6 Makanan Pemicu Peradangan yang Bisa Bikin Lemak Perut Menumpuk

Belinda Safitri | Beautynesia
Jumat, 23 Oct 2026 12:00 WIB
3. Daging Olahan
Daging olahan/ Foto: Magnific.com/KamranAydinov

Lemak yang menumpuk di area perut kerap menjadi perhatian karena dapat mempengaruhi penampilan sekaligus berkaitan dengan risiko kesehatan. Salah satu faktor yang berperan adalah pola makan sehari-hari. 

Beberapa jenis makanan, termasuk yang tinggi gula, lemak, dan bahan olahan dikaitkan dengan peradangan dalam tubuh. Meski begitu, Beauties perlu memahami bahwa peradangan bukan satu-satunya penyebab lemak perut menumpuk. Faktor lain, seperti jumlah kalori yang dikonsumsi, aktivitas fisik, kualitas tidur, stres, hormon, dan kondisi kesehatan, turut berpengaruh. 

Lantas, makanan apa saja yang sebaiknya tidak dikonsumsi secara berlebihan? Dilansir dari Citizens Hospitals, simak daftar makanan pemicu peradangan yang bisa bikin lemak perut menumpuk! 

1. Karbohidrat Olahan

Roti gandum utuh mengandung serat lebih tinggi dibanding roti putih biasa cocok untuk buka puasa dan sahur. Serat ini membantu menjaga rasa kenyang lebih lama, sehingga kamu tidak mudah lapar di tengah hari saat puasa.

Roti/Foto: Pexels.com/ Cats Coming

Roti putih, pasta dari tepung olahan, nasi putih, serta sereal kemasan tertentu termasuk sumber karbohidrat yang cukup umum dikonsumsi. Namun, karena sebagian serat dan lapisan bijinya telah dihilangkan selama proses pengolahan, beberapa produk tersebut dapat dicerna lebih cepat daripada versi biji-bijian utuh. 

Akibatnya, kadar gula darah bisa meningkat lebih cepat, terutama jika makanan dikonsumsi tanpa sumber protein, serat, atau lemak sehat yang membantu menyeimbangkan hidangan. Jika pola makan sehari-hari didominasi karbohidrat olahan dan total kalori yang masuk melebihi kebutuhan tubuh, penumpukan lemak, termasuk di area perut, bisa lebih mudah terjadi. 

Namun, bukan berarti Beauties harus berhenti makan nasi putih atau roti sepenuhnya. Kamu setidaknya bisa variasikan pilihan karbohidrat dari beras merah, oat, quinoa, atau roti gandum utuh. 

2. Gorengan

Gorengan/ Foto: Magnific.com/jcomp

Kentang goreng, ayam goreng, dan aneka gorengan lainnya memang menggugah selera. Namun, proses menggoreng dapat meningkatkan kandungan kalori makanan karena minyak terserap selama pemasakan. 

Penggunaan minyak yang dipakai berulang kali atau pemanasan pada suhu tinggi juga dapat menghasilkan senyawa yang berpotensi merugikan kesehatan. Jika asupan makanan seperti ini terlalu sering mendominasi menu harian, pola makan menjadi lebih sulit seimbang. 

Oleh karena itu, sebagai alternatif, Beauties bisa mencoba memanggang, mengukus, atau menggunakan air fryer. Cara ini membantu mengurangi kebutuhan minyak tanpa harus menghilangkan semua makanan kesukaan dari menu sehari-hari.

3. Daging Olahan

Daging olahan/ Foto: Magnific.com/KamranAydinov

Daging olahan biasanya melewati proses pengawetan, pengasapan, penggaraman, atau penambahan bahan tertentu agar lebih tahan lama dan memiliki cita rasa khas. Contohnya adalah sosis, bacon, ham, dan hot dog. Produk-produk ini dapat mengandung natrium dalam jumlah tinggi, sedangkan sebagian jenisnya juga memiliki kandungan lemak jenuh yang cukup besar. 

Sejumlah penelitian mengaitkan konsumsi daging olahan dengan risiko penyakit kronis, meskipun hubungan tersebut tidak berarti setiap produk akan langsung memicu peradangan pada setiap orang.

Namun, untuk menjaga pola makan tetap seimbang, Beauties bisa lebih sering memilih sumber protein yang minim pengolahan, seperti ikan, dada ayam, telur, tahu, tempe, lentil, dan kacang-kacangan. Selain membantu asupan protein lebih bervariasi, pilihan tersebut dapat memudahkan kamu mengatur jumlah garam dan lemak dalam makanan. Jika masih ingin makan sosis atau daging olahan lainnya, jadikan sebagai selingan, bukan lauk setiap hari.

4. Makanan dengan Pemanis Buatan

Makanan dengan pemanis buatan/ Foto: Magnific.com/KamranAydinov

Makanan pemicu lemak perut yang berikutnya adalah makanan dengan pemanis buatan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemanis buatan seperti aspartam dan sukralosa dapat mengubah bakteri usus dan berpotensi meningkatkan peradangan yang erat kaitannya dengan penumpukan lemak. 

Namun, efeknya dapat berbeda bergantung pada jenis pemanis, jumlah konsumsi, dan kondisi individu. Selain itu, perlu diingat juga bahwa makanan atau minuman berlabel bebas gula belum tentu otomatis lebih sehat secara keseluruhan. 

Beauties tetap perlu memperhatikan komposisi dan kebiasaan makan, bukan hanya jumlah gulanya. Jika ingin mengurangi konsumsi pemanis, kamu dapat membiasakan lidah menikmati rasa yang tidak terlalu manis secara bertahap. Buah utuh juga bisa menjadi alternatif jika ingin mendapatkan rasa manis alami sekaligus tambahan serat dan nutrisi lainnya. 

5. Produk Susu

Produk susu/ Foto: Magnific.com/magnific

Susu, keju, dan produk olahan susu lainnya mengandung nutrisi seperti protein dan kalsium. Akan tetapi, bagi yang memiliki intoleransi laktosa atau alergi terhadap protein susu seperti kasein, mengonsumsi produk susu dapat memicu respons peradangan di usus. 

Hal itu dapat menimbulkan gejala seperti kembung, gas, dan gangguan pencernaan, yang menyebabkan perut penuh dan memicu peradangan ringan. Jika Beauties merasa keluhan sering muncul setelah mengonsumsi produk susu, cobalah memperhatikan jenis dan jumlah yang dikonsumsi. 

Untuk alternatif yang lebih aman, pilih susu nabati seperti susu almond tanpa pemanis, susu kelapa, atau susu oat. Jangan lupa juga periksa kandungan proteinnya serta apakah produk tersebut telah diperkaya kalsium dan vitamin D. 

6. Makanan Ringan Olahan

Makanan ringan olahan/ Foto: Magnific.com/stockking

Makanan ringan kemasan sering dibuat dengan perpaduan rasa, tekstur, dan aroma yang membuat orang ingin terus menyantapnya. Sebagian produk juga mengandung gula tambahan, natrium tinggi, atau lemak dalam jumlah cukup besar. 

Jika kamu terbiasa ngemil sambil bekerja, menonton, atau bermain ponsel, jumlah yang dikonsumsi terkadang sulit disadari. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat meningkatkan asupan kalori harian yang berkontribusi terhadap penambahan berat badan dan pembentukan lemak, termasuk di area perut.

Namun, bukan berarti semua camilan kemasan harus dihindari. Kamu bisa menjadikannya sebagai konsumsi sesekali dan lebih sering memilih camilan yang memberikan nutrisi tambahan, seperti buah segar, kacang-kacangan tanpa banyak garam, atau yoghurt tanpa gula tambahan. Perhatikan pula ukuran porsinya agar kebiasaan ngemil tetap sesuai kebutuhan. 

Jadi, itulah beberapa makanan pemicu peradangan yang bisa bikin lemak perut menumpuk. Mulai sekarang jangan lupa mulai batasi konsumsinya ya, Beauties! 

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE