Setelah seharian menahan lapar dan haus, momen berbuka puasa terasa seperti waktu makan yang sudah ditunggu-tunggu. Meja penuh gorengan, minuman manis, dan aneka hidangan menggoda sering kali membuat kita kalap. Niatnya hanya ingin minum segelas air dan makan secukupnya, tetapi yang terjadi justru makan berlebihan sampai perut terasa begah.
Fenomena ini bukan sekadar soal kurangnya kontrol diri. Ada penjelasan psikologis di balik kebiasaan kalap saat berbuka. Memahami penyebabnya bisa membantu kita mengatasinya dengan lebih bijak. Lalu apa saja penyebabnya, Beauties?
1. Rasa Balas Dendam Setelah Menahan Diri Seharian
Kalap makan/ Foto: Freepik.com/tirachardz |
Secara psikologis, ketika kita menahan sesuatu dalam waktu lama, muncul dorongan kuat untuk mengompensasinya. Dalam ilmu perilaku, ini sering disebut sebagai efek restriksi. Semakin keras kita membatasi diri, semakin besar keinginan untuk melampiaskan ketika kesempatan datang.
Selama puasa, kita tidak hanya menahan lapar, tetapi juga menahan keinginan terhadap makanan favorit. Ketika azan magrib berkumandang, otak memberi sinyal bahwa sekarang adalah waktu yang aman untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Akibatnya, muncul dorongan untuk makan lebih banyak dari yang sebenarnya dibutuhkan tubuh.
Untuk mengatasinya, cobalah menanamkan dalam diri bahwa tujuan berbuka adalah memulihkan tenaga setelah seharian berpuasa, bukan melampiaskan keinginan makan yang tertahan. Setelah minum air, beri jeda sekitar 5–10 menit sebelum mengambil makanan utama agar tubuh memiliki waktu untuk beradaptasi dan kamu bisa memilih makanan dengan lebih sadar serta terkontrol.