5 Filosofi Tumpeng di Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus

Gayuh Tri Pinjungwati | Beautynesia
Senin, 17 Aug 2026 15:00 WIB
1. Filosofi Kata Tumpeng
Filosofi Kata Tumpeng/Foto/Pexels.com/ Andry Sasongko

Tumpeng bukan sekadar hidangan khas Indonesia yang sering hadir dalam acara syukuran atau perayaan penting. Nasi berbentuk kerucut dengan aneka lauk-pauk ini telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Nusantara selama bertahun-tahun. Di balik tampilannya yang menggugah selera, tumpeng menyimpan filosofi yang mengajarkan banyak nilai kehidupan.

Tak heran jika tumpeng masih menjadi pilihan utama dalam momen spesial, mulai dari ulang tahun, peresmian, hingga perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia. Dilansir dari detikFood, setiap unsur dalam tumpeng memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan rasa syukur, kebersamaan, serta hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama. Mulai dari nama, bentuk, cara memasak, lauk-pauk, hingga prosesi memotongnya tidak dibuat tanpa alasan. Inilah yang membuat tradisi tumpengan tetap lestari hingga sekarang.

Nah, berikut ini penjelasan mengenai filosofi tumpeng. Yuk, simak selengkapnya.

1. Filosofi Kata Tumpeng

Filosofi Kata Tumpeng/Foto/Pexels.com/ Andry Sasongko

Tumpeng sudah ada sejak masyarakat menganut kepercayaan Kapitayan. Menurut kepercayaan Kapitayan, membuat tumpeng bertujuan sebagai pemusatan kepada kekuatan Tuhan. Kata tumpeng diambil dari kata “Tu” yang memiliki arti baik dan buruk.

Kebaikan yang dimaksud dalam kata “Tu” diartikan sebagai Tuhan, sementara buruknya diartikan sebagai hantu. Kemudian, dari kata tersebut, muncul beberapa nama seperti “pintu” atau tempat lain yang dijadikan sebagai tempat untuk meletakkan sesaji berupa tumpeng.

2. Filosofi Cara Memasak dan Alat untuk Membuat Tumpeng

Filosofi Cara Memasak dan Alat untuk Membuat Tumpeng/Foto: Pexels.com/ kevin yung

Beauties, salah satu alat yang digunakan dalam proses memasak tumpeng adalah mandala yang dilengkapi dengan tungku. Tungku tersebut terdiri dari tiga susun, yaitu batu bata, air, dan api. Ketiga unsur ini menjadi bagian penting dalam proses memasak sekaligus memiliki makna simbolis dalam filosofi tumpeng. Selain batu bata, air, dan api, proses memasak tumpeng juga menghasilkan asap, di mana asap tersebut diartikan sebagai simbol udara.

Bukan hanya alatnya yang memiliki makna, proses memasak tumpeng juga dianggap sakral. Ketentuan tradisional mengenai perempuan yang memasak tumpeng, yaitu harus sudah memasuki masa menopause serta berada dalam keadaan bersih dan suci.

Ketentuan tersebut merupakan bagian dari kepercayaan dan tradisi yang berkembang dalam masyarakat pada masa tertentu. Karena tumpeng digunakan dalam berbagai acara penting, proses pembuatannya pun tidak sekadar dipandang sebagai aktivitas memasak biasa. Ada penghormatan terhadap makanan yang nantinya digunakan sebagai bagian dari ritual atau perayaan.

3. Filosofi Bentuk Tumpeng yang Mengerucut

Filosofi Bentuk Tumpeng yang Mengerucut/Foto: Unsplash.com/ Inna Safa

Bentuk tumpeng yang menjulang ke atas menyerupai gunung memiliki makna spiritual yang mendalam. Gunung sering dimaknai sebagai simbol hubungan manusia dengan Tuhan sekaligus lambang kehidupan. Karena itu, bentuk kerucut mengingatkan agar manusia selalu mengingat Sang Pencipta.

Di sisi lain, bentuk tersebut juga mengajarkan bahwa semakin tinggi pencapaian seseorang, semakin penting untuk tetap rendah hati. Kesuksesan sebaiknya tidak membuat seseorang lupa pada asal-usul maupun orang-orang yang telah mendukungnya. Sikap inilah yang menjadi salah satu nilai luhur dalam budaya Indonesia.

Beauties, filosofi sederhana ini bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tetap bersikap rendah hati membuat hubungan dengan orang lain menjadi lebih hangat. Selain itu, rasa syukur akan tumbuh seiring dengan kerendahan hati yang dimiliki.

4. Filosofi Aneka Lauk yang Ada Pada Tumpeng

Filosofi Aneka Lauk yang Ada Pada Tumpeng/Foto: Pexels.com/ Tamba Budiarsana

Tumpeng selalu ditemani berbagai lauk dengan rasa, warna, dan tekstur yang berbeda. Meski beragam, semua lauk tersebut disajikan dalam satu wadah yang harmonis. Hal ini melambangkan pentingnya hidup berdampingan dalam keberagaman.

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki banyak suku, budaya, bahasa, dan tradisi. Perbedaan tersebut justru menjadi kekuatan ketika mampu disatukan dalam semangat saling menghargai. Filosofi lauk-pauk pada tumpeng menjadi pengingat akan indahnya persatuan.

Beauties, keberagaman juga hadir dalam lingkungan kerja, keluarga, maupun pertemanan. Menghormati perbedaan akan menciptakan hubungan yang lebih sehat dan saling mendukung. Nilai tersebut menjadi salah satu pesan penting yang dibawa oleh tumpeng.

5. Filosofi Cara Memotong Tumpeng

Filosofi Cara Memotong Tumpeng/Foto: Pexels.com/Noval Gani

Selama ini kita mungkin lebih sering melihat seseorang mengambil pisau lalu memotong bagian puncak tumpeng. Padahal, cara yang dianggap benar justru dimulai dari bagian bawah tumpeng dengan memotongnya sedikit demi sedikit. Cara ini bukan sekadar aturan penyajian, tetapi memiliki filosofi yang cukup mendalam.

Bagian bawah tumpeng diibaratkan sebagai masyarakat yang menjadi bagian dasar kehidupan bersama. Sementara itu, bagian puncaknya merujuk kepada Tuhan yang berada di posisi paling tinggi. Karena itu, mengambil bagian puncak secara langsung dianggap kurang sesuai dengan simbol hubungan antara manusia dan Tuhan.

Beauties, dari sini kita bisa melihat bahwa tumpeng membawa pesan tentang menghormati orang lain sekaligus menghargai kebersamaan. Tradisi sederhana seperti berbagi makanan ternyata dapat menjadi cara untuk menunjukkan rasa syukur dan penghargaan.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.