Sebuah brand fashion lokal belakangan ini menjadi sorotan lantaran menjual pakaian dengan tulisan yang mengandung unsur seksual yang dianggap merendahkan perempuan. Tulisan tersebut sontak menuai kontroversi lantaran dinilai mengandung kata-kata yang kurang pantas untuk dijadikan desain pakaian yang dikenakan di ruang publik.
Terlepas dari kontroversi tersebut, fenomena ini kembali membuka pembahasan mengenai candaan seksis dan misoginis yang masih sering dianggap sebagai sesuatu yang lucu. Padahal, ketika perkataan yang merendahkan perempuan terus dibungkus sebagai humor, ada efek-efek yang tidak bisa dianggap sepele.
Memang seperti apa, sih, dampak candaan seksis dan misoginis bagi perempuan? Lalu kenapa hal ini masih terus dinormalisasi? Yuk, kita bahas sama-sama!
Fenomena Candaan Misoginis di Dunia Fashion
Saat memasarkan produk, tentu setiap brand ingin produknya dilirik sebanyak mungkin. Sayangnya, prinsip ini sering diterapkan berlebihan, salah satunya dengan penggunaan kalimat yang dianggap nyeleneh, vulgar, bahkan kontroversial sebagai bagian dari strategi marketing. Pasalnya, kalimat yang memancing reaksi dipercaya dapat membuat sebuah produk lebih mudah diperbincangkan dan berpotensi mendatangkan perhatian di media sosial.
Strategi tersebut bisa menjadi persoalan ketika humor yang digunakan justru mengandung unsur seksisme atau misogini. Alih-alih sekadar membuat produk terlihat unik, penggunaan kalimat yang merendahkan perempuan dapat ikut membuat perkataan semacam itu terasa wajar.
Melansir Very Well Mind, misogini sendiri merujuk pada sikap atau perilaku yang menunjukkan kebencian, penghinaan, atau prasangka terhadap perempuan. Sementara seksisme berkaitan dengan diskriminasi atau stereotip berdasarkan gender.
Menurut Komnas HAM, seksisme dan misogini sama-sama menempatkan perempuan dalam posisi yang lebih rendah dibandingkan pria. Namun, misogini memiliki dampak yang lebih jauh karena mengandung unsur kebencian terhadap perempuan.
Masalahnya, bentuk-bentuk tersebut tidak selalu hadir dalam pernyataan yang terang-terangan membenci perempuan. Bisa saja muncul melalui candaan, stereotip, komentar mengenai tubuh, atau kalimat yang dianggap “cuma lucu-lucuan”, termasuk tulisan-tulisan yang tercetak pada produk fashion.