Satwa Jadi Korban Karhutla, dari Bekantan hingga Orang Utan
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia membawa duka mendalam bagi masyarakat. Hingga saat ini, belum sepenuhnya titik api berhasil dipadamkan, baik di Kalimantan dan Sumatera. Seiring dengan meluasnya api, semakin banyak pula keanekaragaman hayati yang menghilang, Beauties.
Banyak satwa liar yang habitatnya dilahap kobaran api. Tak sedikit pula yang nyawanya direnggut. Mulai dari bekantan, monyet, hingga ular, penghuni hutan turut menjadi korban karhutla akibat ulah manusia.
Orang Utan yang Terancam
Mama Penja, orang utan di Kayong Utara, alami luka bakar dan anemia berat akibat karhutla/ Foto: Dok. YIARI
Kebakaran hutan tidak hanya menyebabkan asap yang berbahaya dihirup manusia dan hewan, tapi juga mengakibatkan orang utan kehilangan tempat tinggalnya. Di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kalimantan Tengah, kebakaran mencapai 3.105,47 hektare, seperti yang dikutip dari DetikTravel. Operasi pemadaman dikerahkan maksimal agar api tidak menyebar.
TNTP selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan penting bagi kelangsungan hidup orang utan Kalimantan atau Pongo pygmaeus, Beauties. Kebakaran yang terjadi di wilayah tersebut mengancam satwa yang dilindungi itu.
Namun bukan hanya habitatnya saja yang terancam, karhutla juga telah melukai orang utan itu sendiri. Di daerah Kayong Utara, Kalimantan Barat, seekor orang utan betina bernama Mama Penja ditemukan dalam kondisi kurus, dehidrasi, anemia berat, hingga mengalami luka bakar pada kedua kaki. Dia ditemukan bersama anaknya dengan kondisi yang sama memprihatinkan di salah satu kebun sawit milik warga transmigrasi di Desa Penjalaan. Lokasi itu berada di sekitar kawasan hutan yang terdampak kebakaran hebat.
Melansir DetikTravel, Mama Penja diselamatkan tim gabungan Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Yayasan Palung, Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Penjalaan, LPHD Padu Banjar, dan masyarakat, Sabtu (12/9/2026).
"Saat kami tiba di lokasi, kami melihat induk orang utan dan anaknya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Keduanya terlihat sangat kurus dan lemas, dan hampir tidak bergerak dari sarangnya," kata Dokter hewan satwa liar sekaligus Direktur Utama YIARI, Dr Karmele Llano Sanchez, kepada detikKalimantan, Senin (14/9/2026).
12 Bekantan Mati Terbakar
Bekantan Kalimantan/ Foto: Dok. Animalium BRIN
Kabar buruk lainnya yaitu dua belas ekor bekantan yang mati akibat terbakar dikonfirmasi oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalimantan Selatan di area Penggunaan Lain (APL) Desa Balimau. Melansir dari CNN Indonesia, habitat mereka berada di Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) dengan populasi mencapai 60 ekor. BKSDA Kalsel telah menguburkan bangkai bekantan yang ditemukan.
Kepala BKSDA Kalsel Agus Ngurah Krisna menyampaikan kebakaran hutan terutama terjadi di kawasan milik masyarakat dengan sekitar 80 persen lahan terbakar. Sementara kawasan tanah desa aman dari kebakaran. Bekantan yang mati tersebut ditemukan berada di kawasan milik masyarakat, Beauties. Kobaran api yang cukup besar dan angin kencang, serta kondisi habitat yang terbatas diduga menyebabkan bekantan kesulitan untuk menyelamatkan diri. Selain bekantan, ditemukan pula satu ular piton dan satu ular king cobra yang mati akibat karhutla.
Monyet dan Ular Hangus
Di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, karhutla turut memakan nyawa satwa liar, di antaranya monyet dan ular. Mereka ditemukan dalam kondisi hangus terbakar di sekitar Jembatan Bakung dan Jembatan Tanah Ambau di Kabupaten Seruyan.
Mengutip DetikKalimantan, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Seruyan Agus Supriadi, menyampaikan pada hari Selasa (15/9/2026), "Sejumlah satwa liar juga ditemukan mati dengan kondisi hangus setelah kebakaran melanda kawasan tersebut pada Senin malam. Satwa yang ditemukan menjadi korban kebakaran di antaranya monyet dan ular.”
Diketahui area tersebut didominasi semak belukar, kayu kering, dan lahan gambut yang mudah terbakar. Ketika api meluas dengan cepat, maka satwa akan kesulitan untuk mencari tempat berlindung dan menyelamatkan diri.
Karhutla yang terjadi di sebagian besar Pulau Kalimantan ini pun menjadi ancaman serius bagi ekosistem, Beauties. Banyak satwa liar yang dilindungi menjadi korban, mungkin jumlahnya lebih banyak dari apa yang telah disebutkan dan masih belum ditemukan.
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!