Profil Ruth Bader Ginsburg, Hakim Agung yang Jadikan Kerah Jubah Jadi Simbol Perjuangan Hak Perempuan

Sri Purwantiningrum | Beautynesia
Rabu, 16 Sep 2026 07:00 WIB
Berbagai Penolakan yang Menempa RBG Menjadi
Ruth Bader Ginsburg muda yang gigih saat fokus bekerja di Italia pada tahun 1977/ Foto: globalcitizen.org/Supreme Court of the United States

Ruth Bader Ginsburg, atau yang lebih akrab disapa RBG, adalah seorang hakim agung yang memberi pengaruh luar biasa di ruang sidang Mahkamah Agung Amerika Serikat. Ia dikenal sebagai sosok tangguh yang mendedikasikan hidupnya untuk membela keadilan, terutama hak perempuan. Ikon keadilan ini telah berpulang pada September 2020 lalu di usia 87 tahun akibat komplikasi kanker.

Dirangkum dari laman Global Citizen, Encyclopedia Britannica, Reuters, dan Town & Country, inilah kisah inspiratif Ruth Bader Ginsburg yang berhasil menyulap kerah jubahnya menjadi simbol perlawanan ikonik. Yuk, kita simak perjalanannya!

Berbagai Penolakan yang Menempa RBG Menjadi

Ruth Bader Ginsburg muda yang gigih saat fokus bekerja di Italia pada tahun 1977/ Foto: globalcitizen.org/Supreme Court of the United States

Perjuangan RBG berangkat dari pengalaman pahitnya sendiri. Lulus dengan nilai gemilang dari Columbia Law School pada tahun 1959 tidak lantas membuatnya mudah mendapatkan pekerjaan. Saat itu, ia sempat ditolak oleh banyak firma hukum hanya karena ia seorang perempuan dan seorang ibu.

Diskriminasi ini tak hanya terjadi sekali. Saat bekerja sebagai dosen pun, ia terpaksa memakai baju kebesaran demi menyembunyikan kehamilannya agar kontrak kerjanya tidak diputus. Bukannya menyerah, rentetan pengalaman diskriminatif ini justru menempanya menjadi sosok yang gigih. Kompetensinya sangat dihormati, bahkan sahabat sekaligus koleganya, Hakim Antonin Scalia, menjulukinya harimau di ruang sidang yang siap mengoyak argumen-argumen konyol tanpa ampun.

Strategi Cerdas Membela Hak Perempuan Lewat Kacamata Kesetaraan

Ketegasan Ruth Bader Ginsburg saat berargumen di sidang konfirmasi Senat tahun 1993/ Foto: space.com/Rob Crandall

Sepanjang kariernya, RBG mendedikasikan diri untuk meruntuhkan tembok penghalang bagi perempuan. Berkat perjuangannya yang tak kenal lelah, perempuan di AS akhirnya memiliki hak untuk mandiri secara finansial seperti membuka rekening bank dan kartu kredit tanpa butuh tanda tangan suami. Ia juga berhasil mengesahkan aturan agar perempuan tidak dipecat hanya karena hamil, dan memaksa institusi pendidikan yang didanai negara untuk berhenti menolak pendaftar perempuan.

Namun, taktik hukumnya tak cuma membela satu sisi. RBG sadar bahwa kesetaraan sejati harus memihak semua orang. Untuk membuktikan bahwa bias gender itu nyata, ia juga membela pria yang menjadi korban stereotip. Misalnya, pada pertengahan 1970-an, ia berhasil memenangkan kasus pria yang ditolak saat meminta tunjangan sosial dari mendiang istrinya.

Lewat taktik dari berbagai sudut pandang ini, RBG membuka mata pengadilan bahwa sistem yang diskriminatif merugikan siapa saja. Prinsip inilah yang terus ia gaungkan, seperti dalam kutipannya yang paling membekas: "Perempuan berhak berada di semua tempat di mana keputusan dibuat. Tidak seharusnya perempuan hanya menjadi pengecualian.”

Dissenting Collar: Simbol Perlawanan Tanpa Kata

Ruth Bader Ginsburg mengenakan Dissenting Collar yang jadi simbol penolakannya di ruang sidang/ Foto: mercurynews.com/Mandel Ngan

Awalnya, jubah standar hakim di Mahkamah Agung AS hanya didesain untuk pria, dengan kerah 'V' untuk memperlihatkan kemeja dan dasi. Untuk menyiasati hal ini sekaligus memberi sentuhan feminin, RBG mulai rutin memakai kerah hiasan atau jabot di atas jubah hitamnya.

Aksesori ini kemudian berevolusi menjadi alat komunikasi simbolis, bukan sekadar fashion statement. Jika ia memakai kerah putih berenda atau kuning berliontin yang elegan, itu menandakan ia setuju dengan opini mayoritas.

Namun, yang paling ikonik adalah dissenting collar alias "kerah penolakan". Saat ia mengenakan kerah gelap dengan detail tajam, semua orang di ruang sidang tahu bahwa RBG sedang bersiap menentang keputusan yang dianggapnya tidak adil.

Kutipan andalannya sangat lugas: "I dissent" (Saya menolak). Saking lantangnya ia bersuara demi keadilan, generasi muda menjulukinya "Notorious R.B.G.". Ia bertransformasi dari seorang hakim yang serius menjadi pahlawan budaya pop yang diabadikan dalam film hingga action figure.

Lewat kecerdasan dan ketelitiannya, Ruth Bader Ginsburg menunjukkan bahwa perlawanan tidak selalu membutuhkan teriakan. Terkadang, sebuah argumen yang berbobot dan selembar kerah jubah sudah cukup untuk menggetarkan dunia.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE