Kenapa Kita 'Kalap' Saat Berbuka? Ini Penjelasan Secara Psikologi & Cara Mengatasinya

Shinta Khoiru Nikmah | Beautynesia
Senin, 09 Mar 2026 09:30 WIB
3. Faktor Lingkungan dan Kebiasaan Sosial
Kebiasaan di dalam keluarga/ Foto: Freepik.com/freepik

Setelah seharian menahan lapar dan haus, momen berbuka  puasa  terasa seperti waktu makan yang sudah ditunggu-tunggu. Meja penuh gorengan, minuman manis, dan aneka hidangan menggoda sering kali membuat kita kalap. Niatnya hanya ingin minum segelas air dan makan secukupnya, tetapi yang terjadi justru makan berlebihan sampai perut terasa begah.

Fenomena ini bukan sekadar soal kurangnya kontrol diri. Ada penjelasan psikologis  di balik kebiasaan kalap saat berbuka. Memahami penyebabnya bisa membantu kita mengatasinya dengan lebih bijak. Lalu apa saja penyebabnya, Beauties?

1. Rasa Balas Dendam Setelah Menahan Diri Seharian

Secara psikologis, menahan keinginan dalam waktu lama dapat memunculkan dorongan untuk “membalas” ketika kesempatan datang. Setelah seharian berpuasa, otak cenderung merasa berhak mendapatkan lebih banyak makanan sebagai bentuk kompensasi atas rasa lapar yang ditahan.
Kalap makan/ Foto: Freepik.com/tirachardz

Secara psikologis, ketika kita menahan sesuatu dalam waktu lama, muncul dorongan kuat untuk mengompensasinya. Dalam ilmu perilaku, ini sering disebut sebagai efek restriksi. Semakin keras kita membatasi diri, semakin besar keinginan untuk melampiaskan ketika kesempatan datang.

Selama puasa, kita tidak hanya menahan lapar, tetapi juga menahan keinginan terhadap makanan favorit. Ketika azan magrib berkumandang, otak memberi sinyal bahwa sekarang adalah waktu yang aman untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Akibatnya, muncul dorongan untuk makan lebih banyak dari yang sebenarnya dibutuhkan tubuh.

Untuk mengatasinya, cobalah menanamkan dalam diri bahwa tujuan berbuka adalah memulihkan tenaga setelah seharian berpuasa, bukan melampiaskan keinginan makan yang tertahan. Setelah minum air, beri jeda sekitar 5–10 menit sebelum mengambil makanan utama agar tubuh memiliki waktu untuk beradaptasi dan kamu bisa memilih makanan dengan lebih sadar serta terkontrol.

2. Pengaruh Gula Darah dan Hormon Lapar

Pengaruh gula darah/ Foto: Freepik.com/freepik

Dari sisi biologis, kadar gula darah yang menurun selama puasa membuat tubuh berada dalam kondisi lapar intens. Hormon ghrelin (hormon lapar) meningkat, sementara hormon leptin (hormon kenyang) belum bekerja optimal saat kita baru mulai makan.

Ketika kita langsung mengonsumsi makanan manis atau tinggi karbohidrat sederhana, gula darah naik dengan cepat. Lonjakan ini membuat kita merasa sangat ingin terus makan, terutama makanan serupa. Inilah sebabnya setelah minum sirup atau teh manis, kita sering tergoda menambah gorengan dan makanan berat dalam jumlah besar.

Untuk itu, mulailah berbuka dengan air putih dan makanan ringan yang alami seperti buah agar tubuh beradaptasi secara perlahan setelah seharian berpuasa. Hindari langsung menyantap makanan berat dalam porsi besar karena hal itu dapat membuat kamu makan berlebihan tanpa sadar.

Usahakan makan secara perlahan dan kunyah dengan baik supaya tubuh memiliki waktu untuk mengirimkan sinyal kenyang ke otak, sehingga kamu bisa berhenti sebelum merasa terlalu penuh.

3. Faktor Lingkungan dan Kebiasaan Sosial

Kebiasaan di dalam keluarga/ Foto: Freepik.com/freepik

Kalap saat berbuka juga dipengaruhi oleh lingkungan. Saat Ramadan, pilihan makanan cenderung lebih beragam dan menggoda. Pasar takjil, promo makanan, hingga tradisi yang mengharuskan ada banyak pilihan di meja membuat kita terdorong untuk mencicipi semuanya.

Selain itu, makan bersama keluarga atau teman sering kali membuat kita makan lebih banyak. Dalam psikologi sosial, hal ini disebut sebagai social facilitation of eating, yakni kecenderungan seseorang untuk makan lebih banyak saat bersama orang lain dibandingkan saat sendirian.

Untuk menghindarinya, ambillah makanan dalam porsi kecil terlebih dahulu dan hindari langsung memenuhi piring dengan berbagai hidangan. Saat berbuka bersama, cobalah lebih fokus pada percakapan dan kebersamaan dengan keluarga atau teman, bukan hanya pada makanan yang tersedia. Selain itu, belajarlah mengenali sinyal kenyang dari tubuh dan biasakan berhenti makan sebelum merasa terlalu penuh agar tubuh tetap nyaman dan sehat.

Jadi Beauties, mari jadikan momen berbuka sebagai kesempatan untuk makan dengan lebih sadar dan bijak, agar tubuh tetap sehat dan ibadah puasa terasa lebih bermakna. 

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(sim/sim)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.