Beauties, pernah tidak merasa keberhasilan yang kamu raih masih terasa kurang? Padahal, orang lain melihatmu sebagai seseorang yang mampu dan sudah melakukan banyak hal. Perasaan seperti ini bisa jadi tanda imposter syndrome.
Istilah imposter syndrome pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Pauline Rose Clance dan Suzanne Imes pada 1978. Melansir Stanford Center for Teaching and Learning, hal ini bisa membuat seseorang terus meragukan kemampuan dirinya sendiri meski sebenarnya sudah memiliki berbagai pencapaian.
Kondisi ini cukup sering dialami oleh perempuan, terutama mereka yang memiliki tanggung jawab besar dalam pekerjaan, termasuk di posisi kepemimpinan. Tekanan untuk terus membuktikan diri, ekspektasi tinggi, dan bias gender bisa membuat rasa percaya diri ikut terpengaruh.
Akibatnya, seseorang bisa merasa harus bekerja lebih keras dari orang lain, sulit menikmati keberhasilan sendiri, atau ragu mengambil kesempatan baru karena takut tidak mampu menjalaninya.
Supaya rasa ragu itu tidak terus menghambat langkahmu, ada beberapa cara mengatasi imposter syndrome yang bisa kamu coba terapkan. Berikut penjelasan lengkapnya.