"The Devil Wears Prada" Dulu vs Sekarang, Makin Dekat dengan Realita

Tria Oktyana | Beautynesia
Minggu, 10 May 2026 09:30 WIB
Perkembangan Karakter Emily Charlton
Emily Charlton berkembang menjadi simbol fashion modern yang digital-savvy, agresif, dan memahami kekuatan branding di era media sosial/Foto: Instagram/20thcenturystudios

The Devil Wears Prada kembali hadir dengan sekuel yang lebih relevan dan kompleks setelah dua dekade sejak film pertamanya dirilis. Diadaptasi dari novel karya Lauren Weisberger, film ini tidak hanya menampilkan gemerlap dunia fashion, tetapi juga menggambarkan perubahan budaya kerja, dinamika industri media, hingga bergesernya definisi kesuksesan perempuan dari masa ke masa.

Jika film pertama berbicara tentang kerasnya dunia majalah fashion dan ambisi pribadi di era kejayaan media cetak, film terbaru justru menempatkan karakter-karakternya di tengah industri yang mulai berubah akibat digitalisasi.

Dari perubahan karakter Miranda Priestly dan Andy Sachs hingga transformasi dunia fashion modern, simak perbedaan The Devil Wears Prada dulu dan sekarang di bawah ini.

Ketika Fashion Magazine Masih Menjadi Pusat Dunia

Film pertama The Devil Wears Prada merekam era keemasan majalah fashion saat editor seperti Miranda Priestly menjadi pusat kekuasaan budaya pop dan industri mode dunia/Foto: Instagram/20thcenturystudios

Di film pertama, Runway Magazine digambarkan sebagai pusat kekuasaan budaya pop dan fashion global. Miranda Priestly bukan hanya editor majalah, tetapi juga penentu tren, pembentuk reputasi, sekaligus simbol otoritas industri.

Gambaran ini sesuai dengan keadaan di tahun 2006 yang di mana majalah fashion seperti Vogue, Elle, dan Harper’s Bazaar jadi “kitab suci” industri mode. Bekerja di majalah besar dianggap sebagai tiket menuju karier prestisius, bahkan bagi seseorang seperti Andy Sachs yang awalnya tidak tertarik dengan fashion.

Film pertama juga memperlihatkan budaya kerja era 2000-an yang sangat berbeda dengan sekarang. Lembur dianggap normal, atasan toksik sering dimaklumi sebagai bagian dari kesuksesan, dan juga burnout belum menjadi pembahasan publik seperti saat ini.

Dunia Fashion Tidak Lagi Sama

Sekuel The Devil Wears Prada 2026 memperlihatkan perubahan besar industri fashion akibat digitalisasi, media sosial, influencer, dan dominasi teknologi/Foto: Instagram/20thcenturystudios

Di The Devil Wears Prada 2, Runway tidak lagi berada di puncak kejayaan seperti dulu. Dunia media cetak mengalami penurunan dan juga pengaruh editor majalah tidak sebesar era 2000-an. Miranda Priestly yang dulu terlihat hampir sulit untuk tersentuh kini digambarkan menghadapi ancaman perubahan zaman. 

Film terbaru juga menunjukkan bagaimana fashion kini lebih dekat dengan strategi bisnis dan kapitalisasi digital dibanding sekadar kreativitas editorial. Jika film pertama berfokus pada dunia redaksi majalah, sekuelnya memperlihatkan relasi antara fashion, teknologi, investor besar, hingga pengaruh miliarder terhadap budaya populer.

Perubahan tema ini terasa sangat relevan dengan kondisi industri fashion modern di mana algoritma media sosial, influencer marketing, TikTok trends, hingga AI mulai memengaruhi industri yang dulu sangat bergantung pada editor dan rumah mode besar.

Transformasi Andy Sachs

Andy Sachs kini tampil lebih matang dan realistis, mencerminkan perubahan generasi modern dalam memandang karier, ambisi, dan work-life balance/Foto: Instagram/20thcenturystudios

Perbedaan yang paling menarik dari sekuel ini adalah transformasi Andy Sachs. Andy direpresentasikan menjadi perempuan muda yang mencoba membuktikan diri di lingkungan kerja kompetitif pada film 2006. Ia masuk ke Runway dengan idealisme jurnalistik dan perlahan terjebak dalam ritme kerja yang menguras hidup pribadinya. Konflik terbesar Andy saat itu adalah memilih antara ambisi karier atau mempertahankan identitas dirinya.

Namun di film terbaru, Andy hadir sebagai perempuan yang jauh lebih matang. Ia tidak lagi mudah terintimidasi oleh Miranda maupun dunia fashion. Bukan menjadi “korban” sistem kerja toksik, Andy justru memahami bagaimana cara bermain di dalam sistem tanpa kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Perubahan ini terasa mencerminkan perubahan cara generasi modern memandang karier. Jika generasi 2000-an identik dengan hustle culture dan glorifikasi kerja berlebihan, generasi sekarang lebih sadar soal work-life balance, kesehatan mental, dan batas profesional. Betul tidak nih, Beauties?

Perkembangan Karakter Emily Charlton

Emily Charlton berkembang menjadi simbol fashion modern yang digital-savvy, agresif, dan memahami kekuatan branding di era media sosial/Foto: Instagram/20thcenturystudios

Selain Andy, film terbaru ini juga menampilkan perkembangan karakter Emily Charlton. Di film pertama, Emily digambarkan sebagai asisten Miranda yang obsesif, perfeksionis, dan rela melakukan apa pun demi bertahan di dunia fashion elit. 

D sekuel terbaru ini, Emily justru berkembang menjadi figur yang paling berhasil beradaptasi dengan zaman baru. Ia bukan lagi sekadar asisten ambisius, namun jadi pemain besar dalam industri luxury brand.

Miranda Priestly Tidak Lagi Menjadi “Villain” Utama

Persepsi penonton terhadap Miranda Priestly berubah drastis. Kini ia lebih dipahami sebagai produk budaya kerja keras industri fashion dibanding sekadar bos antagonis/Foto: Instagram/20thcenturystudios

Pada 2006, banyak orang menganggap bahwa Miranda Priestly adalah bos kejam yang mengintimidasi semua orang di sekitarnya. Namun menariknya, dalam beberapa tahun terakhir persepsi publik terhadap karakter Miranda berubah cukup drastis. Banyak penonton modern justru menganggap sistem kerja dan budaya industri bermasalah. Bahkan karakter Nate yang merupakan pacar Andy di film pertama dikritik oleh penonton modern karena dianggap tidak mendukung ambisi karier Andy.

Di sekuelnya, Miranda juga digambarkan lebih manusiawi. Ia tetap tajam, dingin, dan intimidating, tetapi juga terlihat sebagai seseorang yang sedang berusaha bertahan di tengah perubahan industri. Miranda harus menghadapi kenyataan bahwa dunia yang dulu ia kuasai mulai berubah tanpa bisa ia kendalikan sepenuhnya.

Menampilkan Fashion Ikonik dalam Pendekatan yang Berbeda

Fashion dalam The Devil Wears Prada 2026 terasa lebih modern, personal, dan dekat dengan budaya luxury street style serta branding digital/Foto: Instagram/20thcenturystudios

Film pertama terkenal karena wardrobe yang sangat memorable. Cerulean sweater monologue, makeover Andy Sachs, hingga coat collection Miranda menjadi bagian dari pop culture. Namun fashion dalam film 2006 masih sangat berakar pada estetika editorial majalah yang polished, formal, luxury-heavy, dan sangat dipengaruhi runway.

Tetapi di film terbarunya dibuat lebih modern dan realistis terhadap tren fashion hari ini. Styling para karakter terlihat lebih personal, effortless, dan dekat dengan luxury street style yang kini mendominasi fashion global.

Selain itu, film terbaru juga jauh lebih sadar terhadap branding. Rumah mode besar tampil lebih eksplisit, kolaborasi dengan luxury brands terasa lebih nyata, dan dunia fashion kini digambarkan sebagai bagian dari strategi bisnis global. 

Dari Film Fashion Menjadi Kritik Sosial

Sekuel terbaru The Devil Wears Prada berkembang menjadi kritik sosial tentang media digital, kapitalisme fashion, dan pengaruh teknologi terhadap kreativitas/Foto: Instagram/20thcenturystudios

Perbedaan paling besar antara The Devil Wears Prada 2006 dan 2026 sebenarnya bukan terletak pada pakaiannya, tetapi pada isu yang dibahas. Film pertama adalah drama workplace dengan balutan fashion glamor.

Berbeda dengan sekuelnya yang berkembang menjadi kritik terhadap perubahan industri media, pengaruh miliarder teknologi, krisis identitas majalah fashion, dan bagaimana kreativitas harus berhadapan langsung dengan kepentingan bisnis digital. 

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(dmh/dmh)

RELATED ARTICLE