Beauties, pernahkah kamu melakukan hal-hal yang kamu tahu buruk bagi kamu, tetapi kamu merasa tidak dapat menahan diri? Menurut pekerja sosial klinis Kaytee Gillis, terkadang pola perilaku berbahaya berkembang sebagai respons terhadap trauma psikologis.
Kita mungkin belajar bereaksi dan berperilaku dengan cara yang membantu kita mengatasi pengalaman traumatis, tetapi pada akhirnya merugikan kita dalam jangka panjang.
Misalnya, beberapa orang menjadi lebih agresif terhadap orang lain sebagai respons trauma, tetapi sebagai hasilnya, mereka akhirnya bergumul dengan hubungan dan regulasi emosi mereka.
Karena itu, berikut adalah 5 contoh perilaku berbahaya yang sebenarnya merupakan respons trauma masa lalu, sebagaimana dilansir dari Psych2go.
Penarikan Sosial
Ilustrasi/Foto: Freepik.com/freepik |
Menurut psikoterapis Kaytee Gillis, penarikan sosial adalah respons trauma yang umum karena dua alasan. Pertama, trauma merusak harga diri korbannya dan kedua berdampak negatif pada pandangan mereka tentang dunia.
Penarikan sosial sebagai respons trauma dapat bermanifestasi dengan menghabiskan lebih sedikit waktu dengan orang yang dicintai, berusaha lebih sedikit untuk tetap berhubungan, tidak ingin keluar atau mengundang orang, dan menjadi gugup ketika seseorang terlalu dekat dengan kita.
Menyakiti Orang Lain
Ilustrasi/Foto: Freepik.com/DCStudio |
Selain menarik diri secara sosial, korban trauma juga cenderung menjauhi orang lain dengan cara menyakiti mereka. "Kemarahan adalah reaksi umum terhadap trauma dan bisa bertahan lama setelah peristiwa traumatis berakhir," jelas psikolog Dr. Seth J. Gillihan.
Kemarahan ini sering kali disertai dengan kesedihan, ketakutan, dan kecemasan yang semuanya dapat membuat seseorang sangat tidak stabil secara emosional. Jadi, jika kamu bertanya-tanya mengapa kamu cenderung menyakiti orang yang kamu cintai tanpa sengaja atau mendapati diri kamu menyerang tanpa alasan yang jelas, mungkin inilah alasannya.
Membebani Diri Sendiri
Ilustrasi/Foto: Freepik.com/8photo |
Apakah kamu merasakan kebutuhan yang kuat untuk terus menyibukkan diri dan mengalami kesulitan bersantai atau menikmati diri sendiri? Apakah kamu merasa cemas ketika kamu tidak melakukan apa-apa?
Menurut psikolog Dr. Brad Klontz, orang-orang seperti ini menggunakan pekerjaan mereka sebagai cara untuk menyibukkan diri dan menghindari pikiran atau emosi yang sulit, seperti yang terkait dengan trauma yang tidak dapat disembuhkan.
Jadi, mungkin saja kamu terlalu memaksakan diri untuk tidak memikirkan apa yang terjadi atau mengkonfrontasi perasaan kamu tentang masalah tersebut yang berbahaya bagi kesehatan mental.
Tidak hanya karena hal itu membuat luka psikologis kamu tidak sembuh, tapi juga karena memiliki keseimbangan kehidupan kerja yang buruk, sehingga dapat menguras emosi dan mental.