The Devil Wears Prada kembali hadir dengan sekuel yang lebih relevan dan kompleks setelah dua dekade sejak film pertamanya dirilis. Diadaptasi dari novel karya Lauren Weisberger, film ini tidak hanya menampilkan gemerlap dunia fashion, tetapi juga menggambarkan perubahan budaya kerja, dinamika industri media, hingga bergesernya definisi kesuksesan perempuan dari masa ke masa.
Jika film pertama berbicara tentang kerasnya dunia majalah fashion dan ambisi pribadi di era kejayaan media cetak, film terbaru justru menempatkan karakter-karakternya di tengah industri yang mulai berubah akibat digitalisasi.
Dari perubahan karakter Miranda Priestly dan Andy Sachs hingga transformasi dunia fashion modern, simak perbedaan The Devil Wears Prada dulu dan sekarang di bawah ini.