Tak Sekadar Dipindai, Kini Buku Langka Diduga Dihancurkan Demi Mengembangkan AI

Justina Nur | Beautynesia
Rabu, 05 Aug 2026 11:00 WIB
Tujuan Perusahaan AI Memindai Buku dan Melakukan Destructive Scanning
Perusahaan AI butuh data dalam jumlah sangat besar untuk mengembangkan AI, lewat data dari buku karena sekarang internet isinya AI slop./Foto: Pexels.com/Aibek Skakov

Selama ini, buku memang dikenal sebagai jendela dunia. Dengan membuka dan membaca buku, kita bisa mendapatkan banyak hal mulai pengetahuan, sejarah, atau belajar berempati lewat membaca buku fiksi.

Akan tetapi, kabar tak sedap kini harus dihadapi oleh masyarakat, terutama book lovers. Seperti yang dilansir dari The Guardian, sejumlah penulis menggugat hak cipta terhadap perusahaan AI, Anthropic di Amerika Serikat. Dokumen pengadilan bahkan sudah dibuka untuk publik awal tahun ini dan mengungkapkan bahwa Anthropic melakukan praktik yang disebut ‘destructive scanning’ atau pemindaian dengan cara merusak buku.

Dalam praktik ‘destructive scanning’, perusahaan membeli buku-buku fisik, lalu memotong bagian punggung buku agar setiap halaman lebih mudah dipindai. Setelah itu, mereka akan menghancurkan sisi buku menjadi buku kertas.

Metode destruktif ini dianggap jauh lebih cepat dan murah, sehingga seperti yang dilansir dari Tom’s Hardware, lebih banyak dipilih oleh perusahaan AI. Namun, konsekuensinya adalah jutaan buku harus dihancurkan.

Dokumen pengadilan tersebut juga menunjukkan bahwa praktik tersebut sengaja dirahasiakan. Namun, hakim justru memutuskan tindakan destructive scanning ini sah berdasarkan hukum hak cipta Amerika Serikat, karena dianggap hal itu sebagai bentuk ‘transformative use’ atau penggunaan yang bersifat transformatif.

Tujuan Perusahaan AI Memindai Buku dan Melakukan Destructive Scanning

Perusahaan AI butuh data dalam jumlah sangat besar untuk mengembangkan AI, lewat data dari buku karena sekarang internet isinya AI slop./Foto: Pexels.com/Aibek Skakov

Seperti yang dilaporkan oleh Decrypt aksi pemindaian buku besar-besaran yang dilakukan oleh perusahaan AI ini bertujuan untuk ‘menyelamatkan pengetahuan’ yang sebelumnya ditulis manusia sebelum akhirnya sekarang internet sudah dipenuhi konten buatan AI atau yang kerap dijuluki sebagai ‘AI slop’.

Selain itu, melansir dari Tom’s Hardware, perusahaan AI membutuhkan data dalam jumlah sangat besar untuk terus berkembang. Akan tetapi, data yang digunakan untuk melatih AI tidak bisa sembarangan, jadi butuh data berkualitas tinggi padahal internet sekarang sudah dipenuhi dengan AI slop.

Buku-buku yang diterbitkan sebelum kemunculan teknologi AI generatif pada 2023 dianggap memiliki nilai yang sangat berharga karena seluruh isinya ditulis oleh manusia, sehingga memiliki kualitas data yang lebih baik untuk melatih AI.

Perusahaan Kecerdasan Buatan (AI) Menggunakan Pihak Ketiga untuk Membeli Banyak Buku

Perusahaan AI menggunakan jasa pihak ketiga sebagai perantara untuk membeli buku dalam jumlah besar secara anonim./ Foto: Pexels.com/Denniz Futalan

Seperti yang dilansir dari Decrypt, laporan ini pertama kali diungkap oleh 404 Media yang menyebut bahwa perusahaan AI menggunakan jasa pihak ketiga sebagai perantara untuk membeli buku dalam jumlah besar secara anonim.

Menurut The Guardian, beberapa penjual buku bekas di Australia juga mengonfirmasi kasus yang sama, di mana mereka menerima pesanan dari sebuah perusahaan asal Kanada bernama Zoom Books. Zoom Books ini awalnya memperkenalkan diri mereka sebagai perusahaan daur ulang buku.

Pesanan buku biasanya masuk lewat marketplace buku bekas seperti Abebooks dan Biblio yang menjual berbagai jenis buku, mulai dari buku murah hingga koleksi langka bernilai tinggi.

Tidak hanya itu, ada juga pemilik toko Good Reading Secondhand Books di Benalla, Victoria yang menyebutkan pada Mei lalu ia mendapatkan pesanan dari Zoom Books sebanyak tiga kotak penuh. Namun karena jumlah itu sangat banyak, ia akhirnya menghubungi Zoom Books agar tidak lagi memesan buku dalam jumlah sebanyak itu.

Penjual Buku Bekas Merasa Janggal dengan Pembelian Tiba-tiba Dalam Jumlah Masif

Penjual buku bekas menerima pesanan dalam jumlah banyak tapi topik buku yang dipesan benar-benar acak./ Foto: pexels.com/Ahmet Kayra

Melansir dari The Guardian, para penjual buku bekas di Australia juga merasa janggal dan bertanya-tanya apakah mereka tanpa sadar sudah jadi bagian dari rantai pasok AI.  John Sainsbury dari toko buku Sainsburys Books di Melbourne misalnya. Tokonya menerima banyak pesanan dari Zoom Book. Namun, pembeli justru tidak peduli dengan harga buku, sedangkan judul-judul yang dipesan tampak terlihat benar-benar acak.

Jadi, ada buku yang dipesan dari topik yang sangat khusus, stok lama yang mungkin kurang diminati, hingga buku-buku yang sudah ada di rak selama puluhan tahun.

Selain itu, pembelian buku dalam jumlah banyak ini juga menimbulkan dilema tersendiri. Bagi Tim White, pengelola toko buku independen Books For Cooks mengatakan bahwa jika buku-buku tersebut akhirnya dihancurkan dan buku tersebut punya cerita tersendiri atau merupakan satu-satunya salinan yang ada, menghancurkan buku jadi hal yang sangat mengerikan.

Itu tadi Beauties, penjelasan soal huru-hara yang baru-baru ini ramai diperbincangkan, soal perusahaan AI yang dikabarkan memindai lalu menghancurkan buku-buku bekas atau langka. 

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.