Stop Normalisasi Candaan Misoginis, Ini Dampaknya pada Perempuan

Riswinanti Pawestri Permatasari | Beautynesia
Jumat, 11 Sep 2026 18:00 WIB
Candaan Seksis-Misoginis Bisa Mengarah pada Pelecehan Verbal
Ilustrasi Candaan Misoginis/Foto: Magnific.com/rawpixel.com

Sebuah brand fashion lokal belakangan ini menjadi sorotan lantaran menjual pakaian dengan tulisan yang mengandung unsur seksual yang dianggap merendahkan perempuan. Tulisan tersebut sontak menuai kontroversi lantaran dinilai mengandung kata-kata yang kurang pantas untuk dijadikan desain pakaian yang dikenakan di ruang publik.

Terlepas dari kontroversi tersebut, fenomena ini kembali membuka pembahasan mengenai candaan seksis dan misoginis yang masih sering dianggap sebagai sesuatu yang lucu. Padahal, ketika perkataan yang merendahkan perempuan terus dibungkus sebagai humor, ada efek-efek yang tidak bisa dianggap sepele.

Memang seperti apa, sih, dampak candaan seksis dan misoginis bagi perempuan? Lalu kenapa hal ini masih terus dinormalisasi? Yuk, kita bahas sama-sama!

Fenomena Candaan Misoginis di Dunia Fashion

Saat memasarkan produk, tentu setiap brand ingin produknya dilirik sebanyak mungkin. Sayangnya, prinsip ini sering diterapkan berlebihan, salah satunya dengan penggunaan kalimat yang dianggap nyeleneh, vulgar, bahkan kontroversial sebagai bagian dari strategi marketing. Pasalnya, kalimat yang memancing reaksi dipercaya dapat membuat sebuah produk lebih mudah diperbincangkan dan berpotensi mendatangkan perhatian di media sosial.

Strategi tersebut bisa menjadi persoalan ketika humor yang digunakan justru mengandung unsur seksisme atau misogini. Alih-alih sekadar membuat produk terlihat unik, penggunaan kalimat yang merendahkan perempuan dapat ikut membuat perkataan semacam itu terasa wajar.

Melansir Very Well Mind, misogini sendiri merujuk pada sikap atau perilaku yang menunjukkan kebencian, penghinaan, atau prasangka terhadap perempuan. Sementara seksisme berkaitan dengan diskriminasi atau stereotip berdasarkan gender.

Menurut Komnas HAM, seksisme dan misogini sama-sama menempatkan perempuan dalam posisi yang lebih rendah dibandingkan pria. Namun, misogini memiliki dampak yang lebih jauh karena mengandung unsur kebencian terhadap perempuan.

Masalahnya, bentuk-bentuk tersebut tidak selalu hadir dalam pernyataan yang terang-terangan membenci perempuan. Bisa saja muncul melalui candaan, stereotip, komentar mengenai tubuh, atau kalimat yang dianggap “cuma lucu-lucuan”, termasuk tulisan-tulisan yang tercetak pada produk fashion.

Candaan Seksis-Misoginis Bisa Mengarah pada Pelecehan Verbal

Ilustrasi Candaan Misoginis/Foto: Magnific.com/rawpixel.com

Salah satu alasan candaan seksis perlu diperhatikan adalah karena batas antara humor dan pelecehan dapat menjadi semakin kabur ketika ucapan yang merendahkan terus dianggap sebagai lelucon.

Pelecehan seksual verbal dijelaskan sebagai bentuk kekerasan yang dilakukan melalui ucapan, komentar, atau candaan bernuansa seksual. Bentuknya dapat berupa komentar mengenai tubuh, candaan cabul, catcalling, hingga ucapan seksual yang tidak diinginkan.

Sayangnya, perilaku tersebut masih sering dianggap sepele karena pelakunya dapat berlindung di balik alasan sedang bercanda. Padahal, ketika ucapan tersebut tidak diinginkan dan membuat orang lain merasa tidak nyaman, hal itu tetap bisa melewati batas personal.

Dilansir dari detikSumut,psikolog Dr Meutia Nauly menjelaskan bahwa humor seksis merupakan candaan yang merendahkan, menstereotipkan, atau mengobjektifikasi seseorang berdasarkan gender, terutama perempuan.

Menurutnya, humor seksis tidak lagi bisa dianggap sekadar candaan biasa. Bentuk humor tersebut dapat menjadi kekerasan verbal seksual sekaligus kekerasan simbolik karena dilakukan secara halus dan sering kali tidak disadari.

Ketika candaan seperti ini terus dibiarkan, batas antara bercanda dan melecehkan pun menjadi semakin samar. Orang yang merasa tidak nyaman bahkan bisa dianggap terlalu sensitif hanya karena memilih untuk menyampaikan keberatannya.

Sepele Tapi Berdampak Besar

Ilustrasi korban

Ilustrasi/Foto: Ilustrasi dari LLLLixi

Bagi orang yang mengucapkannya, sebuah candaan misoginis mungkin terasa sebagai ucapan singkat yang akan segera dilupakan. Namun, bagi perempuan yang menjadi sasaran atau mendengarnya, dampaknya bisa lebih Panjang.

Dr Meutia Nauly menjelaskan bahwa humor seksis dapat membuat perempuan merasa tidak nyaman, tersinggung, bahkan terhina. Dalam jangka panjang, paparan terhadap perilaku semacam ini juga dapat memengaruhi rasa aman dan konsep diri perempuan.

Ketika komentar mengenai tubuh, seksualitas, atau kemampuan perempuan terus dijadikan bahan lelucon, perempuan juga dapat semakin sering ditempatkan sebagai objek yang boleh dikomentari atau ditertawakan.

Di sinilah normalisasi menjadi persoalan. Sesuatu yang terus dilihat dan didengar sebagai hal yang biasa lama-kelamaan dapat kehilangan kesan “tidak pantas”. Candaan yang awalnya membuat orang merasa risih bisa berubah menjadi sesuatu yang dianggap lumrah karena terlalu sering ditemui. Namun, rasa tidak nyaman yang muncul tetap tidak bisa diabaikan.

Pelecehan seksual verbal juga tidak selalu terjadi melalui percakapan langsung. Di era digital, ucapan bernuansa seksual dan candaan yang merendahkan dapat tersebar melalui media sosial maupun ruang percakapan dan menjangkau lebih banyak orang. Bentuk pelecehan seperti ini sering kali tidak disadari atau bahkan dinormalisasi.

Karena itu, persoalannya bukan hanya mengenai satu tulisan pada sebuah pakaian. Ketika bahasa yang merendahkan perempuan terus direproduksi dan dikemas sebagai humor, kita perlu melihat bagaimana hal tersebut perlahan memengaruhi cara masyarakat memandang dan memperlakukan perempuan.

Pentingnya Memilih Humor yang Tepat

Saatnya Melawan Seksisme dan Misoginis/Foto: Unsplash.com/Markus Spiske

Hal yang perlu ditekankan, bukan berarti semua humor harus dilarang atau setiap lelucon harus dianggap sebagai pelecehan. Humor tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan bisa menjadi cara untuk menghibur maupun mengekspresikan diri. Namun, kita harus lebih kritis terhadap jenis humor yang digunakan, terutama jika lelucon tersebut menjadikan tubuh, seksualitas, gender, atau martabat seseorang sebagai bahan candaan.

Bercanda bukan berarti bebas mengatakan apa saja tanpa mempertimbangkan dampaknya. Kita tetap bisa menikmati humor tanpa harus menjadikan perempuan sebagai objek penghinaan. Sebab, tidak semua hal yang dianggap lucu harus dinormalisasi, apalagi jika di baliknya ada pihak lain yang merasa direndahkan.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.