The Power of Mama, Kisah 140 Perempuan Relawan Pemadam Kebakaran di Kalimantan

Riswinanti Pawestri Permatasari | Beautynesia
Minggu, 25 Oct 2026 08:00 WIB
The Power of Mama, Kisah 140 Perempuan Relawan Pemadam Kebakaran di Kalimantan
Aksi The Power of Mama/Foto: Instagram.com/@thepowerofmama_official

Hutan Kalimantan tengah menghadapi ancaman serius akibat kebakaran hutan dan lahan yang meluas. Selain merusak vegetasi dan habitat satwa, kebakaran juga memicu kabut asap yang membahayakan kesehatan masyarakat. Melansir Reuters, Indonesia mengalami musim kebakaran terburuk dalam lebih dari satu dekade, diperparah oleh kekeringan akibat El Niño.

Namun, di tengah ancaman tersebut, sekelompok perempuan memilih untuk tidak tinggal diam. Dengan pakaian pelindung berwarna merah, mereka berpatroli menggunakan sepeda motor, memantau titik panas, hingga membantu memadamkan api yang mengancam lingkungan tempat tinggal mereka. Mereka menamakan diri “The Power of Mama”.

Para relawan ini berasal dari berbagai latar belakang, termasuk petani dan ibu rumah tangga. Mereka bergerak atas dasar kepedulian terhadap kelestarian hutan dan keselamatan masyarakat. Menariknya, kegiatan tersebut mereka jalankan tanpa menerima upah, Beauties.

Mengenal Kelompok Relawan The Power of Mama

Aksi The Power of Mama/Foto: Instagram.com/@thepowerofmama_official
Aksi The Power of Mama/Foto: Instagram.com/@thepowerofmama_official

The Power of Mama adalah kelompok relawan yang melibatkan perempuan dalam upaya pencegahan dan penanganan kebakaran hutan. Menurut laporan Reuters pada September 2026, kelompok ini terdiri dari lebih dari 140 perempuan yang melakukan patroli di sejumlah desa di Kalimantan Barat.

Kelompok tersebut mulai dibentuk pada 2022 melalui inisiatif Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), organisasi lingkungan yang memberikan pelatihan pemadaman kebakaran kepada perempuan dari empat desa di wilayah Ketapang.

Para anggota dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk membantu menghadapi kebakaran di lingkungan mereka. Mita Anggraini, pengawas kelompok dari YIARI, mengatakan kepada Reuters bahwa para perempuan tersebut merasa memiliki hutan dan berusaha menjaganya dengan sepenuh hati.

Bekerja Tanpa Menerima Upah

Aksi The Power of Mama/Foto: Instagram.com/@thepowerofmama_official

The Power of Mama bekerja dengan mengenakan pakaian pelindung berwarna merah. Mereka berpatroli menggunakan sepeda motor untuk mencatat titik panas dan membantu memadamkan api.

Para relawan ini juga mengingatkan warga agar tidak menggunakan api untuk membuka lahan perkebunan kelapa sawit. Pasalnya, pembukaan lahan dengan cara membakar dapat meningkatkan risiko munculnya kebakaran, terutama ketika kondisi lingkungan sedang kering.

Para perempuan tersebut menjalankan tugas sebagai relawan tanpa menerima upah. Meski demikian, YIARI memberikan dukungan operasional berupa telepon seluler dan uang makan untuk membantu kegiatan mereka.

Meski memiliki batasan tugas, kehadiran The Power of Mama menjadi bagian dari upaya masyarakat setempat untuk mencegah kebakaran meluas dan melindungi lingkungan tempat tinggal mereka.

Relawan Merasakan Langsung Dampak Kebakaran Hutan

Aksi The Power of Mama/Foto: Instagram.com/@thepowerofmama_official

Bagi sebagian anggota The Power of Mama, kebakaran hutan bukan persoalan yang jauh dari kehidupan pribadi. Dampaknya dapat dirasakan langsung oleh keluarga, terutama ketika asap menyelimuti permukiman dan mengganggu kualitas udara.

Elly Marlina, salah satu relawan berusia 46 tahun, menceritakan bahwa anak-anaknya pernah mengalami infeksi saluran pernapasan. Proses pemulihan mereka bahkan membutuhkan waktu lebih dari satu tahun. Pengalaman tersebut memberikan gambaran tentang bagaimana dampak kebakaran dapat meluas hingga ke dalam rumah.

Sementara itu, Juniarni, petani berusia 48 tahun sekaligus ibu tiga anak, melihat perubahan lingkungan dari sesuatu yang mungkin dianggap sederhana, yaitu suara burung. Di desanya, Sungai Awan Kiri, Kalimantan Barat, kicauan burung yang biasanya terdengar di berbagai tempat kini semakin jarang terdengar. Juniarni menganggap kesunyian tersebut sebagai salah satu tanda dampak kebakaran terhadap lingkungan di sekitarnya.

Pengalaman para perempuan ini memperlihatkan bahwa kerusakan hutan bukan hanya persoalan pepohonan yang hangus atau lahan yang berubah menjadi hitam. Ada pula kehidupan satwa dan kenyamanan masyarakat yang ikut terdampak.

Menghadapi Api di Bawah Tanah

Aksi The Power of Mama/Foto: Instagram.com/@thepowerofmama_official

Tantangan yang dihadapi The Power of Mama tidak selalu terlihat di permukaan. Di kawasan gambut, api dapat terus membara di bawah tanah meskipun kobaran yang terlihat sudah padam. Kondisi ini membuat kebakaran lebih sulit ditangani, terlebih ketika musim kering menyebabkan persediaan air semakin terbatas.

Irma, relawan berusia 38 tahun yang juga merupakan ibu dua anak, menjelaskan bahwa memadamkan api yang terlihat di permukaan hanyalah sebagian dari tantangan yang harus dihadapi. Pasalnya, api dapat terus membara di bawah permukaan tanah gambut. Dalam kondisi kering, material gambut yang mudah terbakar dapat membuat kebakaran sulit dikendalikan dan memungkinkan api muncul kembali meskipun bagian yang terlihat sudah ditangani.

Irma juga menyebutkan bahwa kondisi pada 2026 terasa lebih buruk karena persediaan air di wilayah mereka mengering. Situasi ini semakin menyulitkan upaya penanganan kebakaran ketika kebutuhan air untuk memadamkan api justru meningkat. Berdasarkan data pemerintah yang dikutip Reuters, sepanjang Januari hingga Juli 2026, kebakaran telah menghanguskan sekitar 202.000 hektare lahan di Indonesia. Kalimantan Barat menjadi provinsi yang paling terdampak, dengan lebih dari 38.000 hektare lahan terbakar.

Angka tersebut menunjukkan bahwa perjuangan para relawan berlangsung di tengah persoalan lingkungan yang serius. Upaya pencegahan, pemantauan titik panas, dan penanganan kebakaran menjadi penting untuk mengurangi risiko meluasnya api, terutama di wilayah lahan gambut.

Harapan The Power of Mama

Aksi The Power of Mama/Foto: Instagram.com/@thepowerofmama_official

Perjuangan The Power of Mama memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat tumbuh dari pengalaman sehari-hari. Bagi para perempuan ini, hutan bukan sekadar bentang alam yang perlu dilindungi, melainkan bagian dari kehidupan masyarakat yang bergantung pada lingkungan sekitarnya.

Meski tidak menerima upah atas kegiatan relawan mereka, para anggota The Power of Mama tetap mengambil peran dalam batas kemampuan yang diberikan kepada mereka. Kisah ini menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Sebab, ketika hutan terbakar, yang dipertaruhkan bukan hanya kelestarian alam, tetapi juga kesehatan masyarakat dan kehidupan generasi mendatang.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE