Jalan-jalan ke berbagai negara di Asia rasanya kurang lengkap kalau hanya membahas soal rasa makanannya saja. Di balik kelezatan bumbu rempah dan teknik memasak yang legendaris, ternyata Asia menyimpan berbagai takhayul tentang makanan yang akarnya sudah tertanam sangat dalam di budaya masyarakatnya.
Mulai dari cara menata alat makan sampai jenis buah yang boleh atau tidak boleh dikonsumsi dalam kondisi tertentu, semuanya punya filosofi yang menarik untuk dikulik. Melansir Tatler Asia, yuk simak 7 takhayul tentang makanan di Asia yang masih dipercaya sampai sekarang!
1. Memberi Pir sebagai Hadiah dan Camilan Gurita Sebelum Ujian di Jepang
|
Pir dan camilan gurita, takhayul tentang makanan di Jepang/Foto: Unsplash.com/Laårk Boshoff |
Di Jepang, dilarang keras memberikan pir sebagai hadiah untuk orang yang sedang sakit atau pasangan kekasih. Hal ini dikarenakan dalam bahasa Jepang, kata untuk pir adalah nashi (梨), yang bunyinya sama persis dengan kata nashi (無) yang berarti tiada atau kehancuran. Memberi pir dianggap mendoakan hubungan tersebut berakhir atau kondisi kesehatan seseorang tidak akan kembali.
Di sisi lain, ada juga takhayul tentang makanan yang berhubungan dengan perjuangan akademis di Negeri Sakura. Para siswa sering mengonsumsi camilan gurita (tako) sebelum menghadapi ujian penting. Kata tako sering dikaitkan dengan kata taku yang berarti mencengkeram atau melekat. Sebelum menghadapi ujian yang berat, banyak siswa yang menyantap camilan gurita dengan harapan agar semua ilmu dan materi pelajaran yang sudah dipelajari bisa melekat kuat di ingatan.