Suka Memendam Perasaan? Kenali Dampaknya dan Cara Mulai Mengekspresikan Emosi

Anggita Kusmadewi | Beautynesia
Senin, 12 Oct 2026 08:30 WIB
Suka Memendam Perasaan? Kenali Dampaknya dan Cara Mulai Mengekspresikan Emosi
Ilustrasi perempuan yang sedang memendam emosinya/Foto: Pexels/MART PRODUCTION

Terkadang, kita memilih diam saat sedang sedih, kecewa, atau marah karena tidak tahu harus menyampaikannya seperti apa. Ada juga yang merasa lebih nyaman menyimpan perasaan sendiri daripada harus menjelaskan apa yang sedang dirasakan.

Dilansir dari Verywell Mind, rasa takut untuk terbuka soal perasaan bisa membuat seseorang menekan emosinya sebagai bentuk perlindungan diri. Menurut Dr. Colleen Mullen, PsyD, LMFT, memendam perasaan akhirnya bisa terasa lebih mudah dan aman daripada menunjukkan apa yang sebenarnya dirasakan.

Kebiasaan memendam perasaan juga bisa terbentuk dari pengalaman sebelumnya, terutama ketika emosi sering diabaikan atau dianggap salah. Kalau Beauties termasuk yang lebih sering diam daripada bercerita, yuk, lihat apa saja dampak memendam perasaan dan bagaimana cara mulai mengungkapkannya!

1. Bisa Membuat Diri Semakin Tertekan

Ilustrasi perempuan sedang merenung/Foto: Magnific/magnific

Awalnya, diam dan menyimpan perasaan sendiri mungkin terasa lebih mudah. Tapi kalau terlalu sering dilakukan, perasaan yang belum sempat keluar bisa terus terbawa dan membuat pikiran makin penuh.

Kita pun bisa mulai terbiasa mengabaikan apa yang sebenarnya dirasakan, sampai kebutuhan dan pendapat sendiri terasa tidak begitu penting. Dari sinilah stres, rasa cemas, depresi, atau bahkan amarah dan kesal kepada orang lain bisa ikut muncul.

Bukan hanya suasana hati yang berubah, rasa percaya diri juga bisa ikut terpengaruh. Kita jadi lebih sering merasa tidak didengar atau memilih diam, meski sebenarnya ada hal yang ingin disampaikan.

2. Tubuh Menjadi Ikut Terpengaruh

Ilustrasi perempuan tampak lelah setelah menghadapi banyak tekanan emosional/Foto: Magnific/magnific

Ketika emosi terus dipendam, bukan hanya pikiran yang terasa penuh. Tubuh juga bisa ikut merasakan tekanan tersebut, terutama jika berlangsung dalam waktu lama.

Dilansir dari Verywell Mind, menahan emosi bisa menimbulkan stres fisik pada tubuh. Dr. Colleen Mullen, PsyD, LMFT, menjelaskan bahwa tekanan tersebut dapat berkaitan dengan risiko diabetes dan penyakit jantung, serta masalah pada daya ingat.

Stres yang berlangsung terus-menerus juga bisa muncul dalam bentuk keluhan fisik, seperti nyeri otot dan masalah pencernaan. Artinya, saat pikiran terus dibebani emosi, tubuh pun bisa ikut merasakan lelahnya.

3. Jadi Sulit Terbuka

Ilustrasi perempuan sedang berbicara dengan sahabatnya tentang perasaan yang selama ini disimpan/Foto: Magnific/magnific

Saat terbiasa menyimpan perasaan sendiri, kita bisa jadi lebih sulit bercerita kepada orang lain. Akibatnya, orang terdekat pun mungkin tidak tahu apa yang sebenarnya sedang kita rasakan.

Shari Foos, MA, MFT, MS, menjelaskan bahwa interaksi dengan orang lain bisa membantu seseorang mendapatkan sudut pandang yang lebih luas. Berbicara dengan orang lain juga bisa membantu kita tidak terus terjebak dalam rasa takut atau pikiran negatif.

Sebaliknya, terlalu sering menekan emosi bisa membuat seseorang cenderung menjauh dari hubungan sosial. Penelitian yang dikutip Verywell Mind mengaitkannya dengan kepuasan hidup yang lebih rendah dan gejala depresi.

Cara Mengekspresikan Emosi

Ilustrasi perempuan sedang menulis jurnal/Foto: Magnific/magnific

Dilansir dari Healthline, cara mulai mengungkapkan emosi bisa dengan mengenali dulu apa yang sedang dirasakan. Kadang kita tahu sedang tidak baik-baik saja, tetapi masih sulit membedakan apakah itu sedih, kecewa, marah, atau sekadar lelah.

Kalau sudah terbiasa memendam, mengenali perasaan sendiri memang bisa terasa tidak mudah. Menulis di jurnal atau sekadar menuangkan isi kepala bisa membantu membuat perasaan yang masih samar jadi lebih jelas.

Setelah tahu apa yang dirasakan, bercerita kepada orang lain bisa jadi langkah berikutnya. Tidak perlu langsung membahas masalah besar, hal kecil yang membuat kesal atau kecewa pun bisa menjadi awal untuk mulai terbuka.

Penggunaan kalimat “aku” saat menyampaikan perasaan. Misalnya, daripada mengatakan “kamu bikin aku kecewa”, kita bisa mengatakan “aku merasa kecewa” agar yang disampaikan tetap berfokus pada perasaan sendiri.

Sebab, tidak semua perasaan langsung mudah dijelaskan dengan kata-kata. Kadang, kita baru benar-benar tahu apa yang dirasakan setelah menuliskannya atau membicarakannya.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE