Stop Victim Blaming, Kasus Little Aresha Jogja Bukan Kesalahan Ibu yang Menitipkan Anaknya di Daycare

Riswinanti Pawestri Permatasari | Beautynesia
Kamis, 30 Apr 2026 10:00 WIB
Stop Salahkan Ibu!
Ilustrasi Perempuan Bekerja/Foto: Freepik.com

Kasus kekerasan anak di daycare Little Aresha Jogja telah menyisakan luka cukup dalam bagi para korban. Kepercayaan orang tua menitipkan sang buah hati kini berujung rasa kecewa, sedih, bahkan trauma yang berbaur jadi satu. Melansir BBC, setidaknya 53 anak-anak di sana diduga mengalami perlakuan yang tidak manusiawi dengan tubuh diikat dan dibiarkan berbaring di lantai tanpa pakaian memadai.

Namun belum juga hilang kesedihan tersebut, para ibu tersebut justru harus menelan komentar-komentar negatif terkait keputusan mereka menitipkan anaknya di daycare. Banyak netizen yang justru menyalahkan sang ibu karena lebih memilih bekerja ketimbang mengasuh anaknya sendiri di rumah.

Komentar negatif tersebut pada pada akhirnya mengarah pada tindakan victim blaming, yaitu perilaku menyalahkan korban pada kejahatan yang dialami. Padahal, di balik keputusan menitipkan anak, ada realita yang tidak sesederhana itu. 

Kronologi Kasus Kekerasan Anak di Daycare Little Aresha Jogja

Ilustrasi Anak-Anak Bermain di Daycare/Foto: Freepik.com
Ilustrasi Anak-Anak Bermain di Daycare/Foto: Freepik.com

Melansir DetikJogja, kekerasan di daycare Little Aresha, Yogyakarta, mulai terungkap pada April 2026, tepatnya setelah adanya laporan dari seorang mantan pengasuh kepada dinas terkait. Pelapor mengaku telah menyaksikan langsung tindakan kekerasan terhadap anak-anak, kemudian mengundurkan diri sambil mengumpulkan bukti sebelum akhirnya melapor ke pihak berwenang.

Laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian dan instansi terkait. Pada Jumat, 24 April 2026, aparat Polresta Yogyakarta melakukan penggerebekan di lokasi daycare yang berada di kawasan Umbulharjo.

Saat penggerebekan, polisi menemukan kondisi yang memprihatinkan. Sejumlah anak diduga mengalami perlakuan tidak manusiawi, seperti diikat pada tangan dan kaki serta ditelantarkan di ruangan yang tidak layak. Dari hasil penyelidikan awal, diketahui bahwa daycare tersebut menampung sekitar 103 anak, dengan sedikitnya 53 anak terindikasi menjadi korban kekerasan fisik maupun penelantaran.

Polisi kemudian mengamankan sekitar 30 orang dan menetapkan 13 orang sebagai tersangka, termasuk pengurus yayasan, kepala sekolah, dan pengasuh. Lebih jauh, terungkap bahwa praktik kekerasan ini diduga telah berlangsung lama dan dilakukan secara sistematis, bahkan disebut sebagai metode yang “diturunkan” antar pengasuh.

Munculnya Fenomena Victim Blaming

Ilustrasi Victim Blaming/Foto: Freepik.com/DC Studio

Melansir jurnal yang diterbitkan The Canadian Resource Centre for Victims of Crime, victim blaming adalah tindakan merendahkan atau menyalahkan, di mana korban dianggap bertanggung atas suatu kejahatan atau kecelakaan yang mereka alami. Kejadian ini sangat umum terjadi pada kasus yang melibatkan sosok perempuan, seperti kejahatan seksual, atau dalam konteks ini terkait peran ibu dalam mengasuh anak.   

Komentar negatif ramai muncul di berbagai postingan terkait kasus daycare Little Aresha. Di balik pembedahan fakta dan ungkapan empati, ada beberapa akun yang menganggap kejadian ini disebabkan kelalaian ibu mengurus anak.

Trend baru "ibu ibu modern" pada bangga masukin anaknya ke daycare sementara dia sibuk kerja. Saking takutnya miskin anak rela dititip. Ingat guys setan itu nakut nakutin dengan kemiskinan tujuannya banyak salah satunya agar kita gak mengasuh dan mendidik anak,” salah satu komentar yang ditulis pengguna X.

Ibunya pemalas daycarenya pemalas yang jadi korban anaknya,” imbuh netizen lainnya.

Selain itu, banyak komentar sejenis lain yang mengungkap bahwa kejadian ini takkan terjadi jika anak diasuh sendiri di rumah. Seolah, ada ekspektasi sosial tak tertulis bahwa “ibu yang baik” harus selalu hadir, selalu menjaga, dan tidak boleh “menitipkan” anaknya kepada orang lain. Ketika realita tidak sesuai dengan standar ini, ibu pun menjadi sasaran kritik.

Ada Banyak Pertimbangan Seorang Ibu saat Menitipkan Anak di Daycare

Ilustrasi Perempuan Bekerja Sambil Mengasuh Anak/Foto: Freepik.com

Banyak ibu menggunakan daycare bukan karena pilihan ideal, melainkan hasil dari kondisi yang kompleks seperti tuntutan ekonomi, keterbatasan cuti melahirkan, dan minimnya dukungan pengasuhan. Data dari OECD menunjukkan bahwa tingginya partisipasi perempuan di dunia kerja tidak selalu diiringi dengan sistem dukungan keluarga yang memadai, sehingga layanan penitipan anak menjadi kebutuhan.

Selain itu, laporan UNICEF menegaskan bahwa sebagian besar orang tua sebenarnya lebih memilih mengasuh anak secara langsung, tetapi keterbatasan waktu, pekerjaan, dan kondisi sosial membuat daycare menjadi solusi yang paling realistis.

Dengan kata lain, bagi banyak keluarga, daycare bukan sebuah kemalasan, melainkan kebutuhan. Banyak ibu yang harus bekerja, baik karena kebutuhan finansial, tuntutan hidup di kota besar, maupun karena tidak adanya support system seperti keluarga yang bisa membantu.

Dalam situasi seperti ini, menitipkan anak bukan berarti tidak sayang. Justru sebaliknya, itu adalah bentuk usaha agar anak tetap mendapatkan perawatan yang layak saat orang tua tidak bisa hadir. Keputusan itu sering kali diambil dengan penuh pertimbangan, bahkan rasa bersalah.

Nitipin anak di daycare bukan kejahatan, tentu melalui malam-malam penuh kebimbangan, tangisan dan ketidakberdayaan. Jangan enteng bilang, "tega banget ibu nitipin anak demi uang, ngejar dunia bla..bla..bla.." Setiap hari para ibu ini hidup dalam kecemasan,” salah satu postingan yang ditulis netizen di X, terkait kasus daycare Jogja.

Masalahnya Ada di Sistem yang Gagal Melindungi

Ilustrasi Ibu Mengkhawatirkan Anaknya/Foto: Freepik.com

Jika melihat kasus ini secara utuh, akar masalahnya bukan pada orang tua, melainkan pada sistem yang seharusnya melindungi. Fakta bahwa kekerasan bisa terjadi pada puluhan anak menunjukkan adanya celah serius dalam pengawasan. Melansir BBC, daycare tersebut bahkan diketahui tidak memiliki izin resmi untuk beroperasi, Beauties.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga mengungkap bahwa kejadian ini dari fenomena "gunung es". Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini, mengungkap pada BBC bahwa lembaganya mendata bahwa sekitar 3.000 daycare di Indonesia banyak yang tak mengantongi izin dan tak terpantau oleh Pemda. Sehingga, dugaannya, kemungkinan besar terjadi penganiayaan bahkan kekerasan pada anak.

Kasus dugaan kekerasan ini juga bukan pertama kalinya terjadi. Diyah Puspitarini mengenang kembali kasus penganiayaan anak yang terjadi di daycare Depok, Jawa Barat. Selain itu, tahun 2024 silam, KPAI menemukan dari 118 daycare hanya 19 yang mengantongi izin.

Stop Salahkan Ibu!

Ilustrasi Perempuan Bekerja/Foto: Freepik.com

Menyalahkan ibu dalam situasi seperti ini bukan hanya tidak adil, tetapi juga berbahaya. Ketika korban atau orang tua korban disalahkan, sosok pelaku dan kegagalan sistem menjadi kabur. Lebih dari itu, hal ini juga bisa membuat orang tua lain enggan untuk berbicara atau melapor jika mengalami hal serupa. Padahal, dalam kasus ini, yang jelas bersalah adalah pihak yang melakukan kekerasan dan sistem yang gagal mencegahnya.

Kasus daycare Little Aresha Jogja seharusnya menjadi momen refleksi bersama. Bukan untuk saling menyalahkan, tetapi untuk memahami bahwa setiap orang tua menghadapi realita yang berbeda.

Tidak semua ibu punya pilihan untuk selalu di rumah. Tidak semua keluarga memiliki dukungan yang cukup. Tidak semua keputusan bisa dinilai dari luar tanpa memahami konteksnya. Di balik setiap keputusan menitipkan anak, ada cerita yang tidak selalu terlihat.

Bagaimana menurutmu, Beauties?

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.