5 Tips Makan Bernutrisi dari Kebiasaan Makan Paling Sehat di Seluruh Dunia

Henny Alifah | Beautynesia
Selasa, 03 Mar 2026 06:00 WIB
3. Korea: Kekuatan Fermentasi
Ilustrasi menu makan ala Korea. Banyak hidangan Korea yang selalu dilengkapi kimchi. / Foto: Pexels.com/Anthony Rahayel

Pola makan sehat tak hanya sekadar menghitung kalori atau mengikuti aturan diet yang ketat. Sepanjang sejarah, berbagai komunitas di seluruh dunia telah mengembangkan pendekatan nutrisi yang mencerminkan lingkungan, sumber daya, dan kearifan kolektif masing-masing. Praktik-praktik ini telah teruji oleh waktu, dan sering kali divalidasi oleh penelitian ilmiah modern.

Menariknya, setiap komunitas telah mengembangkan kebiasaan makan yang mendukung kesehatan fisik dan memupuk kesejahteraan mental serta hubungan sosial. Dari garis pantai Mediterania hingga kepulauan Jepang, kebiasaan makan dikembangkan untuk menyehatkan tubuh sambil merayakan makanan.

Lantas, seperti apa kebiasaan makan sehat itu? Untuk mengetahui jawabannya, simak lima kebiasaan makan paling sehat di dunia berikut ini, Beauties.

1. Mediterania: Kesederhanaan dan Koneksi Sosial

Ilustrasi salad ala Mediterania. Dengan sederhana, salad ini menyehatkan dengan bahan seperti onion ring, black bean, dan daging./ Foto: Pexels.com/Valeria Boltneva

Kebiasaan masyarakat di wilayah Mediterania terhadap pola makan sehat berpusat pada bahan-bahan segar dan musiman serta makan bersama. Orang-orang di negara-negara seperti Yunani, Spanyol, dan Italia memprioritaskan sayuran, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan minyak zaitun, sementara daging dianggap sebagai pelengkap dan bukan fokus utama. Ikan sering muncul dalam menu, menyediakan asam lemak omega-3 yang penting.

Kebiasaan ini sangat efektif karena menggabungkan bahan-bahan bergizi dengan unsur sosial. Makanan biasanya dinikmati bersama keluarga dan teman, dimakan perlahan, dan dianggap sebagai acara sosial penting daripada kegiatan yang terburu-buru. Melansir Tatlerasia, penelitian yang diterbitkan di British Medical Journal menunjukkan bahwa gaya makan ini dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2.

2. Jepang: Pengendalian Porsi

Ilustrasi menu makan ala Jepang. Makanan tradisional Jepang menerapkan prinsip ichiju-sansai, yakni satu sup, tiga lauk./ Foto: Pexels.com/Syed Muhammad Afifi

Melansir Tatlerasia, kebiasaan makan orang Jepang mencerminkan prinsip hara hachi bu, makan sampai kenyang 80 persen. Makanan tradisional Jepang mengikuti struktur yang disebut ichiju-sansai (satu sup, tiga lauk), yang terdiri dari semangkuk sup, satu porsi nasi, dan tiga lauk yang biasanya meliputi hidangan kaya protein (seringkali ikan), sayuran yang direbus, dan hidangan yang difermentasi atau diasamkan.

Menu makan ini memberikan variasi sekaligus secara alami membatasi ukuran porsi. Orang Jepang juga menekankan penyajian, menggunakan piring dan mangkuk yang lebih kecil yang membantu mengontrol porsi, membuat makanan terlihat menarik secara visual.

3. Korea: Kekuatan Fermentasi

Ilustrasi menu makan ala Korea. Banyak hidangan Korea yang selalu dilengkapi kimchi. / Foto: Pexels.com/Anthony Rahayel

Masakan Korea menunjukkan bagaimana fermentasi dapat berkontribusi pada kesehatan usus. Menu makan harian mereka meliputi makanan fermentasi seperti kimchi, berbagai macam lauk sayuran (banchan), penggunaan bawang putih, jahe, dan rempah-rempah aromatik bermanfaat lainnya secara berlimpah, serta porsi daging sedang.

Melansir Tatlerasia, penelitian yang dipublikasikan di Journal of Medicinal Food menunjukkan bahwa makanan fermentasi tradisional Korea mengandung probiotik bermanfaat dan dapat membantu mendukung fungsi kekebalan tubuh.

4. Vietnam: Teori Panas - Dingin

Ilustrasi pho makanan Vietnam. Pho yang kaya rempah baik untuk menghangatkan tubuh./ Foto: Pexels.com/FOX ^.ᆽ.^= ∫

Melansir Tatlerasia, masakan Vietnam mengikuti filosofi menyeimbangkan energi panas dan dingin dalam makanan. Maksudnya tidak merujuk pada suhu, melainkan pada efek menghangatkan atau mendinginkan yang diberikan makanan pada tubuh. Rempah-rempah dan sayuran segar menjadi bahan utama, dengan hidangan yang disusun untuk mencakup cita rasa dan tekstur yang kontras.

Banyak hidangan Vietnam berpusat pada kaldu bening yang kaya nutrisi. Pho yang terkenal merupakan contoh pendekatan ini, kaldu tulang yang disiapkan dengan cermat dan diperkaya dengan rempah-rempah dan herba. Kaldu ini secara tradisional disiapkan melalui proses memasak yang lama dan lambat yang mengekstrak mineral dan kolagen dari tulang, sehingga menghasilkan makanan yang mudah dicerna dan bergizi.

5. Tiongkok: Makanan sebagai Obat

Ilustrasi hot pot makanan Tiongkok. Hot pot dengan kuah menggunakan kaldu herbal seperti kayu manis, cengkeh, dan jeruk nipis dapat berfungsi sebagai obat alami flu dan batuk. / Foto: Pexels.com/Sophie Otto

Masakan tradisional Tiongkok merupakan salah satu sistem terapi nutrisi tertua dan terlengkap di dunia, yang telah ada sejak lebih dari 2.000 tahun lalu. Tradisi ini memperlakukan makanan sebagai bentuk pengobatan mendasar, beroperasi berdasarkan prinsip bahwa nutrisi yang tepat dapat mencegah penyakit dan meningkatkan umur panjang.

Melansir Tatlerasia, pendekatan Tiongkok terhadap pola makan sehat diatur oleh beberapa konsep kunci, dengan makanan dikategorikan menurut lima unsur, yaitu:

  1. Kayu: Makanan asam (seperti cuka dan buah sitrus)
  2. Api: Makanan pahit (seperti pare dan kopi )
  3. Bumi: Makanan manis (termasuk nasi dan sayuran akar)
  4. Logam: Makanan pedas (seperti jahe dan cabai)
  5. Air: Makanan asin (termasuk rumput laut dan makanan laut)

Setiap elemen berhubungan dengan organ dan fungsi tubuh tertentu, dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan di antara semua elemen.

Bagaimana dengan kebiasaan makan ala Indonesia? Secara tradisional, masakan Indonesia dari berbagai daerah juga mendukung pola makan sehat. Misalnya masyarakat Jawa, yang menggunakan teknik memasak dengan cara dikukus. Teknik kukus mampu mempertahankan rasa asli bahan makanan sekaligus menjaga kandungan gizinya. Makanan kukus juga relatif rendah lemak, mudah dicerna, dan cukup mengenyangkan.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

 

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE