Menurut Dokter, Ini 8 Kebiasaan Harian yang Diam-Diam Bisa Merusak Sel Otak

Belinda Safitri | Beautynesia
Senin, 26 Jan 2026 10:00 WIB
1. Melewatkan Sarapan
Melewatkan sarapan/ Foto: Pexels.com/cottonbrostudio

Kebanyakan orang baru benar-benar memerhatikan kesehatan otak ketika mulai mengalami kondisi mudah lupa, sulit fokus, atau cepat lelah secara mental. Padahal, penurunan fungsi otak sering kali berawal dari rutinitas kecil yang dilakukan setiap hari loh, Beauties.

Mulai dari pola makan, kualitas tidur, hingga cara tubuh merespons stres. Tanpa disadari, kebiasaan-kebiasaan ini dapat memberi tekanan besar pada sel otak dan mempercepat proses kerusakan.

Melansir laman resmi Dr. Himanshu Gupta, seorang ahli bedah saraf di Jaipur, India, mengungkap sejumlah kebiasaan harian yang bisa merusak sel otak. Dampaknya mungkin tidak terasa dalam waktu singkat, tetapi perlahan memengaruhi daya ingat, fokus, hingga risiko gangguan neurologis di kemudian hari.

1. Melewatkan Sarapan

Melewatkan sarapan/ Foto: Pexels.com/cottonbrostudio

Sarapan berfungsi sebagai sumber energi utama setelah tubuh berpuasa semalaman. Otak sangat bergantung pada glukosa untuk menjalankan fungsi berpikir, konsentrasi, dan pengambilan keputusan. Saat Beauties melewatkan sarapan, kadar gula darah bisa turun drastis sehingga pasokan energi ke otak menjadi tidak optimal.

Jika kebiasaan ini berlangsung lama, otak akan sering berada dalam kondisi kekurangan energi dan nutrisi penting. Situasi ini dapat mengganggu performa kognitif, memperlambat respons mental, dan dalam jangka panjang berkontribusi terhadap kerusakan sel otak. Itulah sebabnya, memulai hari dengan asupan bergizi seimbang sangat penting bagi kesehatan otak.

2. Merokok Aktif Maupun Pasif

Merokok/ Foto: Pexels.com/Megan Forbes

Rokok mengandung ribuan zat berbahaya yang dapat mempercepat kerusakan sel di berbagai organ, termasuk otak. Nikotin, misalnya, menyebabkan penyempitan pembuluh darah sehingga aliran darah dan oksigen ke otak berkurang. Padahal, sel saraf membutuhkan suplai oksigen yang stabil agar dapat bekerja optimal.

Selain itu, paparan zat toksik dari rokok meningkatkan stres oksidatif dan peradangan jaringan otak. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat mempercepat penurunan fungsi kognitif dan meningkatkan risiko penyakit neurodegeneratif. Bahkan, perokok pasif pun tetap berisiko mengalami dampak serupa jika sering terpapar asap rokok.

3. Stres Kronis yang Tidak Terkelola

Stres/ Foto: Pexels.com/RDNE Stock Project

Saat tubuh berada dalam tekanan berkepanjangan, hormon kortisol dilepaskan dalam jumlah tinggi. Kortisol berlebih dapat merusak hipokampus, bagian otak yang berperan penting dalam memori dan pembelajaran. Tak heran jika orang yang sering stres cenderung lebih mudah lupa dan sulit fokus.

Lebih jauh lagi, stres kronis juga menghambat pembentukan neuron baru dan menurunkan plastisitas otak. Akibatnya, kemampuan otak untuk beradaptasi dan memproses informasi menjadi berkurang. Oleh karena itu, mengelola stres melalui olahraga, meditasi, atau aktivitas menyenangkan menjadi hal yang sangat penting untuk melindungi kesehatan sel otak.

4. Sering Mengonsumsi Tidak Sehat

Mengonsumsi makanan tidak sehat/ Foto: Pexels.com/The Lazy Artist Gallery

Makanan cepat saji, camilan tinggi gula, serta makanan olahan mengandung lemak tidak sehat dan zat aditif yang dapat memicu stres oksidatif. Kondisi ini mempercepat kerusakan sel otak dan mengganggu keseimbangan kimia di dalam sistem saraf.

Tak hanya itu, pola makan tidak sehat juga menghambat proses pembentukan neuron baru. Jika berlangsung lama, fungsi kognitif seperti konsentrasi, memori, dan kemampuan berpikir dapat menurun. Maka, sangat disarankan mengganti junk food dengan makanan bergizi seperti sayur, buah, protein, dan lemak sehat untuk menjaga kesehatan otak.

5. Makan Berlebihan

Makan berlebihan/ Foto: Pexels.com/Kampus Production

Mengonsumsi makanan dalam jumlah berlebihan, meski jenisnya sehat, tetap dapat membebani metabolisme tubuh. Asupan kalori berlebih berpotensi memicu obesitas, yang telah dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan neurodegeneratif.

Tak sampai di situ, makan berlebihan juga dapat menyebabkan resistensi insulin. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kadar gula darah, tetapi juga mengganggu fungsi otak dalam mengatur energi. Jika terus berlangsung, sel otak dapat mengalami gangguan fungsi dan penurunan kualitas kerja.

6. Konsumsi Alkohol Berlebih

Konsumsi alkohol/ Foto: Pexels.com/Elina Sazonova

Meski konsumsi alkohol secara moderat kadang dikaitkan dengan manfaat tertentu, minum berlebihan tetap saja berbahaya. Alkohol dapat merusak sel saraf secara langsung dan mengganggu komunikasi antar neuron, sehingga menurunkan kemampuan berpikir dan mengingat.

Pada kasus kronis, alkohol bisa menyebabkan penyusutan otak, gangguan memori, serta penurunan fungsi kognitif secara signifikan. Risiko ini meningkat jika konsumsi alkohol dilakukan dalam jangka panjang tanpa kontrol yang baik. 

7. Kurang Tidur

Kurang tidur/ Foto: Freepik.com/freepik

Saat tidur otak menjalankan proses pembersihan racun dan sisa metabolisme yang menumpuk sepanjang hari. Jika waktu tidur tidak tercukupi, racun ini akan menumpuk dan berpotensi merusak sel otak.

Kurang tidur turut menghambat proses pembentukan neuron baru yang penting untuk memori dan pembelajaran. Dalam jangka panjang, kualitas konsentrasi, suasana hati, serta kemampuan berpikir bisa ikut menurun.

8. Minim Stimulasi

Minim stimulasi/ Foto: Freepik.com/jcomp

Otak bekerja optimal ketika terus dilatih melalui aktivitas mental seperti membaca, belajar hal baru, berdiskusi, atau bermain puzzle. Stimulasi ini memperkuat koneksi saraf dan mendorong pertumbuhan sel otak baru.

Sebaliknya, gaya hidup pasif tanpa tantangan intelektual dapat menurunkan plastisitas otak. Kondisi ini dalam jangka panjang bisa meningkatkan risiko penurunan daya ingat dan kemampuan berpikir. Selain aktivitas mental, interaksi sosial juga berperan besar dalam menjaga otak tetap aktif dan sehat. 

Itulah sejumlah kebiasaan harian yang bisa merusak sel otak. Dengan mengenali kebiasaan-kebiasaan ini, kamu bisa mulai melakukan perubahan kecil untuk menjaga kesehatan otak tetap optimal. Ingat, otak yang sehat bukan hanya menunjang produktivitas, tetapi juga kualitas hidup kamu dalam jangka panjang, Beauties! 

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke komunitas pembaca Beautynesia B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE