Setiap perempuan yang melewati proses melahirkan akan ada kemungkinan untuk mengalami suatu kondisi stres hingga trauma pasca melahirkan. Kondisi tersebut memang rentan dialami oleh setiap perempuan, khususnya pada perempuan yang menikah di usia muda.
Usai melahirkan, perempuan akan mengalami proses adaptasi baru untuk menjalani perannya sebagai ibu. Mulai dari aktivitas sehari-hari, seperti menyusui dan mengurus keperluan anak sampai dengan perubahan bentuk badan. Perubahan tersebut dapat menjadi sebuah trauma tersendiri bagi perempuan.
Sering kali pasca melahirkan, perempuan cenderung akan mengalami trauma secara psikologis. Bahkan trauma tersebut dapat terjadi secara berkepanjangan. Kondisi ini dalam medis disebut sebagai baby blues dan postpartum post traumatic stress disorder (PTSD) atau depresi pasca melahirkan. Lalu, bagaimana sebenarnya trauma melahirkan itu? Dan apa saja penyebabn serta dampaknya? Yuk, cari tahu jawabannya berikut ini!
Memahami Trauma Melahirkan
Ilustrasi/Foto: Freepik.com/jcomp |
Umumnya, proses melahirkan memang terbilang sulit dan menyakitkan untuk kebanyakan perempuan. Mulai dari merasakan kontraksi, mengejan, hingga merasakan sakitnya jahitan, baik melahirkan dengan proses pervaginam (normal) atau seksio sesarea (caesar). Dilansir dari The Guardian, menurut penelitian, sepertiga perempuan menyebutkan bahwa melahirkan bagi mereka adalah sebuah pengalaman yang traumatis.
Trauma melahirkan merupakan pengalaman apa pun selama persalinan yang menyusahkan atau yang dianggap traumatis bagi ibu yang melahirkan dan atau pasangannya, dikutip dari Psychology Today. Sehingga hal tersebut menimbulkan penderitaan berkelanjutan selama beberapa waktu pasca melahirkan. Melansir dari Australian Birth Trauma Association, trauma melahirkan sendiri dapat terjadi secara fisik maupun psikologis.
Trauma melahirkan fisik umumnya dapat secara langsung maupun tidak langsung dikenali. Umumnya, trauma ini dapat berupa robekan perineum, kerusakan otot dasar panggul, prolaps organ panggul, hingga luka caesar.
Sementara itu, trauma melahirkan psikologis sering kali terjadi karena banyak ibu yang merasa tidak siap atau proses kelahiran tidak sesuai dalam rencana atau ekspetasinya. Beberapa ibu yang melahirkan mengalami tekanan emosional yang parah setelah kelahiran traumatis meskipun ia tidak mengalami trauma fisik.