STATIC BANNER
160x600
STATIC BANNER
160x600
BILLBOARD
970x250

Sedih! Perempuan di Zimbabwe Terpaksa Gunakan Kotoran Sapi Sebagai Pengganti Pembalut yang Mahal

Nadya Quamila | Beautynesia
Senin, 01 Aug 2022 08:00 WIB
Sedih! Perempuan di Zimbabwe Terpaksa Gunakan Kotoran Sapi Sebagai Pengganti Pembalut yang Mahal

Menstruasi adalah hal natural bagi perempuan. Pembalut pun menjadi salah satu kebutuhan dasar yang harus dimiliki oleh perempuan saat menstruasi. Namun kenyataan pahitnya, masih banyak perempuan di dunia ini yang tidak mampu membeli produk tersebut, salah satunya di Zimbabwe.

Remaja perempuan di Zimbabwe terpaksa bolos sekolah karena tidak mampu membeli pembalut saat menstruasi. Dilansir dari Africa News, remaja perempuan di pedesaan Zimbabwe bahkan harus menggunakan kotoran sapi sebagai pengganti pembalut ketika menstruasi. Hal ini karena inflasi yang membuat produk menstruasi menjadi begitu mahal.

Constance Dimingo (19) mengaku terakhir kali ia menggunakan pembalut adalah sebelum ibunya meninggal tahun lalu. 

"Saya terakhir memakai pembalut sebelum ibu saya meninggal tahun lalu," keluhnya, dilansir dari Africa News.

Pembalut banyak digunakan ketika haidIlustrasi pembalut/Foto: Pexels/ Sora Shimazaki

"Sekarang, saya harus menggunakan apa saja yang bisa saya temukan, kotoran sapi, dedaunan, koran, dan pakaian, untuk menghentikan kebocoran darah. Saya berharap ibu saya masih hidup untuk membelikan saya pembalut dan obat untuk nyeri haid saya," pungkasnya.

Constance adalah salah satu dari 72 persen anak perempuan yang terletak di kota pedesaan Domboshava, 30 km sebelah utara ibukota Harare yang tidak memiliki akses ke produk menstruasi, menurut sebuah studi oleh SNV Netherlands Development Organization di Zimbabwe.

Dengan harga sekitar 2 USD (setara Rp30 ribu), pembalut merupakan barang 'mahal' bagi sebagian besar 3 juta anak perempuan di Zimbabwe yang sedang mengalami menstruasi dan hidup di garis kemiskinan.

Constance bersama saudaranya meminta bantuan pada nenek mereka, Vhene Gumedhe, untuk membantu membuat pembalut yang terbuat dari kotoran sapi. Kotoran sapi tersebut dibentuk kemudian dibiarkan kering agar bisa menyerap darah. Lalu, kotoran sapi yang sudah kering tersebut dibungkus dengan potongan kain selimut tua sebelum ditempelkan di celana dalam layaknya pembalut.

Pembalut KonvensionalIlustrasi pembalut/Foto: Pexels.com/Polina Zimmerman

"Mereka memiliki aliran yang deras pada siklus yang biasanya berlangsung enam hari. Kami lebih suka metode ini karena dapat menyerap banyak darah.Pembalut adalah barang mewah yang tidak bisa saya beli untuk cucu saya," ungkap Vhene.

Menurut Kementerian Perempuan dan Pemuda Zimbabwe, 67 persen anak perempuan bolos sekolah saat menstruasi karena kurangnya akses ke produk sanitasi dan fasilitas sanitasi bersih. Sedangkan anak perempuan penyandang disabilitas biasanya putus sekolah sama sekali.

Selain bolos sekolah, para ahli kesehatan mengatakan metode pembalut menggunakan kotoran sapi ini menjadi tempat berkembang biaknya salmonella, E. Coli, dan beberapa bakteri yang dapat menyebabkan infeksi kesehatan reproduksi.

"Anak perempuan itu mengeluh gatal dan sensasi terbakar di vagina. Saat diperiksa di rumah sakit, kami melihat adanya infeksi jamur, infeksi saluran urogenital, dan tanda-tanda awal kanker serviks akibat penyisipan di saluran vagina," tutur Theresa Nkhoma, Pekerja Pengasuhan Anak Komunitas di bawah Kementerian Layanan Umum, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Sosial Zimbabwe.

HARARE, ZIMBABWE - SEPTEMBER 30: A Grade 7 level pupil during an in-class session two days after the school's resumption on September 30, 2020 in Harare, Zimbabwe. The country's schools partly reopened this week for students in two grades, as part of a phased return that should see all pupils welcomed back in November. However many teachers are not returning to work, demanding a pay raise. Schools were shut in March in a bid to curb the spread of Covid-19. (Photo by Tafadzwa Ufumeli/Getty Images)Pelajar di Zimbabwe/ Foto: Getty Images/Tafadzwa Ufumeli

Melihat fenomena tersebut, sebuah kelompok masyarakat di pedesaan Zimbabwe berinisiatif membuat pembalut yang dapat digunakan kembali (reusable menstrual pad) agar anak perempuan tidak bolos sekolah ketika mereka sedang menstruasi.

The Chiedza Community Welfare Trust, di Distrik Mutasa Zimbabwe, mulai menjahit pembalut kain ketika pendirinya, Gladys Mukaratirwa, menyadari bahwa anak perempuan di Zimbabwe setempat bolos sekolah setiap bulan karena mereka tidak mampu membeli pembalut sekali pakai.

"Kalau dihitung dua sampai lima hari per bulan, sekitar 45 hari per tahun waktu sekolah yang terbuang percuma, sehingga kami menyadari perlunya mereka memiliki sumber pembalut yang berkelanjutan," kata Mukaratirwa, dikutip dari Reuters.

Kelompok tersebut, yang dijalankan oleh sukarelawan perempuan, menjual pembalutnya kepada individu dan badan amal di seluruh Zimbabwe untuk dibagikan kepada siswi dan perempuan.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE