sign up SIGN UP

BOLD MY LIPS

Monica Francesca: Ingat, Penganiayaan dalam Kasus Kekerasan Bukanlah Kesalahanmu sebagai Korban!

Fina Prichilia | Beautynesia
Jumat, 05 Nov 2021 15:00 WIB
Monica Francesca: Ingat, Penganiayaan dalam Kasus Kekerasan Bukanlah Kesalahanmu sebagai Korban!
caption
Jakarta -

Kasus kekerasan, baik itu pada tingkat hubungan pacaran hingga pernikahan masih terus dilaporkan banyak terjadi. Hal ini, padahal bisa menimbulkan efek trauma ke depannya bagi korban.

Menanggapi hal ini, Beautynesia lewat #BoldMyLips ingin mengajak kamu buat lebih aware, Beauties. Influencer Monica Francesca punya pandangan terkait ini. Simak, yuk!

Lebih Banyak Perempuan yang Mengalami

"Walaupun kekerasan bisa terjadi ke semua orang, lebih banyak perempuan yang mengalaminya. Gender-based violence (GBV) kekerasan terhadap perempuan adalah 'global pandemic' that affects 1 in 3 women in their lifetime," katanya.

Khusus di Indonesia, menurut Monica, masih banyak perempuan yang mengalami tetapi di saat yang bersamaan masih banyak juga orang kita yang menganggap sesuatu yang tabu.

[Gambas:Instagram]


"Dikarenakan beberapa Indonesian culture yang bisa dibilang 'toxic'. Norma-norma sosial di Indonesia yang mendukung GBV termasuk kemurnian seksual perempuan (purity), melindungi kehormatan keluarga atas keselamatan perempuan, dan wewenang laki-laki untuk mendisiplinkan perempuan dan anak-anak,"

Ia melanjutkan, kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan memiliki banyak bentuk yang berbeda, termasuk kekerasan dalam rumah tangga, penyerangan dan pelecehan seksual, anak, pernikahan dini dan paksa, perdagangan seks.

Hal ini dapat berakar pada ketidaksetaraan gender yang dihadapi perempuan sepanjang hidup mereka dari masa kecil hingga usia tua. Belum lagi karena efek lagi pandemi yang mengharuskan semua orang harus di rumah dulu. Itu membuat korban terpaksa mesti serumah dengan pelaku kekerasan.

"Karena pandemi COVID-19 dan lockdown, ribuan orang 'stuck' di rumah with their abusers. Mereka tidak punya tempat untuk bersembunyi dan tidak bisa lagi melarikan diri dari situasi mereka (pergi bekerja, sekolah atau gym)."

Ingat, Kamu Tidak Sendirian

[Gambas:Instagram]



Nggak mudah untuk membicarakan hal ini bagi penyintas, memang dapat dimaklumi. Pasalnya, belum tentu respon yang didapat setelah speak up dapat memuaskan, atau malah semakin membuatnya trauma. Tapi dengan memendam juga bukan hal yang tepat, Beauties.

"Kamu tidak sendirian dan tidak ada seorangpun yang pantas untuk disakiti. Penganiayaan bukanlah kesalahanmu sebagai korban. Do not be ashamed or afraid. Speak up. Jangan pendam kesulitan atau kesusahan ke diri sendiri. Seek help bisa dimulai dari cerita ke orang terdekat kamu yang bisa dipercaya atau professional help," saran Monica

"Karena jika kamu takut, semakin lama situasi akan bisa semakin parah and this will affect you not just physically but mentally as well. Ketika kita takut untuk membahas kekerasan dalam rumah tangga, dan memperlakukannya seperti masalah yang sangat serius, akan lebih sulit untuk korban yang dilecehkan untuk benar-benar melarikan diri dan mendapatkan bantuan,"

"By exposing sexual violence, perpetrators who tend to attack multiple victims no longer have the benefit of hiding within the shadows. You have the right to integrity over your own body. Others might be able to follow your example. We must break the taboo and speak out. Speaking up can be an empowering first step towards healing," sambungnya.

Putus Rantai Kekerasan

Masih ada harapan agar kasus kekerasan terus menurun, Beauties. Di antaranya diperlukan kerja sama dari berbagai pihak-pihak.

"Kekerasan terhadap perempuan dapat dicegah. Kita perlu mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang epidemi sosial yang menjangkiti komunitas kita dan para penyintas yang berbicara dapat membantu kita melakukannya," kata Monica.

Monica FrancescaMonica Francesca/ Foto: Istimewa

"Sektor kesehatan juga memiliki peran penting untuk memberikan perawatan kesehatan yang komprehensif kepada perempuan korban kekerasan, dan juga sebagai entry point untuk men-refer perempuan to other support services yang diperlukan. Lindungi perempuan dari gender-based violence dengan menyediakan layanan medis untuk kesehatan seksual dan reproduksi selama pandemi."

Dirinya mengungkap, merasa bangga sebagai perempuan Indonesia karena sekarang mulai banyak perempuan Indonesia yang support women empowerment dan gerakan feminis.

Pertumbuhan gerakan feminis Indonesia baru-baru ini sebagian besar dari kesuksesan aktivisme online dalam mengarusutamakan gender dan narasi feminis, dan merupakan tanda kemajuan yang menjanjikan dalam mencapai kesetaraan gender di Indonesia. Banyak feminis muda dan non-profit organization yang menggunakan media sosial (seperti Instagram, Twitter, dan Facebook) sebagai media utama untuk mendidik, melibatkan, dan memobilisasi followers mereka.

------------------

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia B-Nation! Caranya DAFTAR DI SINI!


Our Sister Site

mommyasia.id