insider, Weibo, yang memiliki hampir 600 juta pengguna aktif, mengunggah daftar jenis konten flexing yang dilarang, yaitu:

  • Menampilkan mobil mewah atau rumah mahal sebagai gimmick untuk memasarkan produk atau membangun reputasi seseorang.
  • Mengunggah gambar uang tunai dalam jumlah besar atau orang sedang melempar uang kertas.
  • Menampilkan layanan atau barang mewah untuk melebih-lebihkan bagaimana seseorang dapat memperoleh “jutaan dalam sebulan”, mencapai kemandirian finansial, atau memulai bisnis yang menguntungkan dari awal.
  • Membahas "rumah tangga generasi kedua", sebuah istilah yang biasanya menggambarkan orang-orang yang menikmati kekayaan karena orang tuanya kaya.
  • Memfilmkan anak di bawah umur yang menggunakan barang mewah untuk mencari engagement dan sensasi.
  • Menampilkan konten yang menekankan diskriminasi kelas, yang disebut oleh Weibo sebagai tindakan yang "melebih-lebihkan dan membesar-besarkan perjuangan kelas bawah untuk bertahan hidup."

Ini bukan pertama kalinya pemerintah China berusaha mengawasi perilaku di internet untuk memberantas tren sosial yang dianggap dapat merusak. Pada 2022, pemerintah mengeluarkan 'kode etik' yang melarang penyiar siaran langsung untuk “menampilkan atau mengiklankan sejumlah besar barang mewah, perhiasan, uang tunai, dan aset lainnya.

Keputusan ini diambil ketika China semakin sensitif terhadap orang-orang kaya yang memamerkan kekayaan mereka ketika negara tersebut menghadapi kemerosotan ekonomi yang signifikan.

Pada September 2022, kesenjangan pendapatan antara orang terkaya dan termiskin mencapai nilai tertinggi sejak pencatatan pada 1985. Perlambatan ekonomi yang terjadi sangat berdampak pada masyarakat kelas menengah.

Anak muda di China juga tengah bersaing ketat untuk mendapatkan pekerjaan. Beberapa dari mereka memilih untuk menolak bekerja berlebihan dan menarik diri dari masyarakat. Namun, ada pula yang menganggap bahwa membuat konten di media sosial sebagai satu-satunya karier yang layak dijalani.

“Ketika kebanyakan orang tidak bahagia dengan kehidupan mereka sendiri, mereka melihat semua konten online yang tidak terhubung dengan kenyataan, melihat semua orang yang tampak begitu bahagia dan kaya, hal ini menciptakan psikologi yang sangat menyesatkan,” ujar Lyla Lai, mantan influencer kecantikan yang memiliki lebih dari satu juta pengikut di Douyin, kepada NBC News.

"Kekhawatiran tentang anak muda saat ini yang terlalu sering melihat hal-hal ini [konten flexing] dan tidak lagi fokus pada studi mereka, terjebak dalam materialisme yang berlebihan dan serakah," tambahnya.

Bagaimana menurutmu, Beauties?

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE