5 Tanda Serangan Jantung yang Jarang Disadari

Dewi Maharani Astutik | Beautynesia
Selasa, 27 Jan 2026 07:00 WIB
Gelombang Kecemasaan atau Perasaan Bahwa Sesuatu yang Buruk Akan Terjadi
Gejala serangan jantung pada sebagian orang bisa muncul sebagai gelombang kecemasan mendadak tanpa sebab yang jelas/Foto: Freepik/benzoix

Gejala serangan jantung sering kali tidak selalu datang dengan sesuatu yang dramatis sehingga banyak tanda awalnya kerap dianggap sepele. Beberapa di antaranya justru muncul dalam bentuk keluhan ringan yang sering disalahartikan sebagai tanda sakit biasa sehingga tidak sedikit orang yang terlambat menyadari kondisi serius yang sedang terjadi.

Memahami 5 tanda serangan jantung yang sering dianggap sepele menjadi langkah penting untuk meningkatkan kewaspadaan dan mencegah risiko yang lebih fatal. Oleh karena itu, penting bagi setiap orang untuk mengenali ciri-ciri serangan jantung seperti yang dilansir dari Fodmap Everyday ini sejak dini dan segera mencari pertolongan medis jika mengalaminya.

Nyeri Pada Rahang, Leher, atau Punggung

Tanda serangan jantung tidak selalu berupa nyeri dada, tetapi bisa terasa di rahang, leher, atau punggung. Fenomena referred pain menyebabkan otak keliru menafsirkan asal sinyal nyeri. Akibatnya, banyak orang tidak menyadari bahwa keluhan tersebut berkaitan dengan jantung.
Gejala serangan jantung dapat muncul sebagai nyeri pada rahang, leher, atau punggung tanpa penyebab yang jelas/Foto: Freepik/jcomp

Jangan langsung berasumsi bahwa nyeri rahang yang baru muncul disebabkan oleh kebiasaan menggemeretakkan gigi, atau nyeri punggung berasal dari kursi kerjamu. Berdasarkan laporan CDC tahun 2017, hanya sekitar 50,2 persen orang dewasa di Amerika Serikat yang mampu mengenali seluruh gejala utama serangan jantung, termasuk nyeri di area-area tersebut. Kondisi ini terjadi karena adanya “referred pain”, yaitu ketika saraf jantung dan saraf rahang, leher, serta punggung mengirimkan sinyal ke pusat nyeri yang sama di otak sehingga otak keliru menafsirkan sumber rasa sakit.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical and Experimental Dentistry pada 2017 juga menunjukkan bahwa pasien dengan penyakit jantung iskemik dapat mengalami nyeri kraniofasial, paling sering di leher bagian belakang dan kepala. Oleh karena itu, setiap nyeri baru pada tubuh bagian atas yang tidak jelas penyebabnya, terlebih jika memburuk saat beraktivitas, perlu diperlakukan sebagai tanda bahaya yang patut diwaspadai.

Sesak Napas Tanpa Alasan

Gejala serangan jantung dapat muncul dalam bentuk sesak napas yang terjadi tanpa pemicu yang jelas/Foto: Freepik

Sesak napas yang muncul tanpa sebab jelas, bahkan saat melakukan aktivitas ringan seperti berjalan ke kamar mandi atau duduk santai, merupakan sinyal serius dari tubuh. Kondisi ini kerap terjadi tanpa nyeri dada, dan sekitar sepertiga penderita serangan jantung memang tidak merasakan nyeri dada sama sekali.

Dr. Daniel Berman, seorang dokter spesialis jantung, melalui studi besar di Cedars-Sinai, menegaskan bahwa pada banyak kasus, sesak napas dapat menjadi satu-satunya tanda penyakit arteri koroner yang berat. Penyebabnya bukan gangguan paru, melainkan masalah pada aliran darah akibat iskemia miokard, yaitu ketika otot jantung kekurangan oksigen. Akibatnya, kemampuan pompa utama jantung menurun sehingga darah dan cairan tidak terdorong ke seluruh tubuh dan justru menumpuk kembali hingga masuk ke paru-paru.

Nyeri di Salah Satu (atau Kedua) Lengan

Tanda serangan jantung sering kali berupa rasa tidak nyaman di salah satu atau kedua lengan/Foto: Freepik

Nyeri pada lengan merupakan salah satu gejala serangan jantung yang sering disalahpahami. Selama ini, banyak orang percaya bahwa nyeri hanya terjadi di lengan kiri, padahal nyeri juga dapat muncul di lengan kanan atau bahkan di kedua lengan.

American Heart Association secara jelas menyatakan bahwa rasa nyeri atau tidak nyaman bisa dirasakan pada satu atau kedua lengan. Yvonne Leippert dari Stony Brook Heart Institute mencontohkan kasus seorang perempuan berusia 42 tahun yang mengabaikan nyeri di lengan kanan karena percaya pada mitos tersebut. Fenomena ini berkaitan dengan mekanisme nyeri rujukan, di mana saraf dari jantung dan lengan bertemu pada jalur yang sama di otak sehingga lokasi nyeri bisa bervariasi.

Mitos “lengan kiri” sendiri merupakan contoh sempurna dari “kebenaran” medis yang dibentuk oleh puluhan tahun penelitian yang berfokus pada laki-laki, dan kini justru membahayakan perempuan. Bahkan hingga saat ini, hanya 42 persen ahli jantung yang merasa siap untuk menilai risiko kardiovaskular pada perempuan.

Gelombang Kecemasaan atau Perasaan Bahwa Sesuatu yang Buruk Akan Terjadi

Gejala serangan jantung pada sebagian orang bisa muncul sebagai gelombang kecemasan mendadak tanpa sebab yang jelas/Foto: Freepik/benzoix

Gelombang kecemasan mendadak atau perasaan akan datangnya bahaya serius bukanlah sekadar serangan panik biasa. Kondisi ini dapat menjadi respons fisiologis nyata ketika tubuh memberi sinyal bahwa ada masalah yang sangat berbahaya, dan telah banyak dialami oleh banyak penyintas serangan jantung.

Dr. Melissa Daubert, seorang ahli jantung dari Duke, menjelaskan bahwa perempuan, khususnya, dapat merasakan ketakutan atau perasaan akan datangnya malapetaka, dan ini bukan sekadar persoalan pikiran. Otak bereaksi terhadap sinyal darurat tubuh seperti keringat dingin, jantung berdebar keras, dan penurunan tekanan darah, lalu menafsirkannya sebagai ancaman ekstrem, yang sering kali sulit dibedakan dari serangan panik.

Karena gejalanya sangat mirip, Dr. Glenn N. Levine menekankan bahwa cara paling aman adalah tidak mencoba menilai sendiri, melainkan segera memeriksakan diri ke unit gawat darurat ketika muncul keraguan.

Mengalami Masalah Tidur yang Baru atau Terasa Tidak Biasa

Tanda serangan jantung sering kali diawali dengan gangguan tidur yang muncul mendadak dan berbeda dari biasanya/Foto: Freepik

Masalah tidur yang muncul secara tiba-tiba atau terasa tidak biasa, seperti sering terbangung dengan napas terengah-engah atau sulit tidur meski tubuh sangat lelah, merupakan sinyal peringatan dini dari tubuh. Studi, yang dipublikasikan di jurnal Heart & Lung pada tahun 2012, pada perempuan penyintas serangan jantung menunjukkan bahwa banyak dari mereka mengalami gangguan tidur pada minggu-minggu sebelum kejadian, dan data dari Baptist Health menyebutkan lebih dari 70 persen perempuan mengalami insomnia dalam sebulan sebelum serangan jantung.

Risiko paling tinggi ditemukan pada mereka yang hanya tidur lima jam atau kurang setiap malam, karena kurang tidur dan gangguan jantung saling memperburuk satu sama lain. Kurang tidur membuat tubuh terus berada dalam kondisi siaga darurat secara terus-menerus sehingga meningkatkan tekanan darah dan peradangan, sedangkan gangguan jantung dapat menyebabkan penumpukan cairan di paru-paru yang memicu sesak napas saat berbaring.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.