Puasa Hampir 20 Jam, Ini 4 Cara Umat Muslim di Skandinavia Tetap Energik Sampai Buka

Aqida Widya Kusmutiarani | Beautynesia
Kamis, 26 Feb 2026 06:00 WIB
Puasa Hampir 20 Jam, Ini 4 Cara Umat Muslim di Skandinavia Tetap Energik Sampai Buka
Cara Muslim di Scandinavia menjaga stamina dan fokus meski harus menahan lapar hingga 21 jam/Foto: freepik.com/Freepik

Di Indonesia, umat Muslim berpuasa dengan rata-rata 13 jam dalam satu hari, tapi bagaimana kalau kita harus menahan lapar dan haus sampai 18-21 jam? Itulah yang dialami umat Muslim yang tinggal di kawasan Skandinavia, seperti Norwegia, Denmark, dan Finlandia saat Ramadan jatuh di musim panas.

Di beberapa wilayah dekat Kutub Utara, ada fenomena midnight sun bikin matahari hampir nggak terbenam yang terjadi pada musim panas sekitar bulan Juni atau Juli. Di kota seperti Tromsø bahkan matahari bisa bersinar hampir 24 jam penuh. Artinya? Waktu puasa bisa tembus 20 jam lebih.

Meskipun terdengar ekstrem, Muslim di sana punya cara tersendiri supaya tetap kuat dan nggak tumbang. Yuk, intip strategi mereka menghadapi puasa yang panjang!

Jangan Pernah Melewatkan Sahur

Dengan waktu puasa yang bisa tembus hampir 20 jam, sahur bukan hanya sekadar sunnah, tapi jadi kunci utama untuk bertahan. Tanpa sahur, tubuh hanya punya satu kesempatan makan dan minum sebelum harus menahan lapar dan haus hampir seharian penuh. Itu artinya risiko lemas dan dehidrasi jadi jauh lebih besar. Oleh karena itu, ketika berpuasa di Skandinavia, waktu sahur benar-benar berharga untuk memastikan asupan makanan cukup dan cairan terpenuhi sebelum fajar tiba.

Maksimalkan Asupan Cairan Saat Malam

Atur strategi minum air agar tubuh tidak dehidrasi/Foto: freepik.com/Freepik

Masalah terbesar puasa hampir 20 jam bukan hanya lapar, tapi dehidrasi. Dengan durasi siang yang sangat panjang, tubuh kehilangan cairan lebih lama, sementara waktu untuk menggantinya relatif singkat.

Berhubung jeda antara berbuka dan imsak hanya beberapa jam, dibutuhkan strategi minum air yang tepat. Bukan langsung minum banyak sekaligus, tapi dibagi bertahap dari waktu berbuka sampai menjelang sahur.

Biasanya dimulai dengan minum air saat azan Magrib, lalu ditambah lagi setelah makan malam, setelah salat, dan sebelum tidur. Saat sahur pun, cairan kembali dimaksimalkan supaya tubuh punya cadangan yang cukup untuk menghadapi hampir 20 jam tanpa minum.

Mengalihkan Rasa Lelah dengan Tetap Sibuk

Alihkan rasa lelah, lapar, dan haus dengan tetap sibuk/Foto: freepik.com/senivpetro

Puasa panjang biasanya mulai terasa berat menjelang sore hingga awal malam. Biasanya, energi mulai menurun sekitar pukul 6-7 malam, padahal waktu berbuka masih cukup lama.

Di momen seperti itu, kuncinya nggak hanya menahan lapar, tapi juga mengalihkan fokus. Strateginya simpel, yaitu cari distraksi. Bisa dengan menyelesaikan pekerjaan ringan, membaca, jalan santai sebentar, atau melakukan aktivitas yang bikin pikiran tetap aktif. 

Power Nap Jadi Penyelamat

Puasa 20 jam bikin kurang tidur, jadi power nap bantu pulihkan energi hingga berbuka/Foto: freepik.com/Freepik

Puasa hampir 20 jam bikin tantangan nggak hanya soal lapar dan haus, tapi juga kurang tidur. Malam hari diisi untuk sahur, salat, dan tarawih, sedangkan pagi sudah harus kembali kerja atau sekolah.

Oleh karena itu, tidur siang singkat jadi solusi andalan. Meskipun hanya 20-30 menit, power nap cukup membantu memulihkan energi agar tetap kuat sampai waktu berbuka.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE