“Kebahagiaan” merupakan kata yang kerap kali kita dengar dalam ungkapan-ungkapan, terutama yang menyiratkan harapan. Bagaimana tidak? Kebahagiaan sering kali dianggap sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan dengan segala cara. Namun pada kenyataannya, tidak jarang kita mendapati bahwa semakin dikejar, kebahagiaan justru semakin menjauh.
Mengutip dari laman Inc, Arthur Brooks, seorang peneliti kebahagiaan dari Harvard hal tersebut dapat terjadi karena banyak dari kita yang memiliki pemahaman keliru tentang makna kebahagiaan yang sesungguhnya. Berkaitan dengan itu pula, terdapat beberapa mitos utama yang dapat menghambat kebahagiaan. Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.
Kebahagiaan Sama dengan Perasaan Senang
Bukan hanya merasa senang/ Foto: Freepik.com/master1305 |
Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa kebahagiaan sama dengan perasaan senang. Namun menurut Brooks, kebahagiaan bukanlah perasaan atau emosi sesaat. Emosi hanya merupakan tanda dari apa yang terjadi di sekitar kita. Emosi negatif memberi tahu kita tentang sesuatu yang perlu dihindari, sementara emosi positif menarik kita pada hal-hal yang menyenangkan.
Dengan demikian, “perasaan” semata tidak mencerminkan kebahagiaan. Misalnya, senang karena menikmati makanan lezat adalah pengalaman positif, tapi bukan berarti kita sudah mencapai kebahagiaan yang sebenarnya. Kebahagiaan lebih dalam dari sekadar perasaan senang sesaat.