Kenapa Makanan Jogja dan Jawa Tengah Rasanya Cenderung Manis? Ternyata Ada Sejarah dan Filosofinya!

Narita Fuji Triani | Beautynesia
Jumat, 10 Apr 2026 12:30 WIB
Filosofi dan Tradisi Rasa Manis
Makanan Jogja dan Jawa cenderung manis ada filosofi dan tradisinya. Makanan manis juga digunakan dalam upacara dan ritual sejak dahulu. Foto: Pinterest.com/Widya

Beauties, kalau kamu pernah jalan-jalan ke Jogja atau daerah Jawa Tengah lainnya, pasti kamu menyadari satu hal, yaitu makanan di sana rasanya cenderung manis. Mulai dari gudeg, selat solo, sate, hingga sambal selalu ada cita rasa manisnya. 

Ternyata, makanan Jogja dan Jawa Tengah yang dominan manis tersebut berhubungan dengan sejarah dan juga ada filosofinya. Yuk, simak selengkapnya, Beauties!

Pengaruh Sejarah

Makanan Jogja dan Jawa cenderung manis terpengaruh oleh sejarah. Sejarah tersebut berhubungan dengan tanam paksa VOC Belanda/Foto: Pinterest.com/Oktavia19

Makanan Jogja dan Jawa Tengah yang cenderung terasa manis memiliki pengaruh sejak dulu. Pada masa kolonial, pemerintah Belanda menerapkan tanam paksa di Jawa Tengah. Dijelaskan dalam detikfood, pemerintah Belanda mewajibkan para petani Jawa Tengah menanam tebu. Tanah Jawa Tengah menjadi pilihan karena hasil tebu yang bagus untuk ekspor kala itu.

Sistem tanam paksa tersebut berlangsung selama 9 tahun. Krisis pangan terjadi di Jawa Tengah karena para petani kekurangan lahan sawah yang sudah ditanami tebu. Hingga masyarakat Jawa Tengah mengolah tebu menjadi makanan untuk bertahan hidup karena mereka kelaparan. Maka dari itu, masyarakat Jawa Tengah dan Jogja akrab dengan rasa manis hingga saat ini.

Mengutip Kominfo DIY, rasa manis di Jogja juga dipengaruhi sejak masa kolonial, gula jawa sudah melimpah di Yogyakarta dan menjadi bahan utama masakan tradisional menggantikan gula tebu yang harganya mahal. Rasa manis masakan di Yogyakarta juga dipengaruhi oleh masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I sejak abad ke-18, di mana makanan di Keraton banyak yang memiliki cita rasa manis.

Filosofi dan Tradisi Rasa Manis

Makanan Jogja dan Jawa cenderung manis ada filosofi dan tradisinya. Makanan manis juga digunakan dalam upacara dan ritual sejak dahulu. Foto: Pinterest.com/Widya

Rasa manis pada makanan Jogja dan Jawa Tengah memiliki filosofi. Bagi masyarakat Jawa di daerah pantai selatan. Rasa manis punya makna sebagai wujud kebahagiaan dan simbol kenikmatan dikutip dari laman Yayasan Makanan dan Minuman Indonesia.

Makanan manis juga digunakan dalam upacara dan ritual keagamaan sejak zaman Kerajaan Mataram Kuno pada abad ke-18. Hingga saat ini, dalam budaya Jawa, makanan manis seperti bakpia, gudeg, dan klepon sering digunakan dalam berbagai acara adat. Tak hanya itu, sajian makanan manis sebagai tanda keramahan juga kehangatan dalam kehidupan sosial sehari-hari.

Jadi, cita rasa manis makanan di Jogja dan Jawa Tengah memiliki sejarah dan filosofi yang menjadikan identitas budaya. Kulineran favorit di Jogja dan Jawa Tengah favorit kamu apa nih, Beauties?

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.